Perahukayu's Blog

"Come sail with me.."

  • geladak

Catatan Untuk Paman

Posted by Oddie on 28 November 2011
Posted in: Puisi. 2 comments

Telah kusantap ia, semasih tergoncang di gerbong empat, pada subuh yang ngilu.
Kemudian hari berputar secepat badai, kertas-kertas memeras peluh.
Ketika kukatakan tenggat adalah ajal, kejar-mengejar antara kepala dan kaki.
Pukul delapan malam aku ambruk di semangkok soto.
Lalu ambruk lagi padanya, beronceng kata yang tadi subuh telah kusantap.
Lalu aku senang di antara lemas yang meremas tubuh.
Lalu aku bertambah senang lagi, karena ia ditujukan padaku.
Entah untuk mengganti sesiapa,
Malam ini kunobatkan diriku sebagai paman.

***
Kafe Betawi, 28 November 2011.

Ide Cerita

Posted by Oddie on 18 October 2011
Posted in: Coretan Akhir Pekan (CAP). 2 comments

Betapa sering saya ditanya, Bagaimana menjaring ide cerita? Mungkin sesering itu pulalah ide-ide bermunculan di kepala saya.

Terus terang, dalam menulis, saya tidak pernah kering ide. Ada saja hal yang menggelitik untuk dijadikan cerita. Beruntungkah saya? Tidak juga. Itu hal biasa yang tidak perlu dibesar-besarkan.

Justru, orang yang dapat segera mengeksekusi ide menjadi sebuah cerita adalah orang yang paling beruntung. Inilah masalah pentingnya. Ide, bukan sekedar mudah-susah menjaringnya melainkan bagaimana ide itu akan menjadi jiwa yang selanjutnya menghidupkan rangkaian cerita dalam sebuah tulisan.

Menurut saya, ide itu ada di mana-mana. Tidak perlu dicari-cari dengan segenap kekuatan pikiran. Ide itu dekat dengan kelima indera, dan kadang sudah tersedia dalam ‘rasa’ yang kita punyai.

Ide kadang datang begitu saja dalam situasi tak terduga. Tapi pengalaman saya, ide itu dapat saja dibuat, atau dipaksa. Rajin membaca dan peka pada keadaan sekeliling adalah cara bagaimana ide itu muncul.

Beberapa minggu terakhir, saya seperti disergap belasan ide untuk cerita. Saat ini saya sedang mengerjakan sebuah novel, tapi tetap saja ide-ide lain berloncatan di kepala. Saya sampai kerepotan harus segera mencatat agar ide-ide itu tidak segera lenyap.

Sambil menyelesaikan novel, saya terbiasa selingkuh dulu membuat catatan-catatan tambahan untuk ide lain yang baru muncul. Kelak catatan-catatan itu akan dipanjangkan menjadi sebuah cerita. Karena sedang fokus menyelesaikan novel, ide itu akan saya takdirkan sebagai cerpen atau sajak saja supaya tetap berfokus pada novel yang memerlukan konsentrasi dan napas super panjang.

Contohnya, ketika membaca berita pelecehan wanita, tiba-tiba muncul ide tentang negeri miskin wanita. Negeri yang sudah puluhan tahun tanpa kelahiran bayi perempuan.

Contoh lain muncul ketika saya melihat sebuah botol yang unik. Saya membayangkan dalam botol itu ada jin. Saking lamanya terperangkap dalam di dalamnya, sang jin kemudian jatuh cinta pada botol itu. Botol itu terlihat cantik dengan bentuk lekuk siluet tubuhnya. Terang saja karena botol bekas parfum wanita.

Nah, ada saja idenya, kan? Bagi saya, hidup dan segala isinya adalah sumber ide. Hidup itu sendiri adalah rangkaian cerita dari jutaan ide. Kita tinggal cerdik memancingnya dengan panca indera dan rasa. Awas disergap ide! :)

Dituliskan dari Kotak Ajaibku.

