Seri Komunikasi Media Sosial (2) – Cukupkah Kebebasan Berekspresi dan Bertanggungjawab?

Cukupkah bebas berekspresi dan bertanggungjawab dengan akibatnya?

Pernyataan ini sangat mengusik. Beberapa waktu lalu beberapa teman maya saya berdebat soal kebebasan berekspresi, mengeluarkan pendapat dan komentar. Pemicunya hanya soal setuju dan tidak setuju yang ujungnya tidak ada titik temu.

Kejadian di atas saya temui di Twitter. Media sosial paling interaktif yang saya temui saat ini. Satu pihak mempertahankan pendapatnya soal kebebasan berekspresi. Pihak lain memberikan respon karena ekspresi yang disampaikan tersebut menyinggung. Polemikpun terjadi. Sayapun menarik beberapa catatan dari polemik itu :

1. Kebebasan Berekspresi.
Betul, saya sangat setuju bahwa setiap orang dapat mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Dalam pola didikan bangsa ini yang serba sungkan, kebebasan ini adalah hal yang sulit ditemui. Tidak semua orang memiliki keberanian untuk itu. Tetapi semua orang terlahir dengan hak yang sama.

2. Bebas Bertanggungjawab.
Semua ekspresi selalu ada konsekuensi dan kita bersiap untuk menerima persetujuan sekaligus penolakan. Kalau setuju, tidak masalah. Jika tidak, kita juga harus siap dengan respon orang lain dengan hak berekspresi yang sama. Bertanggungjawab bukan hanya sekedar memiliki dasar yang kuat akan hal yang kita ekspresikan. Lebih dari itu, kita harus memahami bahwa tidak semua orang punya pikiran dan perasaaan yang sama dengan kita. Bersiaplah menerima bahwa berkomunikasi harus ada pengertian dan pikiran yang terbuka untuk memahami perbedaan. Cukupkah sampai di sini?

3. Etika.
Ini yang sering terlupakan. Orang hanya berasumsi bahwa adalah haknya dia untuk berekspresi apa saja. Itu memang benar. Tapi perlu diingat, interaksi yang dilakukan di media sosial. Bukan sekedar dalam catatan harian pribadi. Sosial berarti melibatkan pihak lain. Etika yang dimaksud adalah sopan santun dalam berkomunikasi. Santun dalam memilih kata dan tahu mana area yang layak dan tidak layak.

Mungkin salah satu contoh yang menjadi perbincangan adalah seorang mahasiswa ITB yang menyinggung masyarakat Papua hanya karena menulis status di Facebook. Akibatnya sungguh fatal.

Beberapa tips untuk Kebebasan Berekspresi, bertanggungjawab dan beretika di media sosial.

1. Ingatlah selalu, media sosial bukan buku harian sebagai tempat sebebas-bebasnya menumpahkan pikiran dan perasaan. Memang itu akun Anda pribadi, tetapi terbaca oleh banyak orang yang terdiri dari yang mengenal Anda dengan baik maupun tidak.

2. Jangan menyinggung SARA. Berhati-hatilah, sebuah status yang Anda anggap tidak terlalu penting atau hanya sekedar seru-seruan malah akan memunculkan kelengahan dalam berekspresi.

3. Jangan selalu berpikir : “Inilah saya, ini pendapat saya, terima atau tidak terima!” Ini adalah pikiran dengan ego terlalu berlebihan. Hey, ini media sosial! Orang tidak akan peduli dengan karakter pribadi Anda yang suka bicara blak-blakan misalnya. Orang yang baru kenal dan hanya sekedar teman maya tidak bisa kita paksakan memahami karakter Anda di dunia nyata. Yang mereka lihat cuma satu: interaksi Anda!

4. Berhubungan dengan poin 3, Anda harus menerima etika standar yang berlaku di masyarakat umum jika Anda berinteraksi di media sosial. Orang tidak peduli siapa Anda dan jangan berharap orang mengerti dan menerima begitu saja kebebasan berekspresi Anda. Contohnya: Seseorang berinteraksi dalam satu komunitas dengan dasar yang sama. Setelah sekian lama berinteraksi dengan menyenangkan, tiba-tiba datang kejenuhan dan suatu hari ia menulis status: “Sebenarnya saya bosan lho, berdiskusi di sini.” Danggg! Ia telah menyulut sebuah bom ketersinggungan. Seharusnya perasaan itu tidak diungkapkan. Simpan saja dalam buku harian pribadi. Teman mayanya mungkin akan berpikir “Apakah pembicaraan dengan saya yang menyebabkan ia bosan?”, “Apakah ia terpaksa berinteraksi dengan saya?”, “Apakah saya penyebab kebosanan dalam berinteraksi di komunitas?”, “Apakah komunitas ini telah menjadi sampah yang mejenuhkan?” Lihatlah berbagai kemungkinan pertanyaan akan muncul dan dapat merusak interaksi.

5. Bersopan-santunlah. Teman maya Anda bisa beragam. Bahkan seorang anak sekolahpun butuh ini. Pernah kejadian seorang anak SMA dilaporkan ke polisi hanya karena menulis status di Facebook bernada ancaman terhadap gurunya. Hindari mengumpat dengan kalimat kasar, tidak senonoh atau menjurus pada pihak-pihak terntentu. Jangan menggali kuburan sendiri.

6. Gunakan bahasa yang baik. Bahasa adalah pengantar komunikasi. Pengetahuan bahasa sangat penting. Pilihan kata yang baik dapat membuat sebuah umpatan menjadi lebih sopan. Sapalah dengan standar sopan santun normal untuk orang yang baru Anda kenal atau belum dikenal baik. Misalnya, Pak, Bu, Mas, Mbak, Kak, Abang dan lainnya. Pemakain kata “Anda” yang langsung kepada pihak yang Anda sapa akan terdengar tidak sopan.

7. Apa tujuan Anda berinteraksi? Memperluas pertemanan, mencari informasi, menjual sesuatu misalnya. Tujuan Anda menentukan fokus interaksi.

8. Bersenang-senanglah di dunia maya. Jangan sampai membuat Anda susah, cukup dalam dunia nyata saja. Berpikirlah positif untuk melihat setiap sudut pandang orang lain. Berikan energi positif untuk orang lain!

Jadi, kebebasan berekspresi tidak sekedar membutuhkan tanggungjawab kan? Etika mendasari segalanya. Ini bukan buku harian, bung! 🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s