“Dua Belas” ~ Antologi Cerpen

 

Suatu sore, Kamis, 24 Agustus 2011, dua buku datang dari nulisbuku.com. Salah satunya, “Dua Belas”, yang akan kubahas di sini.

Tadinya aku berpikir buku ini karya solo @ninaniena, tapi ternyata ini antologi cerpen 12 orang penulis. Wow, 12 cerita dari 12 peramu kata! Penasaran. Apalagi beberapa penulisnya kukenal. Sore itu, buku ini langsung menyodok antrian paling pertama dari puluhan buku yang belum terbaca.

Mungkin salah satu faktor yang membuat buku ini mencuri perhatian adalah sampulnya yang sedap dipandang. Selain itu, menulis keroyokan dengan satu tema tentunya menyimpan keseruan dalam prosesnya dan aku tidak sabar meluruh dalam keseruan itu.

Aku suka tata letak buku ini. Awal cerita dibuka dengan kutipan-kutipan yang menggelitik. Setelah cerita, profil penulis menjadi penutupnya, lengkap dengan foto yang menurutku  “diniatkan” khusus untuk buku ini. Di halaman akhir, ada trivia yang mengungkap isi dapur serunya proses penerbitan. Dan, oh ada @theonlykika di halaman pembuka “Jejak Pembaca Pertama”! Aku gak mau kalah juga menjejak di blog ini walau sebagai pembaca kesekian.

Yang pertama aku baca adalah karya @ninien. Kenapa? Karena baru ketemu di Surabaya sepekan sebelumnya dan seru celotehnya seperti memperkosa penasaranku untuk memperkosa balik ceritanya. Selanjutnya aku kembali membaca dari penulis pertama, kedua, dan loncat sana-sini sesuai judul yang menurutku paling “merayu” mata dan benak. Tinjauan ini disusun berdasarkan urutan yang aku baca.

Mari kita mulai..

1. “12 Pasang Sepatu: Proyek Masa Depan” ~ @ninien

Membaca cerita ini seperti terseret dalam lingkar konflik tokoh-tokohnya. Konflik yang runut diperkenalkan lewat dialog-dialog yang kaya. Ada dialog yang dibangun cerdas di halaman 116: “Noo..that 12 designs yang harus aku revisi karena perancangnya minta di…”  langsung diserobot dialog berikutnya: “So, saya jadi nomor 13 sekarang? …”  Menurutku ini asik karena memainkan angka untuk mempertegas konflik.

Kegilaan orang-orang sekitar dalam persiapan perkawinan tokoh utama tergambar jelas. Sayangnya, kepenatan Saras (tokoh utama) akibat kegilaan itu kurang tajam padahal di situlah sumber pergulatan konflik.

Penulis mungkin bermaksud menutup cerita dengan letup emosi tokoh utamanya. Tanpa disadari, dengan dialog datar pun meninggalkan getar di benak pembacanya.

2. “Kamar nomor 12” ~ @christpramudia

Jarang sekali kita menemukan cerita-cerita detektif. Cerita ini termasuk dalam jajaran yang jarang itu. Cerita ini mengingatkan kembali pada novel-novel petualangan detektif di era 80-an. Misalnya, Enid Blyton dengan “Lima Sekawan”-nya. Walaupun ini bukan cerita petualangan remaja dengan kisah detektifnya, namun semangat berteka-teki sangat terasa.

Ide cerita ini menarik sekali. Terinspirasi dari Alkitab, Kisah Raja-raja 12:12. Kalau saja eksplorasi latar belakang penyanderaan, kisah Alkitab, dan nama hotel ditambah, maka selaput teka-teki akan semakin seru. Bagian tokoh utama yang menjemput adiknya di bandara tidak perlu berpanjang-lebar. Kalau bisa dipenggal saja untuk memberikan porsi lebih banyak pada eksplorasi tadi.

Cerita disampaikan dengan runut waktu yang rapi. Drama penyaderaan diungkap menegangkan. Layaknya cerita detektif, cerita ini berhasil ditutup mengejutkan!

3. “12 Jari” ~ @doroii

Inilah cerita yang kubaca tiga kali! Pertama kali, jujur saja karena belum mengerti. Kedua, sedikit mengerti. Banyak sekali tokoh yang perlu dicerna cermat karakter dan perannya. Sebagai cerita pendek, tokohnya kebanyakan. Maksudnya, tokoh yang lain sebagai pelengkap konflik saja supaya tidak membuang waktu pencernaan pembaca.

Ketiga kali, belum juga mengerti sepenuhnya. Sebagai sesama penulis, aku memaklumkan diri untuk tidak perlu memahami bulat-bulat sebuah cerita. Kadang justru aku lebih penasaran dengan isi kepala saat penulis membuat sebuah cerita. Setiap penulis memiliki kecerdasan imajinasi yang berbeda. Inilah yang membuatku “geram” penasaran pada saat membaca cerita ini untuk ketiga kalinya.

Cerita ini menjadi salah satu yang paling kuat unsur fiksinya. Disampaikan dengan kalimat pendek-pendek, penulis seperti hendak menghentak-hentak benak pembacanya. Cerita ini seperti menyeruak rasa berbeda penuh tantangan. Cerdas!