 

Negeri Debu

Posted by Oddie on 29 September 2011
Posted in: Puisi. Leave a Comment

Melayang! Melayang!
Ini negeri debu
Yang tak melayang
Tak disayang

Melayang! Melayang!
Ini negeri debu
Anak-istri bebas terbang
Jangan cari Bapak hilang

Melayang! Melayang!
Ini negeri debu
Mengabu nasi rakyat
Terbilang nasib sudah duluan

Bromo, September 2011

Dituliskan dari Kotak Ajaibku.

 

“Dua Belas” ~ Antologi Cerpen

Posted by Oddie on 26 August 2011
Posted in: Tinjauan Buku. 4 comments

Suatu sore, Kamis, 24 Agustus 2011, dua buku datang dari nulisbuku.com. Salah satunya, “Dua Belas”, yang akan kubahas di sini.

Tadinya aku berpikir buku ini karya solo @ninaniena, tapi ternyata ini antologi cerpen 12 orang penulis. Wow, 12 cerita dari 12 peramu kata! Penasaran. Apalagi beberapa penulisnya kukenal. Sore itu, buku ini langsung menyodok antrian paling pertama dari puluhan buku yang belum terbaca.

Mungkin salah satu faktor yang membuat buku ini mencuri perhatian adalah sampulnya yang sedap dipandang. Selain itu, menulis keroyokan dengan satu tema tentunya menyimpan keseruan dalam prosesnya dan aku tidak sabar meluruh dalam keseruan itu.

Aku suka tata letak buku ini. Awal cerita dibuka dengan kutipan-kutipan yang menggelitik. Setelah cerita, profil penulis menjadi penutupnya, lengkap dengan foto yang menurutku  “diniatkan” khusus untuk buku ini. Di halaman akhir, ada trivia yang mengungkap isi dapur serunya proses penerbitan. Dan, oh ada @theonlykika di halaman pembuka “Jejak Pembaca Pertama”! Aku gak mau kalah juga menjejak di blog ini walau sebagai pembaca kesekian.

Yang pertama aku baca adalah karya @ninien. Kenapa? Karena baru ketemu di Surabaya sepekan sebelumnya dan seru celotehnya seperti memperkosa penasaranku untuk memperkosa balik ceritanya. Selanjutnya aku kembali membaca dari penulis pertama, kedua, dan loncat sana-sini sesuai judul yang menurutku paling “merayu” mata dan benak. Tinjauan ini disusun berdasarkan urutan yang aku baca.

Mari kita mulai..

1. “12 Pasang Sepatu: Proyek Masa Depan” ~ @ninien

Membaca cerita ini seperti terseret dalam lingkar konflik tokoh-tokohnya. Konflik yang runut diperkenalkan lewat dialog-dialog yang kaya. Ada dialog yang dibangun cerdas di halaman 116: “Noo..that 12 designs yang harus aku revisi karena perancangnya minta di…”  langsung diserobot dialog berikutnya: “So, saya jadi nomor 13 sekarang? …”  Menurutku ini asik karena memainkan angka untuk mempertegas konflik.

Kegilaan orang-orang sekitar dalam persiapan perkawinan tokoh utama tergambar jelas. Sayangnya, kepenatan Saras (tokoh utama) akibat kegilaan itu kurang tajam padahal di situlah sumber pergulatan konflik.

Penulis mungkin bermaksud menutup cerita dengan letup emosi tokoh utamanya. Tanpa disadari, dengan dialog datar pun meninggalkan getar di benak pembacanya.

2. “Kamar nomor 12” ~ @christpramudia

Jarang sekali kita menemukan cerita-cerita detektif. Cerita ini termasuk dalam jajaran yang jarang itu. Cerita ini mengingatkan kembali pada novel-novel petualangan detektif di era 80-an. Misalnya, Enid Blyton dengan “Lima Sekawan”-nya. Walaupun ini bukan cerita petualangan remaja dengan kisah detektifnya, namun semangat berteka-teki sangat terasa.

Ide cerita ini menarik sekali. Terinspirasi dari Alkitab, Kisah Raja-raja 12:12. Kalau saja eksplorasi latar belakang penyanderaan, kisah Alkitab, dan nama hotel ditambah, maka selaput teka-teki akan semakin seru. Bagian tokoh utama yang menjemput adiknya di bandara tidak perlu berpanjang-lebar. Kalau bisa dipenggal saja untuk memberikan porsi lebih banyak pada eksplorasi tadi.

