Perahukayu

berlayar dengan cinta, berlabuh dengan rindu

Tenggelamnya (Janji Setia Bersama) Kapal Van der Wijk

vlcsnap-2014-01-04-06h10m59s19

Jika cinta telah datang, sebuah janji yang tersulit pun akan menggetarkan bibir dengan mudah.

Kalau sebuah janji terucap dari seorang cowok, maka tentu ini nggak aneh karena bibir cowok tersusun dari sel-sel gombal. Lha ini, terucap dari seorang cewek seperti Hayati (Pevita Pearce)! Cowok mana yang nggak akan berantakan jiwanya? Apalagi, Hayati adalah kembang dari Batipuh yang jadi pemuncak tujuan segala sayap kumbang. Dan kumbang yang berantakan jiwanya itu adalah Zainuddin (Herjunot Ali).

“Engkaulah Zainuddin, yang akan menjadi suamiku kelak. Bila tidak di dunia, kaulah suamiku di akhirat.”

Jederrr!

 vlcsnap-2014-01-04-06h09m12s233

5(lima) hal yang nggak asyik menurut saya dari film ini:

  1. Warna kebiruan pada frame dengan setting Batipuh. Saya nggak ngerti ini maksudnya apa. Yang pasti, mata saya nyaris kram karena nggak nyaman. Padahal, di sinilah momen “uwuwuw” ketika Zainuddin terperosok ke dalam kerling malu-malu Hayati.
  2. Seluruh adegan dengan setting Kapal Van der Wijck. Paling malesin saat penumpang “dadah-dadahan” ala Titanic. Saya nyaris tutup muka karena malu dengan hasil kerja yang nggak rapi itu. Padahal, saya cuma penonton, bukan yang bikin filmnya..
  3. Alasan tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang absurd. Tiba-tiba kapal langsung miring menumpahkan Hayati dan penumpang lainnya. Saya sih belum baca versi novelnya yang ditulis Buya Hamka ini. Tapi, lebay banget kan alasan tenggelamnya hanya karena ada Hayati yang hatinya sedang berat banget harus meninggalkan Zainuddin?
  4. Lagu latar yang terus diulang dan berisik. Kalaupun diulang, mbok ya versi instrumentalnya aja gitu.
  5. Gestur Muluk (Randy Danistha) yang bandel tapi masih kurang berangas. Tapi sebagai pendatang baru, Randy sudah okelah. Paling nggak asyik pada karakter Ida (saya nggak tahu siapa pemerannya), teman Hayati. Rasanya pemeran Ida ini sedang bermain sandiwara sekolah.

Nah, ini dia 5(lima) hal yang bikin saya nggak menyesal menonton film ini:

  1. Penampilan Herjunot Ali, Pevita Pearce dan Reza Rahadian yang ciamik. Reza tampil prima sebagai Aziz yang glamor dan parlente. Sementara untuk Herjunot dan Pevita, inilah penampilan terbaik mereka selama ini. Herjunot tampil konsisten dengan aksen Bugis yang kental. Kelihatan banget dia lompat kelas dari penampilannya di film ini. Khusus untuk Pevita, saya tidak menyangka dia akan sebagus ini penampilannya. Terlepas dari kekurangannya pada aksen yang kurang terjaga, Pevita sangat mengejutkan!
  2. Beberapa gambar diambil dengan sudut yang ‘niat’ banget untuk ukuran film lokal. Scene spektakuler banget ketika Aziz sedang ngebut dengan mobilnya. Diambil dari atas dan menyusur laju mobil di tengah padang. Rumah megah Zainuddin pun diekspos dengan apik, terutama ketika diambil dengan kamera jarak jauh.
  3. Setting Minangkabau di tahun 1930-an membuat dialog film ini sangat sastrawi bahasanya. Ini sesuatu yang beda. Semoga makin banyak novel klasik yang diangkat ke film supaya telinga penonton Indonesia makin terbiasa mendengar keindahan klasik bahasanya sendiri.
  4. Sekali lagi, saya memang belum membaca novelnya. Tadinya saya mengira ini cuma seputar cinta segitiga dan urusan kapal yang tenggelam. Ternyata, konflik cukup padat sepanjang cerita. Film jadi nggak membosankan.
  5. Film klasik dengan setting rumit seperti ini membuat pekerja film makin naik kelas dan penonton Indonesia makin pintar. Penonton Indonesia perlu film-film seperti ini. Salut atas hasil kerja sutradara Sunil Soraya dan timnya!

