Perahukayu

berlayar dengan cinta, berlabuh dengan rindu

Ah, Jakarta!

SANYO DIGITAL CAMERAHubunganku dengan Jakarta nggak jauh-jauh dari drama ‘benci tapi rindu’. Aku coba menghitung, sudah berapa tahun hidup di kota ini. Ternyata, lamanya lebih dari sepuluh jari. Selama itu pula dramanya berlangsung. Epik!

Dan, drama ini terjadi dengan pola yang sama. Baru dua hari meninggalkan Jakarta, eh sudah rindu lagi dengan kota ini. Atas nama bosan, aku—dan juga seantero warga Jakarta–, tentu sering kabur ke luar kota. Seringkali, masih di tol bandara pun rasanya jiwa sudah terbebas dari hiruk-pikuk ibu kota. Tetapi, tidak lebih dari dua hari, pikiranku sudah pulang duluan.

Itu tadi drama ditinjau dari sudut pandang eksistensialisme. Apa kabar sudut idealisme? Nah, ini yang memalukanisme. Benci macetnya, tetapi rindu rezekinya. Benci banjirnya, tetapi rindu hujannya, karena seringkali teriknya mendekati derajat neraka. Benci ingar-bingarnya, tetapi rindu benderangnya yang antipadam sampai pagi.

Daripada membahas kebencian, aku coba mengingat-ingat 5 hal terbaik dari Jakarta dalam hidupku akhir-akhir ini:

Gramedia Matraman

                Gramedia Matraman

1. Banyak Toko Buku

Ya iyalah, masak ibu kota negara minim toko buku? Eits, bukan soal jumlahnya. Di Jakarta toko buku nyaris ada di setiap mal, itu pun luasnya ajegile. Toko buku bukan sekadar untuk beli buku. Buatku, tempat ini lokasi piknik batin. Fungsi lainnya, meeting point, atau tempat menunggu yang nggak bikin mati gaya. Tempat favorit: Gramedia Mal Ambassador, Pejaten Village, dan Matraman.

'Ngemper' di Gerbang TIM

            ‘Ngemper’ di Gerbang TIM

2. Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini.

Ah, ini lagi lokasi piknik jiwa. Banyak tempat yang asyik dalam satu lokasi. Mulai dari gedung-gedung teater, bioskop, Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB. Jassin, planetarium, hingga emper kuliner. Yang terakhir ini favorit banget tempat ngopi dan bergajulannya anak-anak komunitas fiksimini.
IMG_98593. Deretan Toko di Cikini

Tiap menyusur deretan tokonya, rasanya sedang berada di antah berantah nun jauh dari Jakarta. Deretannya tidak panjang tetapi cocok disusur sambil melamun. Serasinya, di jejeran bangunan-bangunan tuanya terselip kedai-kedai kopi yang menawan mampir. Belakangan, sering mampir di Kedai Dua Nyonya.
Busway14. TransJakarta

Moda transportasi ini penyelamat buatku setiap mengandalkan kendaraan umum. Bukan soal transportasi saja, koridor-koridornya jadi semacam patokan dan penunjuk arah ke berbagai lokasi. Sampai di moda ini saja, aku sudah banyak mengirit waktu dan tenaga.
Plazfest5. Plaza Festival

Boleh dikata, di sinilah nadinya ‘pergaulan’-ku; mulai dari urusan kerja sampai upaya bertahan hidup sebagai anak nongkrong Jakarta! Apalagi sekarang menjadi lokasi favorit anak-anak komunitas fiksimini. Pilihan tempatnya banyak, dan rata-rata buka 24 jam. Lokasi favorit: Sevel dan McD.

Apa 5 hal terbaikmu di Jakarta? Jangan-jangan banyak yang sama dengan di atas.
Selamat ulang tahun kota ‘benci tapi rindu’-ku.
Ah, udeh 488 tahun aje, lu!

mimpi ketiban perahu

image

Jangan percaya dengan judul di atas. Tadi malam saya memang bermimpi tentang perahu ini. Tapi bukan perahu, saya ketiban serapah, “Itu blog-nya busuk banget dianggurin!”

