Lelaki di Atap Malam

PERPISAHAN. Setelah mencium kaki Ibu, aku tersadar siapa lelaki yang menjemput Ibu malam ini.

Pukul 12 tengah malam. Segera Panji ke atap rumah. Seperti malam-malam sebelumnya, ia berjanji bertemu teman barunya. Seorang lelaki misterius yang muncul entah dari mana. Tak ada rasa takut. Lelaki inilah satu-satunya teman di hari-harinya yang kelam. Seseorang yang sabar mendengar ceritanya dan sesekali menghadiahi nasihat meneduhkan. Lelaki itu berjanji bertemu dengannya setiap malam di jam dan tempat yang sama, mendengar semua ceritanya asal Panji tidak bertanya tentang asal usul dirinya. Lelaki itu belum terlalu tua, mungkin sekitar tigapuluhan duga Panji. Ia tampan dengan senyum bercahaya di gelap malam. Malam ini pertemuan yang ketujuh.

“Bagaimana Ibumu?”, tanya lelaki itu. “Ibu sudah pulas,” jawabnya sambil menerawang gemintang. Panji pun bercerita, menumpahkan semua isi kejadian hari itu. Selalu berisi hal yang sama. Ayahnya yang menghilang seharian dan pulang penuh amarah dalam kuasa alkohol. Menggetarkan seisi rumah tanpa alasan kemudian kembali menghilang. Rasanya ia tidak pernah merasakan kehadiran Ayahnya selain lebam yang selalu menjejak tubuh mungilnya. Bahkan lebam itu tak peduli menjejak pada tubuh Ibu yang sekarat tak berdaya. Seandainya Ibu tak terbujur sakit, ia akan memaksa Ibu dan dirinya lari menjauh ke mana saja. Bagi Panji, malam adalah penantian penuh ironi. Ia membenci malam saat Ayahnya pulang sekaligus merindu bertemu lelaki dengan senyum bercahaya ini.

Pukul 12 tengah malam yang kedelapan. Sungguh mengagetkan. Lelaki itu ada di kamar, memegang lembut tangan Ibu yang telah pulas. “Kenapa kamu ada di sini? Bukannya kita berjanji bertemu di atap?” Lelaki itu menoleh pelan. “Aku akan membawa Ibumu. Sudah tiba saatnya aku yang akan menjaganya. Jangan takut, kubawa Ibumu ke tempat yang jauh dari Ayahmu. Tempat yang kelak kau akan datang.” Lelaki itu kemudian menuntunnya. “Ciumlah kaki Ibumu, Nak. Kau akan tahu tempat yang kumaksud.” Dengan penuh air mata ia menunduk mencium. Kaki yang wangi seperti habis dibasuh bidadari. Apakah surga sewangi ini? Dalam isaknya, ia akhirnya tahu siapa lelaki ini. Ia terus mencium kaki Ibunya. Lambat-laun kaki wangi itu berubah dingin. Ia tahu apa yang sedang terjadi. “Bawalah Ibuku malam ini juga,” bisiknya dalam tangis yang hikmat.

Advertisements

12 thoughts on “Lelaki di Atap Malam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s