Dari lima dayung perahu, film ini layak dapat rating 3,5 dayung, deh! Bagaimana menurut kamu, Penumpang Perahu Kayu? Ayo, ke bioskop!

Enjoy Jakarta di Akhir 2013

Malam tahun baru di Jakarta? Di seputaran HI? Wah, tengkyu, bos! Ngapain mempersulit diri di tengah kerumunan? Jempol keinjek, sumpek, bau ketek, sampah di mana-mana… Tuh kan, banyak aja alasan yang sebenarnya cuma fantasi saya sendiri karena memang belum pernah mengalaminya!

Tapi tahun ini? Justru itu yang saya tunggu! Kebetulan saya memang nggak jadi ke mana-mana karena diborgol pekerjaan. Dalam sepuluh tahun terakhir, saya nyaris cuma 1-2 kali menghabiskan malam tahun baru di Jakarta. Itu pun saya alergi untuk ikut tumpah di pesta rakyat di mana pun, apalagi di seputaran HI! Beruntungnya lagi, pekerjaan mengharuskan saya ada di seputaran Sudirman. Asyik banget, tinggal setengah koprol, saya dengan mudah meluberkan diri dengan warga Jakarta yang lain.

Langit Jakarta yang Seksi!

SANYO DIGITAL CAMERA
Setelah sehari sebelumnya dikocok hujan seharian, langit Jakarta seksi banget di malam tahun baru! Maka jadilah ratusan kembang api amatiran meliuk-liuk di langit yang cerah. Hujan baru turun lagi sekitar pukul 3 dini hari.

Pesta Rakyat

SANYO DIGITAL CAMERASejak sore, kawasan Sudirman-Thamrin sudah bersih dari kendaraan. Saya berjalan santai dari Chaze Plaza ke arah HI. Daaaaan..saya mentok di halte Blora. Situasi sudah padat sekali. Sampai di titik ini sebenarnya saya sudah bahagia.

Sepanjang saya berjalan, sudah banyak hal yang saya temui dan benar-benar membuat hati riang tak terkira. Mulai dari hiburan sekelompok saksofonis di dekat halte Dukuh Atas, jejeran tenda kuliner, panggung wayang kulit, hingga dangdut koplo. Ini benar-benar pesta rakyat!

Geng Oranye
Hanya setengah jam setelah pukul 00.00, saya kembali pulang. Tiba-tiba saya melewati puluhan orang berseragam oranye. Ternyata mereka adalah geng petugas kebersihan. Bahkan dari arah Blok M, mobil-mobil kebersihan sudah konvoi ke arah HI, lengkap dengan lagu-lagu dan imbauan dari pengeras suara supaya warga nggak beringas dengan sampahnya sendiri. Dalam hitungan beberapa jam saja, mereka akan menyulap kawasan Sudirman-HI-Thamrin bebas dari berton-ton sampah seperti tahun-tahun sebelumnya. Bravo!

Enjoy Jakarta
Saya terheran-heran dengan berbagai jenis manusia yang datang. Saya pikir, pasti yang akan datang hanya muda-mudi seperti saya aja. Ehem.. Ternyata saya salah. Banyak yang sibuk menggandeng ortunya, para manula gaul. Banyak keluarga yang datang dengan pasukan lengkap: ayah-ibu-anak-kakek-nenek-baby sitter, dan tikar! Ada yang gaulnya terlalu nekat dengan kereta balita. Bahkan ada kategori lebay dengan anjing peliharaan! Busyiattt..

Enjoy Jakarta, Happy Joyous New Year 2014!

“Soekarno” – Dua Buah Cinta Segitiga, Bung!

soekarno-hatta

“Pemimpin yang baik, selalu muncul di saat yang tak terduga..”

Itulah kalimat dari Soekarno (Ario Bayu) saat menenangkan Hatta (Lukman Sardi) beberapa hari sebelum proklamasi. Hatta saat itu sedang galau, jika Indonesia merdeka, apakah mereka mampu memimpin bangsa yang sebesar Indonesia. Mungkin kegalauan Hatta itu terjadi pula saat ini. Pemilu 2014 sudah di depan mata, siapa pemimpin kita nanti? Dalam konteks sekarang, saya ingin memelintir kalimat Soekarno tadi. Saatnya sih nggak perlu lagi diduga, Pemilu sudah pasti di 2014. Tapi, siapa pemimpin yang akan kita tonjok fotonya pake paku di bilik suara? Aih, berat..

