Hachiko dan Ringgo

Beberapa hari terakhir semua orang membicarakan film ini. Kisah menyentuh tentang kesetiaan seekor anjing. Sebuah film yang layak ditonton untuk mengingatkan kita bahwa ada kesetiaan yang kekal hingga akhir hayat bahkan untuk seekor anjing sekalipun. Film ini adalah pengulangan versi Hollywood yang diperankan Richard Gere. Film asli adalah versi Jepang di mana kisah tersebut terjadi sebenarnya. Kata teman, versi Jepang lebih menyentuh, lebih menguras emosi..

Kisah Hachiko ini mengingatkan saya dengan anjing piaraan keluarga kami, Ringgo, blasteran anjing herder dan kampung. Rumah kami memiliki halaman yang sangat luas. Ringgo menjadi penjaga halaman yang berisi pohon mangga, rambutan, alpukat dan jambu air yang selalu berbuah lebat. Tepat di samping rumah kami ada sebuah mesjid. Sudah barang tentu Ringgo sering diusir bahkan dilempari batu jika melewati mesjid, padahal hanya melewati halamannya saja.

Suatu hari Ringgo menggemparkan keluarga pak imam mesjid dan hampir sekampung. Pak imam yang sudah tua pergi ke ladang setelah sholat subuh dan terjatuh pingsan! Ringgo membuat keributan di rumah pak imam yang terletak di seberang mesjid. Ringgo terus menggonggong keras dengan gerakan berlari bolak-balik ke arah ladang. Hal itu dilakukan berulang-ulang hingga anak pak imam merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dan benar saja, Ringgo menuntun anak pak imam itu menuju ladang dan menemukan pak imam yang tergeletak tak sadarkan diri. Syukurlah sejak saat itu pak imam bisa sehat kembali.

Pak imam bercerita bahwa Ringgo selalu hadir menemani saat waktu sholat subuh. Seolah pertemanan mereka yang terlarang itu hanya dapat dilakukan di saat subuh di mana sangat jarang orang datang ke mesjid dan jika Ringgo datang di saat lainnya maka akan selalu diusir dan dilempari oleh jamaah yang datang. Ringgo akan menunggu pak imam hingga selesai sholat dan mengantarkannya pulang dan kemudian berlanjut mengikuti pak imam ke ladang. Kami sama sekali tidak mengetahui apa yang dilakukan Ringgo setiap waktu subuh itu.

Setelah kejadian itu, Ringgo mempunyai tempat khusus di sudut pekarangan mesjid. Pak imam menyediakan selembar karung goni agar Ringgo dapat menunggu tanpa kedinginan. Yang lebih mencengangkan lagi, Ringgo akan mengambil sendiri karung tersebut dan kemudian menyimpannya kembali setiap subuh. Jamaah mesjid akhirnya merasa tidak terganggu dengan Ringgo bahkan selalu menanti kehadiran Ringgo setiap subuh. Ringgo meninggal karena sudah sakit dan sudah tua. Jasadnya dimakamkan di ujung pagar di bawah pohon mangga berbuah rimbun yang dulu selalu dijaganya. Pagar itu sendiri berbatasan langsung dengan mesjid sehingga Ringgo akan selalu dapat dekat dengan sahabatnya, pak imam mesjid. Beberpa tahun kemudian pak imam meninggal. Saya yakin Ringgo senang sekali bertemu kembali dengan sahabatnya itu..

Advertisements

4 thoughts on “Hachiko dan Ringgo

    1. wah makasih mbak Dian.. saya membayangkan kalau dibuat filmnya pasti mengharubiru seperti Hachiko..
      khayalan lainnya adalah, pak imam masjid diperankan Deddy Mizwar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s