Perahukayu

berlayar dengan cinta, berlabuh dengan rindu

Kopi Itu Cinta

Sekopi apa hidupmu?

Sekopi apa hidupmu?

Eh, judul yang aneh!
Ya, begitu. Cuma itu yang terpikirkan kalau ditanya arti secangkir kopi dalam hidup saya. Kalau diurai secara romantis-bombastis, secangkir kopi adalah segalanya cinta. Ya, ini agak lebay. Sederhananya, sekopi apa sih saya ini?

Mungkin saya perlu menguraikannya secara strategis-fungsionaris (iya, ini lebay juga):
– Saya merasa dicintai pagi jika membuka hari dengan secangkir kopi. Tanpanya, saya merasa pagi menyembunyikan semangat saya di balik bantal.
– Saya merasa dicintai pekerjaan saya jika secangkir kopi selalu sigap di saat-saat mati angin. Karena pekerjaan saya menulis, biasanya imajinasi akan lancar datang digiring-giring harum kopi.
– Saya merasa dicintai kenangan manis jika secangkir kopi menyergap di saat senja, saat galau, apalagi saat kangen. Ihiy!

Ya ampun, baru tiga hal itu saja secangkir kopi sudah bikin hidup saya keren! Ada kopi, ada cinta, ya ini baru namanya hidup. Lalu, sekopi apa hidupmu?

***

Tulisan khusus untuk #DiBalikSecangkirKopi @IniBaruHidup
Twitter: @Oddie__
FB: Oddie Frente

setumpuk mau

image

dini hari ini terbuat dari sehimpun buku puisi dan sekumpulan buku cerita-cerita pendek. aduhai, intelek nian kau membuka hari.

kau memilih-milih yang bertumpuk-tumpuk di rak, yang berlelap-lelap menanti matamu.
kau menimang-nimang sekian nama, yang berpijar-pijar menggelinjang benakmu.

mari kita kawin!
itu maumu.

Sadar Keberagaman Sejak Dini

Buku Tematik untuk Kelas 1 SD

Buku Tematik untuk Kelas 1 SD

Masih ingat dengan Budi, Wati, dan Iwan dalam buku pelajaran ketika SD? Saya yakin semua alumni SD setanah air masih menyimpannya dengan baik di dalam ingatan. Di Kurikulum 2013, mereka semua dilengserkan!

Saya sebelumnya menulis tentang Kurikulum 2013 di Kompasiana, http://edukasi.kompasiana.com/2014/09/19/apa-yang-baru-di-kurikulum-2013-679792.html  Satu hal seru lain yang saya temukan adalah apa yang saya sampaikan di atas. Ke mana perginya Budi, Wati, dan Iwan? Peran mereka sebagai aktor di buku pelajaran SD sejak kelas satu hingga enam telah dibubarkan. Di kurikulum baru, peran mereka digantikan oleh bintang-bintang baru; Edo, Siti, Dayu, Lani, dan Beni.

Proses audisi bintang-bintang baru tersebut dilakukan dengan tujuan yang spesifik. Edo yang keriting, cerminan orang Papua. Ada Siti yang berjilbab dan Dayu yang disebutkan berasal dari Bali. Kemudian ada Lani yang sipit keturunan Tionghoa dan Beni yang berdarah Batak.

Keunikan karakter-karakter ini tidak lain untuk memperlihatkan keberagaman masyarakat Indonesia. Masalah keberagaman adalah tantangan saat ini dan di masa mendatang untuk memperkuat kesatuan. Keberagaman, paling mudah diusik untuk mencerai-beraikan bangsa.

Alangkah tepatnya keberagaman bangsa diperlihatkan sejak dini. Tidak semua anak mengenal keberagaman sejak SD. Dulu ketika SD, saya bersekolah di yayasan Katolik. Saya sudah terbiasa bergaul dengan teman-teman keturunan Tionghoa, indo campuran, pastor-pastor yang kebanyakan dari daerah Nusa Tenggara, Jawa, bahkan pastor tembak langsung dari Belanda.