Saya tidak tahu siapa yang menyusup ke mimpi. Tapi siang ini sahabat saya, Andre, menyusup ke linimasa twitter. Baca saja kicau di atas. Edun bin gelo, kok bisa pas?!

Dan, saya pun tergopoh-gopoh meloncati perahu murung ini…

Sebenarnya, saya sedang menyiapkan domain dotcom sebagai samudera baru. Saya bahkan sudah membelinya sejak Februari 2014. Beberapa posting pun sudah disiapkan.

Tapi, ya begitulah, manusia merencanakan, setitik niatlah yang menentukan. Jadi kesal sendiri mendapati perahu ini melarung durjana tanpa nakhoda.

Moral of the story: hati-hati dengan mimpi. Apalagi mimpi jatuh cinta, pastikan ada hati yang disusupi. #eh?

Kopi Itu Cinta

Sekopi apa hidupmu?

Sekopi apa hidupmu?

Eh, judul yang aneh!
Ya, begitu. Cuma itu yang terpikirkan kalau ditanya arti secangkir kopi dalam hidup saya. Kalau diurai secara romantis-bombastis, secangkir kopi adalah segalanya cinta. Ya, ini agak lebay. Sederhananya, sekopi apa sih saya ini?

Mungkin saya perlu menguraikannya secara strategis-fungsionaris (iya, ini lebay juga):
– Saya merasa dicintai pagi jika membuka hari dengan secangkir kopi. Tanpanya, saya merasa pagi menyembunyikan semangat saya di balik bantal.
– Saya merasa dicintai pekerjaan saya jika secangkir kopi selalu sigap di saat-saat mati angin. Karena pekerjaan saya menulis, biasanya imajinasi akan lancar datang digiring-giring harum kopi.
– Saya merasa dicintai kenangan manis jika secangkir kopi menyergap di saat senja, saat galau, apalagi saat kangen. Ihiy!

Ya ampun, baru tiga hal itu saja secangkir kopi sudah bikin hidup saya keren! Ada kopi, ada cinta, ya ini baru namanya hidup. Lalu, sekopi apa hidupmu?

***

Tulisan khusus untuk #DiBalikSecangkirKopi @IniBaruHidup
Twitter: @Oddie__
FB: Oddie Frente

setumpuk mau

image

dini hari ini terbuat dari sehimpun buku puisi dan sekumpulan buku cerita-cerita pendek. aduhai, intelek nian kau membuka hari.

kau memilih-milih yang bertumpuk-tumpuk di rak, yang berlelap-lelap menanti matamu.
kau menimang-nimang sekian nama, yang berpijar-pijar menggelinjang benakmu.

mari kita kawin!
itu maumu.

Sadar Keberagaman Sejak Dini

Buku Tematik untuk Kelas 1 SD

Buku Tematik untuk Kelas 1 SD

Masih ingat dengan Budi, Wati, dan Iwan dalam buku pelajaran ketika SD? Saya yakin semua alumni SD setanah air masih menyimpannya dengan baik di dalam ingatan. Di Kurikulum 2013, mereka semua dilengserkan!

Saya sebelumnya menulis tentang Kurikulum 2013 di Kompasiana, http://edukasi.kompasiana.com/2014/09/19/apa-yang-baru-di-kurikulum-2013-679792.html  Satu hal seru lain yang saya temukan adalah apa yang saya sampaikan di atas. Ke mana perginya Budi, Wati, dan Iwan? Peran mereka sebagai aktor di buku pelajaran SD sejak kelas satu hingga enam telah dibubarkan. Di kurikulum baru, peran mereka digantikan oleh bintang-bintang baru; Edo, Siti, Dayu, Lani, dan Beni.

Proses audisi bintang-bintang baru tersebut dilakukan dengan tujuan yang spesifik. Edo yang keriting, cerminan orang Papua. Ada Siti yang berjilbab dan Dayu yang disebutkan berasal dari Bali. Kemudian ada Lani yang sipit keturunan Tionghoa dan Beni yang berdarah Batak.

Keunikan karakter-karakter ini tidak lain untuk memperlihatkan keberagaman masyarakat Indonesia. Masalah keberagaman adalah tantangan saat ini dan di masa mendatang untuk memperkuat kesatuan. Keberagaman, paling mudah diusik untuk mencerai-beraikan bangsa.