Duah Buah Cinta Segitiga

Saya menemukan dua buah cinta segitiga dalam “Soekarno”. Yang pertama, “cinta” segitiga pergerakan kemerdekaan antara Soekarno-Hatta-Sjahrir (Tanta Ginting). Film ini memang mengangkat kisah utama di era menjelang proklamasi. Sudah pasti segitiga yang pertama berputar di ketiga tokoh pergerakan yang cinta Indonesia itu tadi.

Sjahrir kala itu lebih dulu tahu kalau Jepang sudah kalah dalam perang dunia ke-2. Oleh karena itu, dia ingin proklamasi segera dilakukan. Sementara, Soekarno sedang berada di tengah rencananya dalam bernegosiasi dengan Jepang. Doi sedang menunggu saat yang tepat agar proklamasi dilakukan tanpa pertumpahan darah. Hatta selalu menjadi penengah antara Soekarno yang penuh strategi dan Sjahrir yang penuh gejolak itu.

Hubungan unik itu lagi-lagi tersaji dalam percakapan Soekarno dan Hatta. Ketika Jepang benar-benar mengembalikan kedaulatan Indonesia, Soekarno curhat sama Hatta, “Sjahrir pasti akan menertawakanku.” Hatta dengan bijak menjawab, “Tidak, Bung! Sjahrir sebenarnya menghormati Bung. Dia mengakui tidak sepandai Bung yang mudah merebut hati rakyat.” Ahhh..so sweet!

Segitiga cinta yang kedua, berputar di mana lagi kalau bukan di antara Soekarno-Inggit Garnasih (Maudi Koesnaedy)-Fatmawati (Tika Bravani). Aduh, ini segitiga cinta pergerakan hati. Soekarno yang sedang mabuk kepayang pada Fatmawati didera dilema akut. Sebuah adegan ketika Soekarno dan Inggit mengunjungi ayah, Soekemi Sosrodihardjo (Sujiwo Tejo), dan ibunda Soekarno, Ida Ayu Nyoman Rai (Ayu Laksmi), cukup mewakili alasan kenapa Soekarno ingin menikah lagi.

“Kapan kamu akan memiliki putra?” demikian pertanyaan sang ibunda pada Soekarno dalam kunjungan itu. Pertanyaan ini seketika merobek kuping dan hati Inggit yang turut mendengarkannya. Karena cintanya, Soekarno nggak ingin menceraikan Inggit yang selalu mendukung perjuangannya. Inggit sendiri berkeras nggak ingin dimadu. Maka muncullah adegan pertengkaran di rumah pengasingan di Bengkulu yang tersaji aduhai menyayatnya.

Koes

Inilah nama kecil sang proklamator sebelum dikenal sebagai Soekarno. Tokoh besar ini bagai sumur yang airnya menyembur sepanjang bangsa ini ada. Sepak terjangnya dalam mewujudkan Indonesia yang merdeka nggak kalah serunya dengan romansa kehidupan cintanya. Ario Bayu memang nggak salah jika dipilih untuk memerankan tokoh ini. Untuk ukuran penonton yang hanya mengenal Soekarno lewat buku dan film dokumenter, postur dan aktingnya sangat meyakinkan.

Walau film ini utamanya tentang Soekarno, kehadiran Inggit Garnasih sangat mencuri perhatian. Saya makin mengenal sosok isteri keduanya ini. Bagi saya, eksplorasi pada sosok Inggit menguatkan karakter Soekarno itu sendiri. Kesabaran dan ketegaran hati seorang Inggit berhasil saya dapatkan di tangan akting ciamik Maudy Koesnaedy.

Simbol-simbol lain yang menguatkan sosok Koes juga tersaji apik. Adegan mic dengan suasana yang berpindah dari pidato HOS Tjokroaminoto (Roza) ke pidato Soekarno sangat brilian! Adegan ini bukan sekadar menyajikan lompatan waktu, tetapi menguatkan Soekarno sebagai “Singa Podium”. Adegan brilian lain, ketika Inggit dan Fatmawati memasangkan peci di kepala Soekarno. Walau kedua adegan ini terpisah scene, namun sama-sama menunjukkan simbol kharisma Soekarno di mata wanita-wanita yang menjadi isterinya itu.

Kemasan Berani

Terlepas dari polemik jalan sejarah yang ditampilkan dan pemilihan aktor utama film ini, Hanung Bramantyo, sang sutradara, layak diacungkan dua jempol. Bagi saya, nggak mudah menghadirkan tokoh sebesar Soekarno ke dalam sebuah film. Sebagai seorang tokoh, banyak orang akan merasa lebih kenal sosok Soekarno dibanding seorang Hanung. Sebagai sebuah sejarah, banyak orang akan mengaku lebih paham peristiwanya dibanding seorang Hanung. Tapi mengangkatnya ke dalam sebuah film bioskop? Hhhmm..

