Tiga Ular Menunggu Mati

Seorang kawan bercerita, ia bekerja pada tiga ekor ULAR. Dua gemuk, satu kurus. Tiap hari menyamar menjadi manusia. Kawanku tahu rahasia.

ULAR pertama,
Betina gemuk desis melengking. Ia ratu tapi sungguh sesuka hati. Mabuk puja-puji padahal ia sudah ratu. Muka penuh teka-teki. Semua bisik ditelan karena tak bertelinga. Berpikir keras namun tak pasti.

ULAR kedua,
Jantan gemuk muka tak bergelombang. Kepalanya membatu tidak mengenal kompromi. Cerdik licik rapih tanpa bekas. Licin kulit berganti-ganti. Penuh hati-hati karena ia tahu cara meliciki.

ULAR ketiga,
Jantan sedang muka melelahkan. Bangga paling tahu dengan sedikit yang ia tahu. Tidak bependirian sebagai ular. Cepat sekali tenggelam dalam emosi. Belum mendengar sudah bertitah.

Kawanku sungguh malang. Tiap hari membereskan sarang busuk mereka. Ia tahu di mana mereka menyimpan bisa. Mematikan sudah pasti, busuk ditambah lagi. Tiga Ular semakin dirampas usia, diperkosa penyakit. Menunggu mati sudah pasti, segera tak perlu dinanti.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

One thought on “Tiga Ular Menunggu Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s