Alangkah tepatnya keberagaman bangsa diperlihatkan sejak dini. Tidak semua anak mengenal keberagaman sejak SD. Dulu ketika SD, saya bersekolah di yayasan Katolik. Saya sudah terbiasa bergaul dengan teman-teman keturunan Tionghoa, indo campuran, pastor-pastor yang kebanyakan dari daerah Nusa Tenggara, Jawa, bahkan pastor tembak langsung dari Belanda.

Ketika kelas tiga SD, saya pindah ke sekolah yang isinya kebanyakan anak prajurit TNI. Di sini saya memiliki teman yang lebih beragam lagi. Beragam daerahnya, beragam pula agamanya. Selain kebanyakan dari Jawa, teman-teman saya ada yang berdarah Batak dan Aceh. Saya terheran-heran betapa jauhnya letak kota Sigli di Aceh, tempat asal Rahman, teman sekelas saya waktu itu.

Ketika kelas lima SD, saya bersekolah juga di sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Di sini semua agamanya sudah pasti sama, Islam, tetapi teman-teman saya datang dari beragam daerah. Mulai dari Ternate, Palu, Makassar, dan yang keturunan Arab.

Betapa beruntungnya saya telah mengenal keberagaman sejak SD. Lingkungan secara tidak sengaja membeberkannya. Saya lalu berpikir, apa jadinya dengan seorang anak yang hidupnya tidak berpindah-pindah? Ia hidup jauh di pelosok dengan kemungkinan kecil berinteraksi dengan orang yang datang dari daerah dan etnis yang berbeda dengannya.

Memang, saat ini teknologi informasi sedemikian tangguhnya menembus ke pelosok dunia mana pun. Tetapi, apakah orang tua siap sedia menjelaskan setiap pertanyaan anaknya? Saya melihat Kurikulum 2013 secara proaktif dan terang benderang memaparkan keberagaman ini. Siswa SD pun akan mendapat penjelasan dari gurunya tanpa perlu repot bertanya. Apalagai anak kelas satu SD, setiap ada hal baru–apalagi yang berbeda dengannya—akan menjulangkan berjuta rasa penasaran.

Kurikulum 2013 ibarat menyodorkan lem perekat jenis super untuk kesatuan bangsa. Menurut saya, kurikulum ini ‘memaksa’ keberagaman harus diakui, bukan hanya sekadar mengenal. Ini tentu dalam konteks yang positif. Kalau cuma mengenal saja, superioritas daerah atau etnis tertentu akan muncul secara berlebihan. Jangankan diusik oleh pihak asing, antar kita sendiri pun bisa ‘senggol-bacok’ kalau lemnya abal-abal. Setujukah para penumpang yang budiman?

tentang

apa pun tentangmu
tak ada selesai
menentang

kalau saja bukan tentangmu
ada yang selesai
tentangku

Apa Kabar?

Aku Bahagia
“Apa kabar?”
Iya, ini pertanyaan basa-basi. Tapi bukankah pertanyaan ini mujarab membuka percakapan? Bahkan untuk orang yang pelit berbasa-basi sekalipun, pertanyaan ini kerap terlontar. Seakan sudah otomatis, penduduk di belahan dunia manapun akan menggunakan kalimat ini sebagai standar dalam pergaulan.

Seakan otomatis pula, jawaban standar sudah tersedia tanpa konsensus: “Baik”, “Kabar baik”, “Alhamdulillah, baik”, “Sehat, alhamdulillah..”

Mungkin, sudah tiga tahun terakhir ini saya punya jawaban tambahan dari standar yang di atas: “Alhamdulillah, sehat, dan bahagia!”. Ya, saya tahu ada juga orang lain yang menggunakan jawaban ini tapi dalam setahun sepertinya saya hanya mendengar sekali.