Hanung berhasil membelah kedua segitiga tadi ke dalam porsi yang pas. Bagi saya, Hanung mengemas film ini dengan berani. Bahkan sangat berani! Ada beberapa hal yang membuat saya mengerutkan kening. Contohnya, usul Soekarno untuk mengerahkan pelacur. Contoh lain, Soekarno difoto-foto di tengah romusha. Mungkin ini karena pengetahuan saya tentang sejarah yang masih minim. Semoga riset Hanung punya alasan kuat untuk menampilkan adegan-adegan tersebut.

Secara teknis, saya terganggu dengan beberapa hal. Pertama, scene seorang wanita yang menyematkan saputangan di saku Soekarno. Oh please, nggak harus se-lebay ini! Kedua, ketika scene masih menunjukkan para pelacur yang meronta-ronta diserbu serdadu Jepang, tiba-tiba muncul langgam Betawi yang riang dan scene berpindah ke suasana hiruk-pikuk kota Jakarta. Sebagai penonton, suasana hati saya yang sedang miris saat itu seketika drop. Yaelah banget, istilahnya.

Kembali ke Sejarah

Bagaimanapun, “Soekarno” tetaplah sebuah upaya untuk mengenalkan tokoh dan sejarah yang layak disimak. Harus diakui saat ini sedikit sekali produk seperti ini di layar lebar. Sutradara sekaliber Hanung Bramantyo pasti sudah berhitung cermat menengahi aspek film yang mencerahkan, menghibur, tanpa terkesan seperti sebuah film dokumenter yang membosankan.

Imbauan para penonton untuk berdiri di awal film demi lagu Indonesia Raya seperti sebuah suntikan mahal yang menggetarkan semangat dalam berbangsa. Apalagi saat krisis sosok pemimpin seperti saat ini. Kalau akhirnya film ini masih memunculkan polemik dan kontroversi, setidaknya film ini bisa jadi pelecut siapapun untuk kembali mengenal dan memahami sejarah. Ya, seperti pesan Bung Karno itu, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah..”

Protected: Menulis, yok!

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Protected: Daftar Naskah

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Protected: Daftar Penulis yang Diundang

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Menjadi Maria

apa yang kau mengerti,
menabur cinta
sehangat uap nasi yang kautanak.

apa yang kau lalui,
belajar mengaji
kelak doamu lantang mengetuk langit.

apa yang kau maknai,
melantunkan rindu
selembut malam menepuk ingatan.

menjadi Maria,
menjadikanmu perempuan,
telaga rahimmu,
menjadikan aku.

——–
Desember 2012

Mau tahu cerita lain tentang Maria?
Baca “Dear Mama” di halaman 99.
Mampir ke toko buku, ya. Atau bisa beli di sini: http://www.gradienmediatama.com/buku_detail.php?PageNo=&id=327&idkat=3
Beli bukunya, baca ceritanya, sekalian beramal untuk Yayasan Kanker Payudara Indonesia!

dear mama

“Terima kasih untukmu, Mama,
terumbu tempatku belajar mengejutkan hidup dengan bahagia.”

Lagu Pemecah Malam

Awalnya sebuah mention dengan tautan soundcloud masuk ke linimasa saya. Mention itu aku cuekin–mungkin lebih dari sejam—karena saya sedang diburu tenggat. Saat rehat sejenak, saya penasaran dengan kata-kata “poem by Oddie”. Loh, puisi saya? Tadinya saya kurang memerhatikan karena nama kedua akun yang ada di mention itu–@carlpass dan @risangdaru—belum pernah saling sapa di linimasa.

Dan saya pun membuka tautan itu… AMPUUUUUUUUUUUN! Lagunya manis berdarah madu! Saya langsung lupa dengan segala tenggat. Saya membayangkan malam dan tenggat adalah sepasang mangkuk bakso yang tiba-tiba krompyang di ubun-ubun. Pecah!

Lagu ini jahat sekali! Saya sampai mati angin. Nggak tahu mau lanjut nulis apa. Saya langsung norak pangkat lebay di twitter. Oh kawan, jangan stalking linimasa saya ya. JANGAN! Yaelahbro banget deh. Saya sempat mention ke @carlpass dan @risangdaru: “Lain kali kalau mau bikin lagu dari puisi saya, kodein dulu. Biar saya siap mental untuk norak.”