Ketika kelas tiga SD, saya pindah ke sekolah yang isinya kebanyakan anak prajurit TNI. Di sini saya memiliki teman yang lebih beragam lagi. Beragam daerahnya, beragam pula agamanya. Selain kebanyakan dari Jawa, teman-teman saya ada yang berdarah Batak dan Aceh. Saya terheran-heran betapa jauhnya letak kota Sigli di Aceh, tempat asal Rahman, teman sekelas saya waktu itu.

Ketika kelas lima SD, saya bersekolah juga di sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Di sini semua agamanya sudah pasti sama, Islam, tetapi teman-teman saya datang dari beragam daerah. Mulai dari Ternate, Palu, Makassar, dan yang keturunan Arab.

Betapa beruntungnya saya telah mengenal keberagaman sejak SD. Lingkungan secara tidak sengaja membeberkannya. Saya lalu berpikir, apa jadinya dengan seorang anak yang hidupnya tidak berpindah-pindah? Ia hidup jauh di pelosok dengan kemungkinan kecil berinteraksi dengan orang yang datang dari daerah dan etnis yang berbeda dengannya.

Memang, saat ini teknologi informasi sedemikian tangguhnya menembus ke pelosok dunia mana pun. Tetapi, apakah orang tua siap sedia menjelaskan setiap pertanyaan anaknya? Saya melihat Kurikulum 2013 secara proaktif dan terang benderang memaparkan keberagaman ini. Siswa SD pun akan mendapat penjelasan dari gurunya tanpa perlu repot bertanya. Apalagai anak kelas satu SD, setiap ada hal baru–apalagi yang berbeda dengannya—akan menjulangkan berjuta rasa penasaran.

Kurikulum 2013 ibarat menyodorkan lem perekat jenis super untuk kesatuan bangsa. Menurut saya, kurikulum ini ‘memaksa’ keberagaman harus diakui, bukan hanya sekadar mengenal. Ini tentu dalam konteks yang positif. Kalau cuma mengenal saja, superioritas daerah atau etnis tertentu akan muncul secara berlebihan. Jangankan diusik oleh pihak asing, antar kita sendiri pun bisa ‘senggol-bacok’ kalau lemnya abal-abal. Setujukah para penumpang yang budiman?

tentang

apa pun tentangmu
tak ada selesai
menentang

kalau saja bukan tentangmu
ada yang selesai
tentangku

Apa Kabar?

Aku Bahagia
“Apa kabar?”
Iya, ini pertanyaan basa-basi. Tapi bukankah pertanyaan ini mujarab membuka percakapan? Bahkan untuk orang yang pelit berbasa-basi sekalipun, pertanyaan ini kerap terlontar. Seakan sudah otomatis, penduduk di belahan dunia manapun akan menggunakan kalimat ini sebagai standar dalam pergaulan.

Seakan otomatis pula, jawaban standar sudah tersedia tanpa konsensus: “Baik”, “Kabar baik”, “Alhamdulillah, baik”, “Sehat, alhamdulillah..”

Mungkin, sudah tiga tahun terakhir ini saya punya jawaban tambahan dari standar yang di atas: “Alhamdulillah, sehat, dan bahagia!”. Ya, saya tahu ada juga orang lain yang menggunakan jawaban ini tapi dalam setahun sepertinya saya hanya mendengar sekali.