“Sehat dan bahagia.”
Kelihatannya kata terakhir itu lebay berdarah-darah. Tapi saya punya 5 alasan kenapa kata itu harus saya tambahkan:
1. Setiap orang ingin bertemu dengan orang yang bahagia.
2. Walau perasaan saya lagi kesal, kata itu pengingat untuk saya sendiri supaya kapan pun dan dengan cara apa pun, saya harus bahagia. Kata itu doa untuk saya sendiri. Dan siapa tahu jadi pengingat pula untuk orang yang mendengarnya.
3. Bahagia itu menular. Tapi, saya tidak punya niat untuk jadi Duta Bahagia. Setiap orang adalah Duta Bahagia untuk kebahagiannya sendiri.
4. Kata ‘bahagia’ itu seksi banget! Walau kita lagi bahagia, jarang kan kita mengucapkan “Saya bahagia” untuk diri sendiri? Kata itu membuat saya merasa jawaban saya unik. Unik adalah bagian dari keseksian. Ehem!
5. Kalau di no.2 saya bilang kata itu sebuah doa, yang terakhir ini saya tambahkan: kata bahagia adalah obat perangsang. Walaupun belum pernah mencoba Viagra, saya yakin obat yang satu ini lebih dahsyat. Saya ingin bahagia saya tahan lama dan terus bertambah dalam setiap apa pun yang saya lakukan setiap waktu.

Nah, jangan ragu-ragu berbasa-basi dengan pertanyaan ini setiap bertemu saya. Tak apa walau kita baru berpisah lima menit sekalipun. Saya ingin mengucapkan kata ‘bahagia’ sesering mungkin untuk diri saya sendiri. Perasaan bahagia adalah bentuk syukur yang sederhana.

Apa kabar para penumpangku? :)

 

 

sepasang mata

eye
sepasang
mata itu
tak mau menyebut nama
pada sepasang mata ini
yang mencuri

sepasang mata itu
terlampau api
pada sepasang mata ini
yang terbakar sendiri

bilakah sepasang mata itu
tersesat lagi
pada sepasang mata ini?

***

 

Pertanyaan Terburuk di Dermaga

SANYO DIGITAL CAMERAMatahari sedang memanggang ubun-ubun ketika aku terpacak di ujung dermaga. Lalu, sebuah pertanyaan membuka percakapan.

“Dari mana saja sejak Januari?” tanyanya.
Aku terdiam. Belum terpikir sebuah jawaban. Untuk sementara waktu, aku lupa di mana menyimpan suaraku. Andai bisa kucuri suara angin siang itu untuk sekadar mendesis basa-basi menjawabnya.

“Dari mana saja??” Ia mengulang pertanyaan.
Kali ini suaranya meninggi, namun aku masih terdiam. Kualihkan pandang pada reriak ombak yang menggoyang-goyang terik siang. Andai di situ tersimpan suaraku, mungkin aku bisa meminjamnya untuk membunyikan sebaris kalimat yang ada di benakku.

“Dari mana saja???”
Suaranya kian meninggi, mendengung telingaku. Entah bagaimana menjelaskannya, dengung itu berulang hingga mengusik apa yang kupikirkan sebagai jawabannya.

Aku masih bergeming kehilangan suara. Tatapanku belum kualihkan dari reriak ombak. Aku bagai anak kecil yang sedang dimarahi ibunya. Mati gaya kehilangan jiwa. Yang kutahu, aku benci dengan pertanyaan itu. Aku benci, sangat benci! Aku juga membenci diri sendiri kenapa harus melupakannya selama itu. Sejak Januari? Ya tuhan, aku bahkan bertanya sendiri dengan pertanyaan yang baru saja kunobatkan sebagai pertanyaan terburuk di dunia ini.

Masih dalam kebisuan, kulepaskan tali penambatnya, lalu tanpa aba-aba kuturunkan tubuhku dari dermaga ke tubuhnya. Kudayung saja tubuhnya, pelan-pelan, melarung bersama. Semakin jauh dari dermaga, kiranya kami berdua pura-pura lupa. Ia pura-pura lupa dengan pertanyaan terburuknya, menurutku, dan aku pura-pura lupa menjawabnya.

Saat terbaik membenci diri sendiri adalah ketika melupa terlalu lama..

 

Tenggelamnya (Janji Setia Bersama) Kapal Van der Wijk

vlcsnap-2014-01-04-06h10m59s19

Jika cinta telah datang, sebuah janji yang tersulit pun akan menggetarkan bibir dengan mudah.