Saking noraknya, saya nggak memerhatikan beberapa hal:

Pertama; saya baru tahu kalau kedua penjahat ini adalah cewek-cewek. Saya baru tahu pas intro musik diisi suara. Kok suara cewek? Sambil terus dengerin, saya buka avatar mereka satu persatu yang buram-buram manja itu. Ohhhh.. dua-duanya cewek tho. Ya gimana dong menurut lo, nama akunnya kayak cowok-cowok anak gunung gitu..

Kedua; saya belum tahu siapa yang nyanyi, siapa yang gubah aransemennya, dan siapa yang gosrek-gosrek gitar? Akhirnya saya paksa Carla untuk menjawab email saya malam itu juga hehehe.. (setelah lagu ini saya dengar 23 kali!). Yang nyanyi dan main gitar adalah Carla. Mungkin @risangdaru yang khilaf ketemu puisi saya trus minta dinyanyiin Carla.

Ketiga; saya lupa, ini puisi saya yang mana, ya? Tapi saya sengaja mengikuti syair demi syair hingga pertengahan lagu. Aha! Saya mulai ingat. Eh, dusta deng.. Saya akhirnya nyerah juga buka blog saya sendiri. Ohhh yang ini tho…

Kembali ke lagu..

Bukan karena ini puisi saya sehingga saya lebay nggak bermartabat gini. Berikut alasannya: Suara dan gaya menyanyi @carlpass mengingatkan saya pada vokalis grup White Shoes & The Couples Company (Aprilia Apsari), yang saya suka banget! Nggak banyak kan vokalis/band dengan gaya menyanyi tahun 60-70an gitu. Oh Carla, you did GREAT!

Aransemen dan petikan gitarnya mengingatkan saya pada musik grup Payung Teduh, yang ampun dj saya juga suka banget! Penggalan kata dan permainan melodinya membuat puisi saya yang sederhana itu membadai syahdu. Ini bukan analisa maksa. Silakan disusur kata per kata sambil dengerin lagunya.

Rima “u” di ujung-ujung kalimatnya diekspos dengan baik. Bahkah di beberapa kalimat, ada yang sengaja ditahan, bahkan diperpanjang. Kesannya melodi itu seperti menggigit telinga, dan sengaja nggak dilepas dulu. Malah gigitan itu menggoyang-goyangkan telinga dengan manja sebelum dilepaskan.

Bagai buku cerita,
Ia membacakannya sendiri di hatikuuu..huhuuu..
…..
….
Bagai desah lagu
Ia mendendangkan bait-bait nada di hatikuuuu..huhuuu..

Penggalan yang menguatkan kesan. Nada ditahan dan dibunyikan sesuai katanya.

Kenangan itu telah tiba padaku
Bagai desahhhh[didesir-desahkan]..lagu
Ia mendendangkan bait-bait nada di hatiku

Penutup yang epik, GRAND! Kenapa? Kalimat dipotong dengan menyisakan satu kata ulang yang benar-benar merupakan kunci puisi ini. Saat peotongan itu, nada ditinggikan, Carla melengkingkan suaranya, lalu senyap, hilang seperti kata ‘hilang” itu sendiri. Tiba-tiba setelah hilang itu, kata pemuncak “berkali-kali” benar-benar seperti digelontorkan penuh penyesalan dari sebuah puncak. Jatuh, lalu meluncur hilang.

Kenangan itu selalu datang berlari-lari
Untuk kembali hiilaaaaaaang[nada tinggi]…[senyap]..[nada muncul meluncur turun] berkali-kaliiiii..

Belum ada serapi ini orang memusikalisasi puisi saya!

Tentang puisi..

Oh ini puisi 2011 yang pernah saya posting di sini. Puisi ini didedikasikan khusus untuk penyiar kece, Binda Umar. Ceritanya, dulu Binda masih siaran di MSTRI FM. Saya jadi tamu di edisi Valentine, setelah sebelumnya untuk promo buku. Selama 2 jam saya berpuisi-puisi unyu di udara Jakarta. Setelah itu saya janji bikinin puisi buat doi. Ini puisi spontan yang ditulis langsung dari BB setelah berbulan-bulan berikutnya. Eh, nggak tahunya ada yang diam-diam meminang puisi ini jadi lagu.

Jadi begitulah lagu ini telah memecah malam (tengah malam tadi sih) saya. Sampai saya menulis di blog ini mendekati pukul 3 pagi (didukung Telkom Flash yang ngebut), sudah 31 kali saya memutar ulang lagunya. BRUTAL!

