Sibuk Ibuku dan Tamu Istimewa

Aku selalu ingat saat-saat Ramadan berkunjung ke rumah. Setiap tahun, rumah kami berhias senyum suka cita. Kalau ia datang, Ibulah yang paling sibuk menyiapkan suguhan bagi sang tamu istimewa itu. Sejak pagi Ibu telah memasak. Kami menerka-nerka hidangannya. Harum masakan yang berlari dari dapur seperti membawa pesan teka-teki.

Saat malam, Ayah terus memantau TV. Jika tamu diberitakan akan datang, Ayah akan segera memberitahu kami. Seisi rumah semakin berdebar-debar. Antara senang dengan kedatangan tamu dan membayangkan nikmatnya hidangan Ibu yang akan kami santap bersama. Ibu semakin sibuk. Senyum adalah buah dari semangatnya. Untungnya Ibu dikarunia bakat memasak dan kelincahan.

Jam 2 dini hari biasanya Ibu telah bangun. Memanaskan yang sudah dimasak sore dan meracik sayuran baru. Hidangan tidak sama dengan makan siang dan malam. Hari ini spesial. Ibu terus menguasai tahta dapurnya. Ayah bangun dan kemudian membangunkan aku dan adik-adik. Rasa kantuk dikalahkan suka cita menyambut tamu dan makan enak.

Aku mendengar seruan dari pengeras suara dari surau di samping rumah kami. Suara yang sangat dikenal di desa kami itu terus mengajak orang untuk bangun dan bersiap diri. Ya, warga desa akan kedatangan tamu yang sama pada waktu yang sama. Ibu semakin bersemangat ketika suara itu menyebut nama Ibu sekedar menyapa. Kami semua tersenyum melihat rona pipi Ibu.

Tiba waktunya, meja makan telah terisi berbagai hidangan, lengkap dengan kami semua di sekelilingnya. Mata kami berbinar, liur kami menari di hadapan hasil karya Ibu. Ayam bakar diguyur kuah santan kental berbumbu pedas, daun pakis dan melinjo tumis, sop kacang merah dan ikan cakalang saos cabai. Itu makanan beratnya. Setelah selesai, tak perlu menunggu lama untuk menghabiskan kue-kue dan buah-buah segar. Istimewa sekali!

Ibu terlihat puas melihat kami begitu kenyang. Ayah seperti baru saja keluar dari mangkok sop kacang merah kesukaannya. Aku dan adik-adikku lunglai, hidung kembang kempis berebut oksigen. Sejak pagi itu, sebulan penuh kami menikmati datangnya tamu istimewa itu. Ibu akan terus sibuk penuh bahagia mengejutkan kami dengan semua hidangan-hidangan lezat sempurnanya. Selamat sahur, selamat menginjakkan kaki di hari pertama Ramadan!

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s