Catatan Untuk Paman
Telah kusantap ia, semasih tergoncang di gerbong empat, pada subuh yang ngilu.
Kemudian hari berputar secepat badai, kertas-kertas memeras peluh.
Ketika kukatakan tenggat adalah ajal, kejar-mengejar antara kepala dan kaki.
Pukul delapan malam aku ambruk di semangkok soto.
Lalu ambruk lagi padanya, beronceng kata yang tadi subuh telah kusantap.
Lalu aku senang di antara lemas yang meremas tubuh.
Lalu aku bertambah senang lagi, karena ia ditujukan padaku.
Entah untuk mengganti sesiapa,
Malam ini kunobatkan diriku sebagai paman.
***
Kafe Betawi, 28 November 2011.
Ide Cerita
Betapa sering saya ditanya, Bagaimana menjaring ide cerita? Mungkin sesering itu pulalah ide-ide bermunculan di kepala saya.
Terus terang, dalam menulis, saya tidak pernah kering ide. Ada saja hal yang menggelitik untuk dijadikan cerita. Beruntungkah saya? Tidak juga. Itu hal biasa yang tidak perlu dibesar-besarkan.
Justru, orang yang dapat segera mengeksekusi ide menjadi sebuah cerita adalah orang yang paling beruntung. Inilah masalah pentingnya. Ide, bukan sekedar mudah-susah menjaringnya melainkan bagaimana ide itu akan menjadi jiwa yang selanjutnya menghidupkan rangkaian cerita dalam sebuah tulisan.
Menurut saya, ide itu ada di mana-mana. Tidak perlu dicari-cari dengan segenap kekuatan pikiran. Ide itu dekat dengan kelima indera, dan kadang sudah tersedia dalam ‘rasa’ yang kita punyai. Read more »
Negeri Debu
Melayang! Melayang!
Ini negeri debu
Yang tak melayang
Tak disayang
Melayang! Melayang!
Ini negeri debu
Anak-istri bebas terbang
Jangan cari Bapak hilang
Melayang! Melayang!
Ini negeri debu
Mengabu nasi rakyat
Terbilang nasib sudah duluan
Bromo, September 2011
Dituliskan dari Kotak Ajaibku.
“Dua Belas” ~ Antologi Cerpen
Suatu sore, Kamis, 24 Agustus 2011, dua buku datang dari nulisbuku.com. Salah satunya, “Dua Belas”, yang akan kubahas di sini.
Tadinya aku berpikir buku ini karya solo @ninaniena, tapi ternyata ini antologi cerpen 12 orang penulis. Wow, 12 cerita dari 12 peramu kata! Penasaran. Apalagi beberapa penulisnya kukenal. Sore itu, buku ini langsung menyodok antrian paling pertama dari puluhan buku yang belum terbaca.
Mungkin salah satu faktor yang membuat buku ini mencuri perhatian adalah sampulnya yang sedap dipandang. Selain itu, menulis keroyokan dengan satu tema tentunya menyimpan keseruan dalam prosesnya dan aku tidak sabar meluruh dalam keseruan itu.
Aku suka tata letak buku ini. Awal cerita dibuka dengan kutipan-kutipan yang menggelitik. Setelah cerita, profil penulis menjadi penutupnya, lengkap dengan foto yang menurutku “diniatkan” khusus untuk buku ini. Di halaman akhir, ada trivia yang mengungkap isi dapur serunya proses penerbitan. Dan, oh ada @theonlykika di halaman pembuka “Jejak Pembaca Pertama”! Aku gak mau kalah juga menjejak di blog ini walau sebagai pembaca kesekian.
Yang pertama aku baca adalah karya @ninien. Kenapa? Karena baru ketemu di Surabaya sepekan sebelumnya dan seru celotehnya seperti memperkosa penasaranku untuk memperkosa balik ceritanya. Selanjutnya aku kembali membaca dari penulis pertama, kedua, dan loncat sana-sini sesuai judul yang menurutku paling “merayu” mata dan benak. Tinjauan ini disusun berdasarkan urutan yang aku baca.
Mari kita mulai.. Read more »
Duatiga (Kepada @FanyAngelaRock)
Telah kubayangkan sepotong senja
Mempertemukan dua cangkir latte
Kau dengan bibirmu, aku dengan bibirku
Menyesap latte, memainkan senyum
Hingga senja karam dalam cerita
Tiba-tiba datang duatigamu
Senja belum apa-apa
Pertemuan terganjal aba-aba
Hari ini duatigamu
Bertumpuk bahagiamu
Bertandang doa satu-satu
Banyak cinta untuk duatigamu
***
Selamat ulang tahun adik manis,
Bertambah usia, bertambahlah bahagia!
Dituliskan dari Kotak Ajaibku.
Sunyi
Malam ini kita berbagi sunyi
Entah kau mendapatkan sunyi yang mana
Entah pula sunyiku
Jika sunyi serupa bata, kita mungkin telah membangun tembok
Dinding-dinding yang nestapa
Membelah kotamu dan kotaku
Lalu suatu saat kita akan terperanjat
Dinding itu nyaris menusuk langit
***
Jakarta, 7 Agustus 2011
Dituliskan dari Kotak Ajaibku.
Telah Tiba Kenangan
(Kepada Binda)
Kenangan itu telah tiba padaku
Bagai hembus angin,
Ia mengetuk semua pintu di hatiku.
Kenangan itu telah tiba padaku
Bagai buku cerita,
Ia membacakannya sendiri untuk hatiku.
Ingatkah dulu?
Tiada harimu tanpa gemuruh cintaku
Dan kau membalasnya dengan rindu
Kenangan itu telah tiba padaku
Bagai desah lagu
Ia mendendangkan bait-bait nada di hatiku
Tahukah kamu?
Kenangan itu selalu datang berlari-lari
Untuk kembali hilang berkali-kali..
***
17 Juli 2011
Dituliskan dari Kotak Ajaibku.
Bulan Patah Senyum
Sekali lagi kukatakan padamu
Semua janjimu telah kusimpan di bulan
Lihatlah senyum bulan untuk kita
Melengkung sabit nan elok
Kuteruskan menyimpan
Dan kau terus berjanji
Sekali lagi kukatakan padamu
Setumpuk janji masih tersimpan di bulan
Lihatlah senyum bulan untuk kita
Melengkung kemuning nan sempurna
Kuteruskan berbisik
Dan kau tiada mengingat
Untuk bertumpuk janji yang teringkar
Bulan patah senyum
Tepat di atas ubun-ubunku
***
Dituliskan dari Kotak Ajaibku.
Selamat Pagi Semarang!
Pagi telah terbuka di jendela
Angin dingin meraba-raba
Kicau burung tersesat di simpang lima
Gelap masih menggantung rata
Mata kota membuka kelopaknya
Selamat pagi Semarang!
***
Simpang Lima Residence, 308
Dituliskan dari Kotak Ajaibku.
Pagi Berduri
Lihatlah pada nganga jendela
Tuan-tuan telah menyayat nyenyak kami
Pagi telah datang menumpukkan lapar
Sesak sudah rumah kami
Kardus-kardus bekas perabot tuan-tuan
Sekiranya bisa meminta
Melambatlah, duhai malam
Lapar kami belum selesai
Pagi yang kami takuti
Penuh duri menusuk tulang
Beri sampahmu, tuan-tuan
Di situlah sarapan kami
Demi lapar yang tak pernah usai
Pada setiap pagi yang berduri

kesan penumpang