Cerita disampaikan dengan runut waktu yang rapi. Drama penyaderaan diungkap menegangkan. Layaknya cerita detektif, cerita ini berhasil ditutup mengejutkan!

3. “12 Jari” ~ @doroii

Inilah cerita yang kubaca tiga kali! Pertama kali, jujur saja karena belum mengerti. Kedua, sedikit mengerti. Banyak sekali tokoh yang perlu dicerna cermat karakter dan perannya. Sebagai cerita pendek, tokohnya kebanyakan. Maksudnya, tokoh yang lain sebagai pelengkap konflik saja supaya tidak membuang waktu pencernaan pembaca.

Ketiga kali, belum juga mengerti sepenuhnya. Sebagai sesama penulis, aku memaklumkan diri untuk tidak perlu memahami bulat-bulat sebuah cerita. Kadang justru aku lebih penasaran dengan isi kepala saat penulis membuat sebuah cerita. Setiap penulis memiliki kecerdasan imajinasi yang berbeda. Inilah yang membuatku “geram” penasaran pada saat membaca cerita ini untuk ketiga kalinya.

Cerita ini menjadi salah satu yang paling kuat unsur fiksinya. Disampaikan dengan kalimat pendek-pendek, penulis seperti hendak menghentak-hentak benak pembacanya. Cerita ini seperti menyeruak rasa berbeda penuh tantangan. Cerdas!

4. “Selusin Coklat” ~ @fardania

Cerita ini semanis judulnya. Cewek banget! Terurai dengan jelas cerita bagaimana sang tokoh utama mencintai diam-diam. Sesuatu yang disukai banyak orang, seperti coklat. Indah rasanya menyimpan cinta yang bungkam dan berujung bahagia semanis coklat.

Kalau saja ditambahkan porsi pergulatan batin Cello (tokoh utama) dengan cinta bungkam-nya, mungkin akan memperkuat konflik yang terasa datar. Selain itu, perasaan Julio, sang pangeran idaman, perlu diungkap sehingga pembaca akan menikmati pergulatan dari dua hati dari fragmen yang berbeda.

Catatan lainnya: kenapa suaminya “hilang”? Ini yang tidak terungkap. Dialog-dialog terjebak terlalu casual  sehingga mengganggu manisnya cerita. Tapi yang berhasil adalah, penulis membuat pembaca ikut merasakan cinta diam-diam itu.

5. “12 Lelaki” ~ @lalapurwono

Cerita ini menggelitik sejak kutipan pembuka. Ada dua ide yang menarik. Yang pertama, cinta datang dari jempol yang terinjak. Sebenarnya ini klise saja seperti cerita di FTV tapi penulis mengurai kejadiannya dengan sempurna dan jauh dari picisan. Yang kedua, ramalan Eyang Putri tentang lelaki ke-12 sebagai jodoh untuk sang tokoh utama, Ve Nadya. Walaupun ide ini membuat aku deja vu dengan cerpen Dee Lestari tentang mengejar jodoh bernama Slamet, tapi penulis berhasil menyampaikan bahwa percaya atau tidak percaya, ramalan itu menyenangkan sekaligus mengejutkan.

Yang sedikit mengganggu adalah firasat pria ke-12 tentang pertemuan itu sendiri. Kalau saja firasat itu tidak ada, cerita akan semakin menakjubkan. Bayangkan saja jika si pria ke-12 itu menemukan jodohnya hanya berawal dari jempol yang terinjak? Dan yang menginjak kakinya adalah seorang penulis terkenal tapi dia tidak tahu sama sekali?

Menarik sekali kalimat-kalimat dalam cerita ini. Untuk itu, penulis ini adalah juaranya dibanding untai kalimat pada cerita lainnya.

6. “12 Pas” ~ @ninaniena

Ini tentang perselingkuhan yang sering muncul dalam cerita seputar persahabatan. Temanya sudah umum, tapi penulis cerdik mengurainya secara berbeda. Sesuai dengan judulnya, ada 12 momen yang menghias rahasia perselingkuhan itu.