“Sehat dan bahagia.”
Kelihatannya kata terakhir itu lebay berdarah-darah. Tapi saya punya 5 alasan kenapa kata itu harus saya tambahkan:
1. Setiap orang ingin bertemu dengan orang yang bahagia.
2. Walau perasaan saya lagi kesal, kata itu pengingat untuk saya sendiri supaya kapan pun dan dengan cara apa pun, saya harus bahagia. Kata itu doa untuk saya sendiri. Dan siapa tahu jadi pengingat pula untuk orang yang mendengarnya.
3. Bahagia itu menular. Tapi, saya tidak punya niat untuk jadi Duta Bahagia. Setiap orang adalah Duta Bahagia untuk kebahagiannya sendiri.
4. Kata ‘bahagia’ itu seksi banget! Walau kita lagi bahagia, jarang kan kita mengucapkan “Saya bahagia” untuk diri sendiri? Kata itu membuat saya merasa jawaban saya unik. Unik adalah bagian dari keseksian. Ehem!
5. Kalau di no.2 saya bilang kata itu sebuah doa, yang terakhir ini saya tambahkan: kata bahagia adalah obat perangsang. Walaupun belum pernah mencoba Viagra, saya yakin obat yang satu ini lebih dahsyat. Saya ingin bahagia saya tahan lama dan terus bertambah dalam setiap apa pun yang saya lakukan setiap waktu.

Nah, jangan ragu-ragu berbasa-basi dengan pertanyaan ini setiap bertemu saya. Tak apa walau kita baru berpisah lima menit sekalipun. Saya ingin mengucapkan kata ‘bahagia’ sesering mungkin untuk diri saya sendiri. Perasaan bahagia adalah bentuk syukur yang sederhana.

Apa kabar para penumpangku? :)

 

 

sepasang mata

eye
sepasang
mata itu
tak mau menyebut nama
pada sepasang mata ini
yang mencuri

sepasang mata itu
terlampau api
pada sepasang mata ini
yang terbakar sendiri

bilakah sepasang mata itu
tersesat lagi
pada sepasang mata ini?

***

 

Pertanyaan Terburuk di Dermaga

SANYO DIGITAL CAMERAMatahari sedang memanggang ubun-ubun ketika aku terpacak di ujung dermaga. Lalu, sebuah pertanyaan membuka percakapan.

“Dari mana saja sejak Januari?” tanyanya.
Aku terdiam. Belum terpikir sebuah jawaban. Untuk sementara waktu, aku lupa di mana menyimpan suaraku. Andai bisa kucuri suara angin siang itu untuk sekadar mendesis basa-basi menjawabnya.

“Dari mana saja??” Ia mengulang pertanyaan.
Kali ini suaranya meninggi, namun aku masih terdiam. Kualihkan pandang pada reriak ombak yang menggoyang-goyang terik siang. Andai di situ tersimpan suaraku, mungkin aku bisa meminjamnya untuk membunyikan sebaris kalimat yang ada di benakku.

“Dari mana saja???”
Suaranya kian meninggi, mendengung telingaku. Entah bagaimana menjelaskannya, dengung itu berulang hingga mengusik apa yang kupikirkan sebagai jawabannya.

Aku masih bergeming kehilangan suara. Tatapanku belum kualihkan dari reriak ombak. Aku bagai anak kecil yang sedang dimarahi ibunya. Mati gaya kehilangan jiwa. Yang kutahu, aku benci dengan pertanyaan itu. Aku benci, sangat benci! Aku juga membenci diri sendiri kenapa harus melupakannya selama itu. Sejak Januari? Ya tuhan, aku bahkan bertanya sendiri dengan pertanyaan yang baru saja kunobatkan sebagai pertanyaan terburuk di dunia ini.

Masih dalam kebisuan, kulepaskan tali penambatnya, lalu tanpa aba-aba kuturunkan tubuhku dari dermaga ke tubuhnya. Kudayung saja tubuhnya, pelan-pelan, melarung bersama. Semakin jauh dari dermaga, kiranya kami berdua pura-pura lupa. Ia pura-pura lupa dengan pertanyaan terburuknya, menurutku, dan aku pura-pura lupa menjawabnya.

Saat terbaik membenci diri sendiri adalah ketika melupa terlalu lama..

 

Tenggelamnya (Janji Setia Bersama) Kapal Van der Wijk

vlcsnap-2014-01-04-06h10m59s19

Jika cinta telah datang, sebuah janji yang tersulit pun akan menggetarkan bibir dengan mudah.

