Ibuku Bekas Pelacur, Ibumu Bekas Apa?

SIAPA PEDULI? Pemilik telapak kaki surgaku itu ternyata bekas pelacur. Tapaknya bebas bertamu hingga ke Tanah Suci.

Ibuku bekas pelacur. Ya, pelacur! Wanita yang selalu kenyang hinaan pada siang hari tetapi selalu dicari untuk mengenyangkan lapar nafsu pria di malam hari. Ah, siapa peduli? Wanita itu tetap Ibuku. Aku juga tak peduli siapa Ayahku. Belasan tahun yang lalu Ibu telah bertobat. Kami berdua hidup bahagia dan berkecukupan. Toko sembako Ibu maju pesat. Aku tetap bersekolah dan bahkan Ibu telah pergi haji tahun lalu.

Kami berdua sangat kompak, sekompak kami tidak memperbicangkan masa lalu. Tapi itu kami. Orang lain di luar sana masih sibuk dengan masa lalu Ibu. Entah apa bahagianya merepotkan diri dengan urusan orang, begitu kata Ibu dan kami berduapun tertawa. Ibu memang hebat, gesit mengurus toko, melimpahkan semua cintanya padaku dan selalu terlihat gembira dan bahkan konyol.

Hari ini pembukaan toko Ibu yang kedua. Acaranya berlangsung ricuh. Sekelompok orang mengobrak-abrik kursi di tenda depan toko. Mereka protes, bekas pelacur tidak boleh membuka toko di situ karena akan membawa sial perdagangan. Mungkin kelompok itu disewa pemilik toko yang lain karena beberapa pemilik toko berbaur dalam kerumunan masa.

Tapi Ibuku hebat, tak ada cemas dan takut sedikitpun di wajahnya. Sambil membetulkan kerudungnya dan sedikit senyum, Ibu bergegas keluar menemui masa. Aku hanya bersembunyi ketakutan di dalam bersama pegawai toko yang lain. Tiba-tiba keributan berangsur surut di luar. Sepuluh menit kemudian, Ibu masuk menemui kami. “Tenang, nak. Aman! Beberapa pemilik toko, pemimpin gerombolan itu dan Pak Kapolsek ternyata bekas pelanggan Ibu jaman jahiliyah dulu! Kamu harusnya melihat air orang-orang itu ketika Ibu ke luar,” bisik Ibu sambil menggamit lenganku. Kami berdua terbahak di depan pegawai toko yang wajahnya melongo tak mengerti apa yang terjadi.

Advertisements

3 thoughts on “Ibuku Bekas Pelacur, Ibumu Bekas Apa?

  1. Baru pertama mampir nih, mas. Serius deh. FF-nya ketje semua nih. Izinkan daku belajar ya, mas.

    Bener, sih. Banyak orang di zaman sekarangpun masih menilai orang lain hanya dari luarnya. Yang terlihat. Hemm…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s