Sebatang Rokok yang Jatuh Cinta pada Bibir Pengisapnya

JATUH CINTA. Bibirnya mencumbu hisapan. Gincu merah adalah prasasti nisannya. Keinginan sebatang rokok itu terkabul.

Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Sejak bungkus terbuka, aku tahu wanita cantik ini adalah takdir cintaku. Bibirnya, jari lentiknya dan suaranya membuat semua penantianku di rak warung berhari-hari menjadi tidak sia-sia. Sayang, dalam kotak itu aku berada di pojok terkiri. Teman-temanku di barisan tengah pasti yang akan digilir pertama kali.

Sudah berjam-jam aku menunggu. Tiga temanku telah tergilir. Hey, kapan giliranku? Kenapa jari dengan kuku merah itu belum menggapaiku. Padahal, aku sengaja menengadah agar teraih. Uh, selalu saja barisan tengah. Mesin pabrik itu telah salah menempatkanku di pojok begini. Aku mulai takut. Bagaimana jika ada teman wanita itu yang meminta kami darinya dan aku yang terambil? Oh tidak, aku hanya mau dicumbu bibir itu.

Wanita itu menerima telepon. “Halo, iya ini Kika.” Oh, namanya Kika rupanya. Dia pasti tahu namaku. Aku dan teman-teman memiliki nama yang sama. Kulihat Kika bercakap-cakap. Aku bisa mengintip puas bibirnya. Gincunya semerah kukunya. Dia kemudian menutup telepon dan beranjak ke pintu. Seorang lelaki muncul, mengecup dan menggandengnya manja. Aku cemburu. Mata dan kuping kukunci rapat.

Sejam berlalu, akupun terambil. Senangnya! Lelaki itu telah pergi. Kika membakar ujung tubuhku. Bibir itu menjepit pangkalku erat. Aku memulai tugasku. Setiap bibir itu menjepit, gairahku seperti terhisap ke dalam jiwanya. Tapi kulihat matanya berkaca-kaca. Kika menangis tanpa suara. Asapku yang menari-nari tidak berhasil menggoda tatapan kosong itu. Aku tergeletak di asbak. Kika terus menerawang. Oh Kika, apa yang terjadi? Lelaki itukah penyebabnya? Hisaplah aku! Jangan biarkan aku ikut merana tanpa kecup bibirmu. Setengah jam berlalu, apiku habis membakar diriku sendiri. Tubuhku mengabu tak berasap lagi. Hanya beberapa kali bibir itu mengecupku. Gincu merah menjadi prasasti kematianku.

Advertisements

16 thoughts on “Sebatang Rokok yang Jatuh Cinta pada Bibir Pengisapnya

  1. oddie! ini bagus sekali. Rokok nyang bercerita. Suasananya juga dapeeet banget. wow. kutunggu yang lainnya terutama Masterpiece yang kamu congkakkan itu 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s