Kalau sebuah janji terucap dari seorang cowok, maka tentu ini nggak aneh karena bibir cowok tersusun dari sel-sel gombal. Lha ini, terucap dari seorang cewek seperti Hayati (Pevita Pearce)! Cowok mana yang nggak akan berantakan jiwanya? Apalagi, Hayati adalah kembang dari Batipuh yang jadi pemuncak tujuan segala sayap kumbang. Dan kumbang yang berantakan jiwanya itu adalah Zainuddin (Herjunot Ali).

“Engkaulah Zainuddin, yang akan menjadi suamiku kelak. Bila tidak di dunia, kaulah suamiku di akhirat.”

Jederrr!

 vlcsnap-2014-01-04-06h09m12s233

5(lima) hal yang nggak asyik menurut saya dari film ini:

  1. Warna kebiruan pada frame dengan setting Batipuh. Saya nggak ngerti ini maksudnya apa. Yang pasti, mata saya nyaris kram karena nggak nyaman. Padahal, di sinilah momen “uwuwuw” ketika Zainuddin terperosok ke dalam kerling malu-malu Hayati.
  2. Seluruh adegan dengan setting Kapal Van der Wijck. Paling malesin saat penumpang “dadah-dadahan” ala Titanic. Saya nyaris tutup muka karena malu dengan hasil kerja yang nggak rapi itu. Padahal, saya cuma penonton, bukan yang bikin filmnya..
  3. Alasan tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang absurd. Tiba-tiba kapal langsung miring menumpahkan Hayati dan penumpang lainnya. Saya sih belum baca versi novelnya yang ditulis Buya Hamka ini. Tapi, lebay banget kan alasan tenggelamnya hanya karena ada Hayati yang hatinya sedang berat banget harus meninggalkan Zainuddin?
  4. Lagu latar yang terus diulang dan berisik. Kalaupun diulang, mbok ya versi instrumentalnya aja gitu.
  5. Gestur Muluk (Randy Danistha) yang bandel tapi masih kurang berangas. Tapi sebagai pendatang baru, Randy sudah okelah. Paling nggak asyik pada karakter Ida (saya nggak tahu siapa pemerannya), teman Hayati. Rasanya pemeran Ida ini sedang bermain sandiwara sekolah.

Nah, ini dia 5(lima) hal yang bikin saya nggak menyesal menonton film ini:

  1. Penampilan Herjunot Ali, Pevita Pearce dan Reza Rahadian yang ciamik. Reza tampil prima sebagai Aziz yang glamor dan parlente. Sementara untuk Herjunot dan Pevita, inilah penampilan terbaik mereka selama ini. Herjunot tampil konsisten dengan aksen Bugis yang kental. Kelihatan banget dia lompat kelas dari penampilannya di film ini. Khusus untuk Pevita, saya tidak menyangka dia akan sebagus ini penampilannya. Terlepas dari kekurangannya pada aksen yang kurang terjaga, Pevita sangat mengejutkan!
  2. Beberapa gambar diambil dengan sudut yang ‘niat’ banget untuk ukuran film lokal. Scene spektakuler banget ketika Aziz sedang ngebut dengan mobilnya. Diambil dari atas dan menyusur laju mobil di tengah padang. Rumah megah Zainuddin pun diekspos dengan apik, terutama ketika diambil dengan kamera jarak jauh.
  3. Setting Minangkabau di tahun 1930-an membuat dialog film ini sangat sastrawi bahasanya. Ini sesuatu yang beda. Semoga makin banyak novel klasik yang diangkat ke film supaya telinga penonton Indonesia makin terbiasa mendengar keindahan klasik bahasanya sendiri.
  4. Sekali lagi, saya memang belum membaca novelnya. Tadinya saya mengira ini cuma seputar cinta segitiga dan urusan kapal yang tenggelam. Ternyata, konflik cukup padat sepanjang cerita. Film jadi nggak membosankan.
  5. Film klasik dengan setting rumit seperti ini membuat pekerja film makin naik kelas dan penonton Indonesia makin pintar. Penonton Indonesia perlu film-film seperti ini. Salut atas hasil kerja sutradara Sunil Soraya dan timnya!