Konflik tergambar jelas, mengejutkan, tapi ada yang mengganjal. Tidak diungkap lebih detil lagi alasan Kendra, lelaki yang menjadi suami dua wanita bersahabat, naik pitam dan kemudian meninggalkan tokoh utama untuk kembali ke istri pertamanya.

Alur cerita mudah diikuti. Beberapa selipan puisi berhasil menggambarkan situasi dan pergulatan batin. Apapun alasannya, perselingkuhan hanya akan merusak segalanya. Jika ini salah satu pesan yang disampaikan maka ini adalah keberhasilan lainnya dari penulis selain 12 rahasia itu.

7. “12 Jam Mencintaimu” ~ @hildabika

Suka sekali dengan judul ini, penuh tanda tanya. Bagaimana mungkin urusan mencintai memiliki durasi? Beruntunglah penulis mendapatkan judul ini.

Cerita ini dimulai dengan baik. Cinta pada pandangan pertama memulai kisah 12 jam perkenalan tokoh utama dengan seorang pria saat berlibur di Bangkok. Cerita ini sangat klise dan perlu sisi cerdik untuk menulisnya dengan rasa berbeda. Pada cerita ini tidak ditemukan hal itu. Cerita seperti terburu-buru (apa karena cuma 12 jam, ya?).

Padahal, penulis berhasil memanfaatkan setting lokasi dan bercerita dengan baik. Beberapa bagian terbuang percuma. Jika saja pergerakan dari satu lokasi ke lokasi wisata lainnya diisi dengan pergulatan batin sang tokoh utama maka konflik akan menjadi drama rasa yang menarik. Sebenarnya penulis sudah berhasil membawa cerita ini tidak tumpah-ruah ke plot yang rumit. Dari gaya bercerita, kelihatannya kekuatan penulis tidak termanfaatkan dengan maksimal.

8. “Bulan ke-12” ~ @netkirei

Apa yang kau bayangkan jika sebuah pertemuan cinta di negeri yang jauh ternyata telah diatur oleh ibumu? Apa yang kau bayangkan jika ibumu jauh lebih mencintai calon pasanganmu dibading dirimu sendiri? Bayangkan saja sambil membaca cerita ini.

Lagi, ide yang menarik! Sayangnya, walau alur cerita cukup rapi tapi tidak untuk kalimat dan dialog. Padahal beberapa kalimat sangat puitis, misalnya di halaman 89: “Mungkinkah dingin tadi hanya manifestasi dari kesendirian?”  Dahsyat, kan?

Beberapa hal jika dieksplor lebih banyak, mungkin ide cerita akan berkembang biak lebih menarik. Contohnya, kenapa pertemuan harus di bulan ke-12, pukul 12 siang, dan tanggal 12? Kenapa harus di Trafalgar Square (di buku tertulis “sqare”) London?

Ide tentang kertas-kertas pesan yang muncul di setiap tanggal 12 sungguh sangat menarik. Kalau saja setelah pernikahan baru terkuak siapa penulisnya, rasanya cerita ini akan memiliki penutup yang aduhai.

9. “12 Hari Yang Lalu” ~ @rereazizah

Cerita ini dibuka dengan kondisi tokoh utama yang terbaring koma di rumah sakit. Tepat sekali penulis tidak perlu berpanjang-lebar menjelaskan kejadian kecelakaan penyebab koma. Selanjutnya, cerita mengalir rapi dengan kalimat-kalimat yang tersusun dengan baik.

Ada yang sedikit mengganggu. Tidak dilukis secara dramatis kondisi wajah sang tokoh utama akibat kecelakaan dan apa tanggapan orang sekitar yang terdengar saat koma. Eksplorasi pergulatan batin saat terbaring koma menjadi penting dilebihkan untuk mengangkat konflik di tengah cerita agar lebih dramatis.

