Kotaku Takut Hanya Berisi Waktu

Kotaku berlumuran waktu, yang terpakai, mubazir dan yang usang. Lihat saja sejak pagi hingga petang. Waktu bergelimpangan di gang sempit, halte, terminal, jalan-jalan berlobang hingga di atap gedung-gedung tinggi. Belum lagi jika hujan merayu waktu. Ribuan waktu terbuai, berenang di selokan mampet. Mereka menyumbat tanpa malu. Di mana-mana.

Siapa bilang kotaku tak kenal waktu? Mereka ada di mana-mana. Heran, orang masih terus mencarinya tanpa kapok. Anak terpisah dari ibunya. Istri terpisah dari suaminya. Makanan terpisah dari liur para pelapar. Itu karena waktu.

Siapa bilang kotaku menyembunyikan waktu? Mengaku saja, mereka kau simpan dalam saku kemeja necismu. Bergelantung di celana licin-seterika. Terhimpit rok-rok sempit wanita-wanita di gedung pencakar. Bersembunyi di dalam cangkir kopi soremu. Kadangkala kau samarkan dalam kata yang meluncur dari celoteh menjilat direktur galak.

Kotaku sarang waktu. Mereka beranak pinak. Subur seperti tikus di rumah sakit. Kau saja yang malas mencari. Kotaku sudah bosan menelan kembali telur waktu sebelum tetas. Kotaku takut hanya terisi waktu dan tak bersisa manusia.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s