Sekali lagi, terima kasih @carlpass dan @risangdaru! Saya tersanjung. Sungguh. Kapan-kapan nyanyi langsung di depan saya ya. Belum pernah lihat kan ada cowok berjenggot yang tiba-tiba tinggal jenggotnya aja karena badannya udah lumer?

Dengerin lagi, ahhh..

Jejak Rancak Padang – Bukittinggi

Salamaiiik Datang!

Begitu Anda mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), perut yang mungkin tadinya kenyang seketika manja minta diisi alias lapar. Bagaimana tidak, mendarat di BIM seperti mendarat di halaman parkir depan restoran Padang yang biasa Anda jumpai. BIM adalah bandara cantik berbentuk Rumah Gadang yang berjarak sekitar 19 km dari pusat Kota Padang.

Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Sumber: wikipedia.org

Bandara Internasional Minangkabau (BIM)
Sumber: wikipedia.org

Sebagai gerbang utama Ranah Minang, BIM semakin ramai dengan penerbangan domestik dan internasional sejak tahun 2005 menggantikan Bandara Tabing. Berbagai maskapai domestik utama hadir di sini. Harga tiket dari Jakarta sekitar Rp.1.200.000. Tidak perlu repot mencari tiket yang ekonomis. Cara mudahnya, selalu cek di sini untuk harga tiket yang paling hemat.

Nah, mari kita mulai menjejak Ranah Minang..

Melancong di Kota Padang

Kota Pa­dang genap berusia 344 tahun pa­da 7 Agustus 2013 lalu. Sebagai ibu kota provinsi Sumatera Barat, jangan khawatir urusan transportasi dan akomodasi di kota ini. Tersedia banyak pilihan moda transportasi dan jenis akomodasi selayaknya kota besar lainnya. Jika Anda sudah memiliki pilihan hotel atau penginapan, jangan berlama-lama di kamar. Banyak tempat seru yang menunggu Anda di kota ini.

Jika Anda baru pertama kali ke Padang, ada baiknya berkenalan dulu dengan kota ini, atau sejarah Ranah Minang secara keseluruhan. Pilihan yang tepat untuk ini adalah mengunjungi Museum Adityawarman di Jl. Diponegoro No. 10. Sejarah Ranah Minang tersaji lengkap di sini.

Museum Adityawarman Sumber: indonesia-tourism.com

Museum Adityawarman
Sumber: indonesia-tourism.com

Dari sekian banyak pantai tujuan berwisata di sekitar Kota Padang, Pantai Padang dan Pantai Air Manis adalah lokasi yang paling populer. Karena Kota Padang terletak di pesisir pantai maka kedua pantai ini cukup mudah diakses karena tidak jauh dari pusat kota. Pantai Padang paling ramai di malam hari dengan muda-mudi yang bersantai sambil menikmati jagung bakar. Pantai Air Manis terkenal dengan legenda Malin Kundang. Wisatawan banyak datang ke pantai ini untuk menyaksikan batu Malin Kundang.

Pantai Padang Sumber: padangekspres.co.id

Pantai Padang
Sumber: padangekspres.co.id

Batu Malin Kundang Sumber: wikipedia.org

Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis
Sumber: wikipedia.org

Selain legenda Malin Kundang, cerita yang terkenal lainnya adalah tentang Siti Nurbaya. Nama Siti Nurbaya ini diabadikan sebagai nama jembatan yang paling populer di Kota Padang, “Jembatan Siti Nurbaya”. Jembatan sepanjang 60 meter ini dekat dengan kota tua dan terlihat gagah di punggung Muara Batang Arau. Datanglah ketika sore menjelang malam sambil bersantai menikmati jagung bakar yang banyak dijajakan di sepanjang jembatan ini.

Jembatan Siti Nurbaya Sumber: antarasumbar.com

Jembatan Siti Nurbaya
Sumber: antarasumbar.com

Jika berkunjung ke jembatannya, kurang afdol jika melewatkan kunjungan ke Makam Siti Nurbaya di seberangnya. Dari jembatan ini pula Anda bisa menikmati perahu-perahu yang menambat di Pelabuhan Muara. Cantik sekali! Cocok bagi Anda yang gemar hobi fotografi. Tak jauh dari jembatan ini pula Anda bisa menelusuri Kawasan Pecinan yang terkenal dengan Kelenteng See Hin Kiong.