Memasuki bagian penutup cerita, penulis mengeksekusinya dengan sempurna. Pembaca  dituntun menduga-duga dengan permainan kalimat yang cantik. Seperti diduga, bagian akhir meledak bersama benak pembaca. Bravo!

10. “Maaf, Cuma 12” ~ @rizkantique

Ini salah satu judul yang menggoda. Dari awal hingga pertengahan, cerita mengalir datar. Padahal, judul telah memancing tanya: Apa yang 12 itu? Kenapa hanya 12? Berapa seharusnya? Jawaban ini disimpan terlalu lama padahal rasa penasaran pembaca sudah tertangkap sejak awal.

Cerita ini menyuguhkan kalimat yang panjang-panjang. Beberapa malah membuat maknanya keteteran. Penyambungan kalimat masih kurang pas penyusunannya sehingga mengganggu alir cerita.

Cerdiknya, penulis menyimpan dua “bom” di ujung cerita. Yang pertama tentang “12”, dan yang kedua tentang tokoh Athira yang sebenarnya telah mati. Bom kedua ini terasa klise karena dieksekusi biasa saja. Seharusnya bom yang pertama hadir kembali untuk mengembalikan tema dan mempercantik konflik.

11. “Hujan di Hari ke-12” ~ @WahyuSN

Membaca judul ini, tadinya aku berpikir hanya akan menemukan cerita biasa tentang hujan yang selalu menjadi korban dramatisasi dan romantisasi penulis. Tapi ternyata bukan sekedar itu. Pemaparan cerita disajikan baik dengan diksi-diksi yang tepat.

Cerita ini tentang kerinduan seorang ibu pada anaknya yang meninggal 12 hari sebelumnya. Ide cerita memang sederhana tetapi dieksekusi dengan sempurna. Siapa bilang ide biasa saja dan sudah umum menjadi kurang menarik untuk diangkat lagi? Penulis membuktikan tema sederhana itu menjadi luar biasa dengan kalimat-kalimat yang rapi mengalir seperti hujan tanpa badai.

Yang sedikit mengganggu adalah sosok yang tiba-tiba muncul di kamar anaknya. Agak sulit menyuntikkan imajinasi bahwa sosok tinggi besar hingga memenuhi pintu itu adalah kemunculan mendiang anaknya.

12. “12 Nyawa” ~ @WangiMS

Mungkin ini kebetulan yang betul-betul mencengangkan. Cerita terakhir ini-seperti judulnya-memberikan nyawa ke-12, atau ‘nyawa’ pamungkas dari selusin cerita. Cerita terakhir ini juga sangat kental adonan fiksinya.

Cerita disusun rapi mengalir dalam 12 bingkai. Masing-masing membungkus paparan nyawa yang termatikan oleh situasi yang berbeda-beda. Bayangkan, dalam cerita ini pembaca dipermainkan, dipaksa menebak-nebak, siapa, makhluk apa, dan bagaimana bentuk sang tokoh utama. Sungguh cerdas!

Memang melelahkan jika benak dipermainkan di hampir seluruh bagian cerita. Untung saja ditutup dengan manis, dan mungkin benak pembaca akan menjerit: Aih!

******

Secara keseluruhan, masing-masing cerita menyuguhkan tingkat kematangan bercerita dan bermain kata yang berbeda. Tidak penting membuat rating mana yang terbaik karena ini bukan kontes. Secara keseluruhan pula, masing-masing penulis terlihat bersungguh-sungguh menjawab tantangan tema yang diberikan. Lihat saja bermunculan ide-ide yang menarik, di luar jangkauan imajinasi yang biasa.

Dari selusin cerita, yang paling mencuri perhatianku adalah:

  1. “12 Nyawa” ~ @WangiMS
  2. “12 Jari” ~ @doroii
  3. “12 Lelaki” ~ @lalapurwono
  4. “Hujan di Hari ke-12” ~ @WahyuSN

Tapi percayalah, setiap cerita memiliki takdirnya sendiri. Mungkin pembaca lain punya tanggapan dan pilihan favorit yang berbeda. Kalau penasaran, baca saja sendiri bukunya. Bisa pesan di nulisbuku.com, atau hubungi twitter @ninaniena dan @ninien, atau bisa juga ke penulis lainnya.