Dari lima dayung perahu, film ini layak dapat rating 3,5 dayung, deh! Bagaimana menurut kamu, Penumpang Perahu Kayu? Ayo, ke bioskop!

Enjoy Jakarta di Akhir 2013

Malam tahun baru di Jakarta? Di seputaran HI? Wah, tengkyu, bos! Ngapain mempersulit diri di tengah kerumunan? Jempol keinjek, sumpek, bau ketek, sampah di mana-mana… Tuh kan, banyak aja alasan yang sebenarnya cuma fantasi saya sendiri karena memang belum pernah mengalaminya!

Tapi tahun ini? Justru itu yang saya tunggu! Kebetulan saya memang nggak jadi ke mana-mana karena diborgol pekerjaan. Dalam sepuluh tahun terakhir, saya nyaris cuma 1-2 kali menghabiskan malam tahun baru di Jakarta. Itu pun saya alergi untuk ikut tumpah di pesta rakyat di mana pun, apalagi di seputaran HI! Beruntungnya lagi, pekerjaan mengharuskan saya ada di seputaran Sudirman. Asyik banget, tinggal setengah koprol, saya dengan mudah meluberkan diri dengan warga Jakarta yang lain.

Langit Jakarta yang Seksi!

SANYO DIGITAL CAMERA
Setelah sehari sebelumnya dikocok hujan seharian, langit Jakarta seksi banget di malam tahun baru! Maka jadilah ratusan kembang api amatiran meliuk-liuk di langit yang cerah. Hujan baru turun lagi sekitar pukul 3 dini hari.

Pesta Rakyat

SANYO DIGITAL CAMERASejak sore, kawasan Sudirman-Thamrin sudah bersih dari kendaraan. Saya berjalan santai dari Chaze Plaza ke arah HI. Daaaaan..saya mentok di halte Blora. Situasi sudah padat sekali. Sampai di titik ini sebenarnya saya sudah bahagia.

Sepanjang saya berjalan, sudah banyak hal yang saya temui dan benar-benar membuat hati riang tak terkira. Mulai dari hiburan sekelompok saksofonis di dekat halte Dukuh Atas, jejeran tenda kuliner, panggung wayang kulit, hingga dangdut koplo. Ini benar-benar pesta rakyat!

Geng Oranye
Hanya setengah jam setelah pukul 00.00, saya kembali pulang. Tiba-tiba saya melewati puluhan orang berseragam oranye. Ternyata mereka adalah geng petugas kebersihan. Bahkan dari arah Blok M, mobil-mobil kebersihan sudah konvoi ke arah HI, lengkap dengan lagu-lagu dan imbauan dari pengeras suara supaya warga nggak beringas dengan sampahnya sendiri. Dalam hitungan beberapa jam saja, mereka akan menyulap kawasan Sudirman-HI-Thamrin bebas dari berton-ton sampah seperti tahun-tahun sebelumnya. Bravo!

Enjoy Jakarta
Saya terheran-heran dengan berbagai jenis manusia yang datang. Saya pikir, pasti yang akan datang hanya muda-mudi seperti saya aja. Ehem.. Ternyata saya salah. Banyak yang sibuk menggandeng ortunya, para manula gaul. Banyak keluarga yang datang dengan pasukan lengkap: ayah-ibu-anak-kakek-nenek-baby sitter, dan tikar! Ada yang gaulnya terlalu nekat dengan kereta balita. Bahkan ada kategori lebay dengan anjing peliharaan! Busyiattt..

Enjoy Jakarta, Happy Joyous New Year 2014!

