Becak, becak..Tolong Bawa Saya!

Kalau berlibur di Yogyakarta, rasanya kurang afdol kalau tidak menyempatkan naik becak. Ya, becak. Kendaraan tradisional yang banyak terdapat di setiap sudut kota Yogya. Sayapun demikian, selalu menyempatkan naik becak yang ramah lingkungan ini (tapi tidak ramah di dengkul tukang becak..). Selain itu, bebagi rejeki..

Ya, berbagi rejeki. Kedengarannya saya makhluk  yang penuh kepekaan sosial tinggi hohoho.. Terserahlah, saya selalu kagum dengan ‘harga’ yang ditawarkan para penarik becak di Yogya. Masalah harga atau ogkos ‘narik inilah yang membuat saya tertarik menulis khusus tentang ini.

Sebagian orang selalu mewanti-wanti agar harus pintar menawar ongkos becak karena akan dimahalin. Memang kita harus menawar, asal sesuai dengan jarak tentunya. Tapi lihatlah bahwa kadang kita naik becak di siang bolong dan mesin yang kita pakai adalah tenaga ‘genjot’ manusia. Dan anda berlibur, kenapa harus pelit? Kan tidak setiap hari anda naik becak. Saya heran dengan orang-orang yang pergi melancong ke berbagai benua menghabiskan uang namun menaikkan sedikit harga untuk saudaranya sendiri seakan menjadi hal yang tabu.

Pernah suatu hari (Agustus 2009) saya naik becak yang mangkal di depan Hotel Brongto dan berniat keliling ke berbagai toko batik dan makan siang di Malioboro. Hotel terletak di alun-alun selatan Keraton (utara apa selatan ya?hehehe) dan kami berkeliling di daerah sekitar keraton melihat-lihat batik di hampir 6 toko, lanjut makan siang, pulangnya masih mampir sana-sini beli buah dan cemilan. Pergi dari sekitar jam 9 pagi dan selesai jam 3 sore. Coba anda hitung, berapa jam saya kencan dengan becak..

Sampai di hotel, saya tanya harganya ke tukang becak (lupa namanya). Tadi pagi saya langsung naik dan minta diantar aja, tidak negosiasi harga dulu. Pikir saya, dulu dengan jarak yang lebih jauh dan waktu yang lebih lama (dari Jl. Sosrowijayan) cuma diminta Rp. 30.000. Jadi, saya sudah siap-siap uang Rp. 40.000. “Berapa, Pak?” . “20 ribu aja mas..” Gubrakkk! Saya kaget sekaligus terharu melihat baju bapak penarik becak yang basah. Karena sudah niat mau kasi lebih, ya sudah saya kasi 2 lembar uang 20 ribuan yang diterima dengan penuh sukacita, syukur dan bahkan nyaris cium tangan! Mungkin waktu saya bilang bahwa ambil saja semua uangnya, dalam hati si bapak akan teriak juga: Gubrakkk! hahaha…

Uang memang tidak pernah tidak ada harga di Yogya. Bayangkan aja, 20 ribu itu harga makan siang di warung Padang kelas menengah di Jakarta tapi di Yogya kita bisa keliling becak berjam-jam! So, hey orang Jakarta! Jangan pelit untuk saudaramu sendiri (sambil nunjuk ke diri sendiri hehehe).

Maukah anda naik becak di Yogya dan sedikit memberikan lebih? Ayo, kalau anda lakukan ini, please leave your comment..share please. Becak, becak..Tolong Bawa Saya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s