Kalau sebuah janji terucap dari seorang cowok, maka tentu ini nggak aneh karena bibir cowok tersusun dari sel-sel gombal. Lha ini, terucap dari seorang cewek seperti Hayati (Pevita Pearce)! Cowok mana yang nggak akan berantakan jiwanya? Apalagi, Hayati adalah kembang dari Batipuh yang jadi pemuncak tujuan segala sayap kumbang. Dan kumbang yang berantakan jiwanya itu adalah Zainuddin (Herjunot Ali).

“Engkaulah Zainuddin, yang akan menjadi suamiku kelak. Bila tidak di dunia, kaulah suamiku di akhirat.”

Jederrr!

 vlcsnap-2014-01-04-06h09m12s233

5(lima) hal yang nggak asyik menurut saya dari film ini:

  1. Warna kebiruan pada frame dengan setting Batipuh. Saya nggak ngerti ini maksudnya apa. Yang pasti, mata saya nyaris kram karena nggak nyaman. Padahal, di sinilah momen “uwuwuw” ketika Zainuddin terperosok ke dalam kerling malu-malu Hayati.
  2. Seluruh adegan dengan setting Kapal Van der Wijck. Paling malesin saat penumpang “dadah-dadahan” ala Titanic. Saya nyaris tutup muka karena malu dengan hasil kerja yang nggak rapi itu. Padahal, saya cuma penonton, bukan yang bikin filmnya..
  3. Alasan tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang absurd. Tiba-tiba kapal langsung miring menumpahkan Hayati dan penumpang lainnya. Saya sih belum baca versi novelnya yang ditulis Buya Hamka ini. Tapi, lebay banget kan alasan tenggelamnya hanya karena ada Hayati yang hatinya sedang berat banget harus meninggalkan Zainuddin?
  4. Lagu latar yang terus diulang dan berisik. Kalaupun diulang, mbok ya versi instrumentalnya aja gitu.
  5. Gestur Muluk (Randy Danistha) yang bandel tapi masih kurang berangas. Tapi sebagai pendatang baru, Randy sudah okelah. Paling nggak asyik pada karakter Ida (saya nggak tahu siapa pemerannya), teman Hayati. Rasanya pemeran Ida ini sedang bermain sandiwara sekolah.

Nah, ini dia 5(lima) hal yang bikin saya nggak menyesal menonton film ini:

  1. Penampilan Herjunot Ali, Pevita Pearce dan Reza Rahadian yang ciamik. Reza tampil prima sebagai Aziz yang glamor dan parlente. Sementara untuk Herjunot dan Pevita, inilah penampilan terbaik mereka selama ini. Herjunot tampil konsisten dengan aksen Bugis yang kental. Kelihatan banget dia lompat kelas dari penampilannya di film ini. Khusus untuk Pevita, saya tidak menyangka dia akan sebagus ini penampilannya. Terlepas dari kekurangannya pada aksen yang kurang terjaga, Pevita sangat mengejutkan!
  2. Beberapa gambar diambil dengan sudut yang ‘niat’ banget untuk ukuran film lokal. Scene spektakuler banget ketika Aziz sedang ngebut dengan mobilnya. Diambil dari atas dan menyusur laju mobil di tengah padang. Rumah megah Zainuddin pun diekspos dengan apik, terutama ketika diambil dengan kamera jarak jauh.
  3. Setting Minangkabau di tahun 1930-an membuat dialog film ini sangat sastrawi bahasanya. Ini sesuatu yang beda. Semoga makin banyak novel klasik yang diangkat ke film supaya telinga penonton Indonesia makin terbiasa mendengar keindahan klasik bahasanya sendiri.
  4. Sekali lagi, saya memang belum membaca novelnya. Tadinya saya mengira ini cuma seputar cinta segitiga dan urusan kapal yang tenggelam. Ternyata, konflik cukup padat sepanjang cerita. Film jadi nggak membosankan.
  5. Film klasik dengan setting rumit seperti ini membuat pekerja film makin naik kelas dan penonton Indonesia makin pintar. Penonton Indonesia perlu film-film seperti ini. Salut atas hasil kerja sutradara Sunil Soraya dan timnya!

Dari lima dayung perahu, film ini layak dapat rating 3,5 dayung, deh! Bagaimana menurut kamu, Penumpang Perahu Kayu? Ayo, ke bioskop!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 9,121 other followers