“Soekarno” – Dua Buah Cinta Segitiga, Bung!

soekarno-hatta

“Pemimpin yang baik, selalu muncul di saat yang tak terduga..”

Itulah kalimat dari Soekarno (Ario Bayu) saat menenangkan Hatta (Lukman Sardi) beberapa hari sebelum proklamasi. Hatta saat itu sedang galau, jika Indonesia merdeka, apakah mereka mampu memimpin bangsa yang sebesar Indonesia. Mungkin kegalauan Hatta itu terjadi pula saat ini. Pemilu 2014 sudah di depan mata, siapa pemimpin kita nanti? Dalam konteks sekarang, saya ingin memelintir kalimat Soekarno tadi. Saatnya sih nggak perlu lagi diduga, Pemilu sudah pasti di 2014. Tapi, siapa pemimpin yang akan kita tonjok fotonya pake paku di bilik suara? Aih, berat..

Duah Buah Cinta Segitiga

Saya menemukan dua buah cinta segitiga dalam “Soekarno”. Yang pertama, “cinta” segitiga pergerakan kemerdekaan antara Soekarno-Hatta-Sjahrir (Tanta Ginting). Film ini memang mengangkat kisah utama di era menjelang proklamasi. Sudah pasti segitiga yang pertama berputar di ketiga tokoh pergerakan yang cinta Indonesia itu tadi.

Sjahrir kala itu lebih dulu tahu kalau Jepang sudah kalah dalam perang dunia ke-2. Oleh karena itu, dia ingin proklamasi segera dilakukan. Sementara, Soekarno sedang berada di tengah rencananya dalam bernegosiasi dengan Jepang. Doi sedang menunggu saat yang tepat agar proklamasi dilakukan tanpa pertumpahan darah. Hatta selalu menjadi penengah antara Soekarno yang penuh strategi dan Sjahrir yang penuh gejolak itu.

Hubungan unik itu lagi-lagi tersaji dalam percakapan Soekarno dan Hatta. Ketika Jepang benar-benar mengembalikan kedaulatan Indonesia, Soekarno curhat sama Hatta, “Sjahrir pasti akan menertawakanku.” Hatta dengan bijak menjawab, “Tidak, Bung! Sjahrir sebenarnya menghormati Bung. Dia mengakui tidak sepandai Bung yang mudah merebut hati rakyat.” Ahhh..so sweet!

Segitiga cinta yang kedua, berputar di mana lagi kalau bukan di antara Soekarno-Inggit Garnasih (Maudi Koesnaedy)-Fatmawati (Tika Bravani). Aduh, ini segitiga cinta pergerakan hati. Soekarno yang sedang mabuk kepayang pada Fatmawati didera dilema akut. Sebuah adegan ketika Soekarno dan Inggit mengunjungi ayah, Soekemi Sosrodihardjo (Sujiwo Tejo), dan ibunda Soekarno, Ida Ayu Nyoman Rai (Ayu Laksmi), cukup mewakili alasan kenapa Soekarno ingin menikah lagi.

“Kapan kamu akan memiliki putra?” demikian pertanyaan sang ibunda pada Soekarno dalam kunjungan itu. Pertanyaan ini seketika merobek kuping dan hati Inggit yang turut mendengarkannya. Karena cintanya, Soekarno nggak ingin menceraikan Inggit yang selalu mendukung perjuangannya. Inggit sendiri berkeras nggak ingin dimadu. Maka muncullah adegan pertengkaran di rumah pengasingan di Bengkulu yang tersaji aduhai menyayatnya.

Koes

Inilah nama kecil sang proklamator sebelum dikenal sebagai Soekarno. Tokoh besar ini bagai sumur yang airnya menyembur sepanjang bangsa ini ada. Sepak terjangnya dalam mewujudkan Indonesia yang merdeka nggak kalah serunya dengan romansa kehidupan cintanya. Ario Bayu memang nggak salah jika dipilih untuk memerankan tokoh ini. Untuk ukuran penonton yang hanya mengenal Soekarno lewat buku dan film dokumenter, postur dan aktingnya sangat meyakinkan.