Terima kasih untuk Mbak @ninaniena, sahabatku, yang telah menghadiahkan buku ini selain sekotak brownies buatannya sendiri yang ciamik rasanya! :)

Jakarta, 26 Agustus 2011

Duatiga (Kepada @FanyAngelaRock)

Posted by Oddie on 8 August 2011
Posted in: Puisi. Leave a Comment

Telah kubayangkan sepotong senja
Mempertemukan dua cangkir latte
Kau dengan bibirmu, aku dengan bibirku
Menyesap latte, memainkan senyum
Hingga senja karam dalam cerita

Tiba-tiba datang duatigamu
Senja belum apa-apa
Pertemuan terganjal aba-aba

Hari ini duatigamu
Bertumpuk bahagiamu
Bertandang doa satu-satu
Banyak cinta untuk duatigamu

***

Selamat ulang tahun adik manis,
Bertambah usia, bertambahlah bahagia!

Dituliskan dari Kotak Ajaibku.

Sunyi

Posted by Oddie on 8 August 2011
Posted in: Puisi. Leave a Comment

Malam ini kita berbagi sunyi
Entah kau mendapatkan sunyi yang mana
Entah pula sunyiku
Jika sunyi serupa bata, kita mungkin telah membangun tembok
Dinding-dinding yang nestapa
Membelah kotamu dan kotaku
Lalu suatu saat kita akan terperanjat
Dinding itu nyaris menusuk langit

***
Jakarta, 7 Agustus 2011

Dituliskan dari Kotak Ajaibku.

Telah Tiba Kenangan

Posted by Oddie on 5 August 2011
Posted in: Puisi. 2 comments

(Kepada Binda)

Kenangan itu telah tiba padaku
Bagai hembus angin,
Ia mengetuk semua pintu di hatiku.

Kenangan itu telah tiba padaku
Bagai buku cerita,
Ia membacakannya sendiri untuk hatiku.

Ingatkah dulu?
Tiada harimu tanpa gemuruh cintaku
Dan kau membalasnya dengan rindu

Kenangan itu telah tiba padaku
Bagai desah lagu
Ia mendendangkan bait-bait nada di hatiku

Tahukah kamu?
Kenangan itu selalu datang berlari-lari
Untuk kembali hilang berkali-kali..

***
17 Juli 2011

Dituliskan dari Kotak Ajaibku.

Bulan Patah Senyum

Posted by Oddie on 5 August 2011
Posted in: Puisi. Leave a Comment

Sekali lagi kukatakan padamu
Semua janjimu telah kusimpan di bulan
Lihatlah senyum bulan untuk kita
Melengkung sabit nan elok
Kuteruskan menyimpan
Dan kau terus berjanji

Sekali lagi kukatakan padamu
Setumpuk janji masih tersimpan di bulan
Lihatlah senyum bulan untuk kita
Melengkung kemuning nan sempurna
Kuteruskan berbisik
Dan kau tiada mengingat

Untuk bertumpuk janji yang teringkar
Bulan patah senyum
Tepat di atas ubun-ubunku

***

Dituliskan dari Kotak Ajaibku.

Selamat Pagi Semarang!

Posted by Oddie on 29 July 2011
Posted in: Puisi. Leave a Comment

Pagi telah terbuka di jendela
Angin dingin meraba-raba
Kicau burung tersesat di simpang lima
Gelap masih menggantung rata
Mata kota membuka kelopaknya
Selamat pagi Semarang!

***
Simpang Lima Residence, 308

Dituliskan dari Kotak Ajaibku.