Tak jauh dari lokasi kelenteng, ada sebuah toko oleh-oleh yang sangat terkenal bagi wisatawan di Jl. Nipah, Toko Christine Hakim. Jangan lupa mampir ke toko ini demi Keripik Balado sebelum Anda meninggalkan Ranah Minang. Dan sebagai hadiah pengganti penat seharian berkeliling kota, jangan lupa mampir di Es Durian Iko Gantinyo. Es durian ini ada di Jl. Pulau Karam dan menyediakan banyak variasi. Liur siapa yang tahan jual mahal di atas mangkoknya?

Onde Mande, ini baru secuil lokasi yang seru di Kota Padang. Tidak cukup sehari untuk menikmati semuanya.

Dari pesisir pantai, mari menuju bukit yang lebih tinggi..

Bentang Tamasya Sepanjang Jalan Padang – Bukittinggi

Sebelum tiba di Kota Bukittinggi, Anda akan melewati tempat-tempat yang seru. Dalam perjalanan ini, Anda akan melewati Lembah Anai dengan panorama air terjun yang menjuntai dari ketinggian 35 meter. Air terjun ini tepatnya terletak di Kawasan Cagar Alam Lembah Anai, Nagari Singgalang.

Lembah Anai Sumber: minangcomunitee.wordpress.com

Lembah Anai
Sumber: minangcomunitee.wordpress.com

Setelah mata dimanjakan, rasanya lidah pun akan meminta perhatian dalam sekejap. Apalagi ketika Anda melewati Sate Mak Syukur yang berada di Silaing Bawah, Kota Padangpanjang. Anda tidak akan tahan untuk mampir mencicipi sate yang tersohor dari pengunjung biasa hingga Presiden SBY.

Sate Mak Syukur

Sate Mak Syukur

Masih ingin mengenal budaya Minangkabau? Nah, Anda harus mampir juga di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) atau dikenal juga dengan sebutan Minang Village. Masih berada di Kota Padangpanjang, PDIKM menyajikan tualang budaya yang seru mulai dari bentuk bangunan hingga koleksi dan informasi yang ada di dalamnya.

Jika Anda terpukau dengan tenun songket yang ada di PDIKM, Anda wajib mampir juga di pusat tenun Pandai Sikek. Pandai Sikek merupakan salah satu nagari di Kabupaten Tanah Datar yang terletak di Kecamatan Sepuluh Koto. Daerah ini merupakan salah satu pusat kerajinan songket yang ada di Sumatera Barat. Songket di sini ditenun secara tradisional menggunakan benang emas dan perak yang ditenun pada sebuah kain sutera ataupun katun.

Bukittinggi, Parijs van Sumatra!

Kota Bukittinggi berada pada 909–941 meter di atas permukaan laut. Hawanya sejuk dengan suhu berkisar antara 16.1–24.9 °C. Berbicara tentang kota asri berbukit-bukit ini, Anda pasti akan teringat ikon kota ini yaitu, Jam Gadang.

Barisan Bendi di Jam Gadang Kota Bukittinggi Sumber: koran-jakarta.com

Barisan Bendi di Jam Gadang Kota Bukittinggi
Sumber: koran-jakarta.com

Jam Gadang, diproduksi di Recklinghausen, Jerman, pada tahun 1892. Jam ini adalah jejak kenangan kolonial Belanda karena dibangin 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada sekretaris kota.
Jam ini dibangun pada 1926, sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada sekretaris kota. Dari sini Anda menikmati panorama tiga gunung: Singgalang, Merapi, dan Sago.

Di dekat Jam Gadang, ada pasar terkenal, yaitu Pasar Atas (Pasar Ateh). Di pasar ini terdapat banyak penjual kerajinan tangan dan bordir, serta makanan kecil oleh-oleh khas Sumatera Barat, seperti Keripik Sanjai (keripik singkong ala daerah Sanjai di Bukittinggi), Karupuak Jangek (dari bahan kulit sapi atau kerbau), dan Karak Kaliang, sejenis makanan kecil khas Bukittinggi yang berbentuk seperti angka 8.

Panorama Ngarai Sianok Sumber: wikipedia.org

Panorama Ngarai Sianok
Sumber: wikipedia.org

Masih di tengah kota, Anda akan mendapatkan sajian lengkap di Taman Panorama. Dari sini, sejauh mata memandang, Anda akan berdecak kagum dengan pemandangan Ngarai Sianok. Ada pula Goa Jepang atau Lubang Jepang sebagai saksi Perang Dunia Ke-2, Istana Bung Hatta, dan Kebun Binatang Bukittinggi.

Masih ada lagi yang dimiliki Kota Bukittinggi, Benteng Ford de Kock. Benteng ini didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825 pada masa Baron Hendrik Merkus de Kock sewaktu menjadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Di sekitar benteng masih terdapat meriam-meriam kuno periode abad ke 19, saksi perlawanan rakyat Minangkabau dalam Perang Paderi pada tahun 1821-1837.