Walau film ini utamanya tentang Soekarno, kehadiran Inggit Garnasih sangat mencuri perhatian. Saya makin mengenal sosok isteri keduanya ini. Bagi saya, eksplorasi pada sosok Inggit menguatkan karakter Soekarno itu sendiri. Kesabaran dan ketegaran hati seorang Inggit berhasil saya dapatkan di tangan akting ciamik Maudy Koesnaedy.

Simbol-simbol lain yang menguatkan sosok Koes juga tersaji apik. Adegan mic dengan suasana yang berpindah dari pidato HOS Tjokroaminoto (Roza) ke pidato Soekarno sangat brilian! Adegan ini bukan sekadar menyajikan lompatan waktu, tetapi menguatkan Soekarno sebagai “Singa Podium”. Adegan brilian lain, ketika Inggit dan Fatmawati memasangkan peci di kepala Soekarno. Walau kedua adegan ini terpisah scene, namun sama-sama menunjukkan simbol kharisma Soekarno di mata wanita-wanita yang menjadi isterinya itu.

Kemasan Berani

Terlepas dari polemik jalan sejarah yang ditampilkan dan pemilihan aktor utama film ini, Hanung Bramantyo, sang sutradara, layak diacungkan dua jempol. Bagi saya, nggak mudah menghadirkan tokoh sebesar Soekarno ke dalam sebuah film. Sebagai seorang tokoh, banyak orang akan merasa lebih kenal sosok Soekarno dibanding seorang Hanung. Sebagai sebuah sejarah, banyak orang akan mengaku lebih paham peristiwanya dibanding seorang Hanung. Tapi mengangkatnya ke dalam sebuah film bioskop? Hhhmm..

Hanung berhasil membelah kedua segitiga tadi ke dalam porsi yang pas. Bagi saya, Hanung mengemas film ini dengan berani. Bahkan sangat berani! Ada beberapa hal yang membuat saya mengerutkan kening. Contohnya, usul Soekarno untuk mengerahkan pelacur. Contoh lain, Soekarno difoto-foto di tengah romusha. Mungkin ini karena pengetahuan saya tentang sejarah yang masih minim. Semoga riset Hanung punya alasan kuat untuk menampilkan adegan-adegan tersebut.

Secara teknis, saya terganggu dengan beberapa hal. Pertama, scene seorang wanita yang menyematkan saputangan di saku Soekarno. Oh please, nggak harus se-lebay ini! Kedua, ketika scene masih menunjukkan para pelacur yang meronta-ronta diserbu serdadu Jepang, tiba-tiba muncul langgam Betawi yang riang dan scene berpindah ke suasana hiruk-pikuk kota Jakarta. Sebagai penonton, suasana hati saya yang sedang miris saat itu seketika drop. Yaelah banget, istilahnya.

Kembali ke Sejarah

Bagaimanapun, “Soekarno” tetaplah sebuah upaya untuk mengenalkan tokoh dan sejarah yang layak disimak. Harus diakui saat ini sedikit sekali produk seperti ini di layar lebar. Sutradara sekaliber Hanung Bramantyo pasti sudah berhitung cermat menengahi aspek film yang mencerahkan, menghibur, tanpa terkesan seperti sebuah film dokumenter yang membosankan.

Imbauan para penonton untuk berdiri di awal film demi lagu Indonesia Raya seperti sebuah suntikan mahal yang menggetarkan semangat dalam berbangsa. Apalagi saat krisis sosok pemimpin seperti saat ini. Kalau akhirnya film ini masih memunculkan polemik dan kontroversi, setidaknya film ini bisa jadi pelecut siapapun untuk kembali mengenal dan memahami sejarah. Ya, seperti pesan Bung Karno itu, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah..”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 8,859 other followers