Pagi Berduri

Posted by Oddie on 29 June 2011
Posted in: Puisi. Leave a Comment

Lihatlah pada nganga jendela
Tuan-tuan telah menyayat nyenyak kami
Pagi telah datang menumpukkan lapar
Sesak sudah rumah kami
Kardus-kardus bekas perabot tuan-tuan
Sekiranya bisa meminta
Melambatlah, duhai malam
Lapar kami belum selesai
Pagi yang kami takuti
Penuh duri menusuk tulang
Beri sampahmu, tuan-tuan
Di situlah sarapan kami
Demi lapar yang tak pernah usai
Pada setiap pagi yang berduri

Posts navigation

← Older Entries
  • sang nakhoda

    • Oddie
  • pelabuhan terakhir

    • Catatan Untuk Paman
    • Ide Cerita
    • Negeri Debu
    • “Dua Belas” ~ Antologi Cerpen
    • Duatiga (Kepada @FanyAngelaRock)
    • Sunyi
    • Telah Tiba Kenangan
    • Bulan Patah Senyum
    • Selamat Pagi Semarang!
    • Pagi Berduri
  • pelabuhan-pelabuhan

    • Cerpen (12)
    • Coretan (39)
      • Coretan Akhir Pekan (CAP) (1)
      • Coretan Dodol (17)
      • Coretan Serius (12)
    • Movies (1)
    • Puisi (44)
    • Seri Komunikasi Media Sosial (2)
    • Tinjauan Buku (1)
    • Travel (44)
      • Cities (13)
      • Hotels & Culinaries (25)
      • I Love Airports (5)
    • Uncategorized (6)
  • Tags

    #Fiksimini Aceh Airports Bali Balikpapan Bandung Banjarmasin Bontang Coretan Funny Gunung Kabanjahe Lampung Makassar Malang Manado Medan Museum Onyo Palembang Pantai Pontianak Sabang Samarinda Samosir Semarang Soetta Sungai Surabaya Tenggarong Toba Yogya
  • Halaman

    • geladak
  • arsip pelayaran

  • pelabuhan tersibuk

    • Hotel Equator Bontang
    • Hotel Inna Dharma Deli Medan
    • Tip Top Ice Cream Yogyakarta
    • Selamat Pagi Dunia Maya
  • pelayaran bulanan

    • November 2011 (1)
    • October 2011 (1)
    • September 2011 (1)
    • August 2011 (5)
    • July 2011 (1)
    • June 2011 (1)
    • May 2011 (2)
    • February 2011 (1)
    • January 2011 (1)
    • December 2010 (5)
    • October 2010 (10)
    • August 2010 (16)
    • July 2010 (7)
    • June 2010 (5)
    • May 2010 (3)
    • April 2010 (9)
    • March 2010 (67)
  • data penumpang

    • 9,751 penumpang
  • kesan penumpang

    Oddie on Catatan Untuk Paman
    LostPhobia on Catatan Untuk Paman
    Oddie on Ide Cerita
    Ilham on Ide Cerita
    Ilham on “Dua Belas” ~ Anto…
    Oddie on “Dua Belas” ~ Anto…
    Project nulis ideali… on “Dua Belas” ~ Anto…
    kimsanada on “Dua Belas” ~ Anto…
    Oddie on Telah Tiba Kenangan
    CatatanDokter.Com on Telah Tiba Kenangan
  • Kicauan @Oddie__

    • @leidi_daniar Ya tanteee, masa gak boleh nonton yg sepantaran? ;p 7 hours ago
    • @IreneHedwiga Situ sensi, sini diare. Tapi selamat pagi mah harus :) 7 hours ago
    • @risyemarliana Aku joging bolak-balik toilet aja. Eh selamat pagi :) 7 hours ago
    • @embunbening_ Selamat pagi. Di sini pagi tak sebening embun :) 7 hours ago
    • @tasyamustika Lebih lucu lagi dadah2 gak pake 'h' ;p 7 hours ago
    • @matthewsevan @dhehusnan Lele itu siapa? Bowo itu siapa? *nontoninsert* 7 hours ago
    • Oh ini tho Princess. Nyanyi sambil dadah2 gitu. Lucuk. 7 hours ago
    • @matthewsevan Ampun, kak.. *cipok* 7 hours ago
  • penumpang on line

  • yang sering ikut berlayar

    • perahukayu.files.wordpres…
  • kalender pelayaran

    January 2012
    M T W T F S S
    « Nov    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Join 8 other followers

Blog at WordPress.com. Theme: Parament by Automattic. Fonts on this blog.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Powered by WordPress.com