Bukan Semalam di Cianjur

Lebih dari sepuluh tahun kita tidak bertemu. Aku kaget, selama itukah kita tidak bertemu? Kau tampak lebih kurus. Uban sudah mulai subur mengarsir rambutmu. Tapi ada yang tidak pernah berubah darimu, kesederhanaanmu yang selalu membuatku takjub!

Kau menyambutku seperti saudaramu yang telah hilang berpuluh tahun. Genggam tangan yang erat dan pelukan rindu mata berkaca-kaca. Kolam ikan belakang rumahmu yang tak berubah menjadi saksi siang penuh emosi itu. Kitapun tertawa lebar, selebar kolammu..

Rumahmu dan isinya selalu hangat menyambutku. Tidak banyak yang berubah selain keponakan-keponakanmu yang telah tumbuh menjulang dan telah bertambah. Tapi aku kehilangan kehangatan Emak yang telah setahun berpulang. Aku seperti pulang ke rumahku sendiri.

Tahukah kamu bahwa kedatanganku membawa beban yang berat yaitu rindu teman-teman yang tak sempat datang? Kulunaskan semua rindu itu atas nama mereka. Atas nama persahabatan yang tulus dan panjang tak berbatas.

Malam pertama terasa pendek dengan semua cerita yang kita pertukarkan. Kamu memang terbaik dalam membuat kopi, yang membuat kita tahan menciptakan satu babak percakapan drama malam itu.

Aku senang melihat kamu sehat dan kuat dengan badan tipismu itu, Kun. Semua kebahagiaanmu di sini adalah kecemburuanku. Tidak perlu kuliahmu tak selesai dan aku tidak datang untuk membahas itu. Kau telah menemukan jejakmu sendiri yang membuat aku mengerti tentang sebuah ikhtiar..

***
Catatan malam kedua di Maleber,Cianjur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s