Fort de Kock tahun 1825 Sumber: wikipedia.org

Fort de Kock tahun 1825
Sumber: wikipedia.org

Wow, lengkap sekali Kota Bukittinggi ini. Mulai dari wisata kota, kuliner, panorama alam, hingga wisata sejarah.

Sisakan dulu kekaguman Anda untuk kejutan lain yang tak jauh dari kota ini..

Meninjau Maninjau dari Puncak Lawang

Bergerak dari Bukittinggi kurang lebih 30-50 menit sampailah di Puncak Lawang. Puncak Lawang adalah bukit setinggi sekitar 1.210 m di atas permukaan laut. Puncak ini dulunya adalah tempat peristirahatan orang-orang Belanda di zamannya. Salah satu rute menuju Puncak Lawang ini adalah melalui Matua. Anda akan melewati Perkebunan Tebu penghasil gula tebu terbaik di Kabupaten Agam.

Aktivitas Paralayang dari Puncak Lawang Sumber: antarafoto.com

Aktivitas Paralayang dari Puncak Lawang
Sumber: antarafoto.com

Di Puncak Lawang sendiri sebagian diisi Hutan Pinus yang mengibas-ngibaskan hawa sejuk pegunungan. Puncak ini adalah salah satu spot terbaik untuk olahraga Paralayang. Tidak cuma itu, silakan Anda tahan napas dengan kejutan panorama dari puncak ini. Dari sini, mata Anda akan disergap pesona Samudra Indonesia dan Danau Maninjau!

Danau Maninjau Sumber: user36.wordpress.com

Danau Maninjau
Sumber: user36.wordpress.com

Danau Maninjau adalah danau vulkanik yang dipagari bukit-bukit yang hijau. Jika udara sedang cerah, airnya sebening mata bidadari. Puncak Lawang terletak di salah satu sisi danau ini. Untuk menuju danau ini, Anda harus turun melewati perjalanan dengan 44 belokan yang disebut Kelok Ampek Puluah Ampek.

Sisakan lagi kekaguman untuk kejutan berikut ini..

Termangu Parau di Lembah Harau

Jika Anda pernah mengunjungi Taman Nasional Yosemite di di Sierra Nevada California, Anda akan mengalami dejavu dengan lokasi berikut ini. Sekitar 47 km dari Kota Bukittinggi, Anda akan tiba di sebuah lembah di Kecamatan Harau, yaitu Lembah Harau. Panorama lembah ini keindahannya memang mirip dengan panorama Lembah Yosemite di Amerika itu.

Lembah Harau Sumber: payakumbuh.go.id

Lembah Harau
Sumber: payakumbuh.go.id

Lembah Harau merupakan lembah yang subur dikelilingi batu granit terjal berwarna-warni dengan ketinggian 100 sampai 500 meter. Pagar tebing cadas yang curam dan lurus berwarna kemerah-merahan tegak mengelilingi lembah begitu menawan. Anda akan termangu beberapa saat hingga lupa bernapas!

Amboi Ranah Minang, masih sepenggal saja darimu sudah mencuri segenap kekaguman. Perlu berapa hari untuk menjejak sepenggal yang lain darimu? Dengan sebegitu banyak destinasi yang layak dikunjungi, siapa pun akan bingung membagi waktunya. Jika waktu yang tersedia tidak banyak tetapi Anda ingin menjejak destinasi utama lebih banyak, di sini tersedia ragam paket perjalanan yang seru. Mau domestik atau internasional, semuanya rancak bana!

 _____________________________________________________________________

Tulisan artikel ini merupakan karya orsinil tanpa menjiplak karya orang lain, dengan menampilkan keterangan sumber gambar di bawah foto. Artikel ini dibuat untuk mengikuti kompetisi blog http://www.txtravel.com.
TX Travel

lima cara mencintaimu

hands-1422276-m

pertama,
menggenggam cintamu
melebihi keindahan
yang pernah mencengkeram matamu.

kedua,
memeluk rindumu
melebihi kehangatan
yang pernah menyapu lehermu.

ketiga,
mendenyarkan harapanmu
melebihi mantra
yang pernah bergetar di bibirmu.

keempat,
menyimpan setiamu
melebihi musim
yang pernah singgah di langitmu.

kelima,
mencintaimu saja
melebihi kebahagiaan
yang tak pernah kita kira.

jakarta, agustus 2103

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 8,172 other followers