4. “Selusin Coklat” ~ @fardania

Cerita ini semanis judulnya. Cewek banget! Terurai dengan jelas cerita bagaimana sang tokoh utama mencintai diam-diam. Sesuatu yang disukai banyak orang, seperti coklat. Indah rasanya menyimpan cinta yang bungkam dan berujung bahagia semanis coklat.

Kalau saja ditambahkan porsi pergulatan batin Cello (tokoh utama) dengan cinta bungkam-nya, mungkin akan memperkuat konflik yang terasa datar. Selain itu, perasaan Julio, sang pangeran idaman, perlu diungkap sehingga pembaca akan menikmati pergulatan dari dua hati dari fragmen yang berbeda.

Catatan lainnya: kenapa suaminya “hilang”? Ini yang tidak terungkap. Dialog-dialog terjebak terlalu casual  sehingga mengganggu manisnya cerita. Tapi yang berhasil adalah, penulis membuat pembaca ikut merasakan cinta diam-diam itu.

5. “12 Lelaki” ~ @lalapurwono

Cerita ini menggelitik sejak kutipan pembuka. Ada dua ide yang menarik. Yang pertama, cinta datang dari jempol yang terinjak. Sebenarnya ini klise saja seperti cerita di FTV tapi penulis mengurai kejadiannya dengan sempurna dan jauh dari picisan. Yang kedua, ramalan Eyang Putri tentang lelaki ke-12 sebagai jodoh untuk sang tokoh utama, Ve Nadya. Walaupun ide ini membuat aku deja vu dengan cerpen Dee Lestari tentang mengejar jodoh bernama Slamet, tapi penulis berhasil menyampaikan bahwa percaya atau tidak percaya, ramalan itu menyenangkan sekaligus mengejutkan.

Yang sedikit mengganggu adalah firasat pria ke-12 tentang pertemuan itu sendiri. Kalau saja firasat itu tidak ada, cerita akan semakin menakjubkan. Bayangkan saja jika si pria ke-12 itu menemukan jodohnya hanya berawal dari jempol yang terinjak? Dan yang menginjak kakinya adalah seorang penulis terkenal tapi dia tidak tahu sama sekali?

Menarik sekali kalimat-kalimat dalam cerita ini. Untuk itu, penulis ini adalah juaranya dibanding untai kalimat pada cerita lainnya.

6. “12 Pas” ~ @ninaniena

Ini tentang perselingkuhan yang sering muncul dalam cerita seputar persahabatan. Temanya sudah umum, tapi penulis cerdik mengurainya secara berbeda. Sesuai dengan judulnya, ada 12 momen yang menghias rahasia perselingkuhan itu.

Konflik tergambar jelas, mengejutkan, tapi ada yang mengganjal. Tidak diungkap lebih detil lagi alasan Kendra, lelaki yang menjadi suami dua wanita bersahabat, naik pitam dan kemudian meninggalkan tokoh utama untuk kembali ke istri pertamanya.

Alur cerita mudah diikuti. Beberapa selipan puisi berhasil menggambarkan situasi dan pergulatan batin. Apapun alasannya, perselingkuhan hanya akan merusak segalanya. Jika ini salah satu pesan yang disampaikan maka ini adalah keberhasilan lainnya dari penulis selain 12 rahasia itu.

7. “12 Jam Mencintaimu” ~ @hildabika

Suka sekali dengan judul ini, penuh tanda tanya. Bagaimana mungkin urusan mencintai memiliki durasi? Beruntunglah penulis mendapatkan judul ini.

Cerita ini dimulai dengan baik. Cinta pada pandangan pertama memulai kisah 12 jam perkenalan tokoh utama dengan seorang pria saat berlibur di Bangkok. Cerita ini sangat klise dan perlu sisi cerdik untuk menulisnya dengan rasa berbeda. Pada cerita ini tidak ditemukan hal itu. Cerita seperti terburu-buru (apa karena cuma 12 jam, ya?).

Padahal, penulis berhasil memanfaatkan setting lokasi dan bercerita dengan baik. Beberapa bagian terbuang percuma. Jika saja pergerakan dari satu lokasi ke lokasi wisata lainnya diisi dengan pergulatan batin sang tokoh utama maka konflik akan menjadi drama rasa yang menarik. Sebenarnya penulis sudah berhasil membawa cerita ini tidak tumpah-ruah ke plot yang rumit. Dari gaya bercerita, kelihatannya kekuatan penulis tidak termanfaatkan dengan maksimal.

8. “Bulan ke-12” ~ @netkirei

Apa yang kau bayangkan jika sebuah pertemuan cinta di negeri yang jauh ternyata telah diatur oleh ibumu? Apa yang kau bayangkan jika ibumu jauh lebih mencintai calon pasanganmu dibading dirimu sendiri? Bayangkan saja sambil membaca cerita ini.

Lagi, ide yang menarik! Sayangnya, walau alur cerita cukup rapi tapi tidak untuk kalimat dan dialog. Padahal beberapa kalimat sangat puitis, misalnya di halaman 89: “Mungkinkah dingin tadi hanya manifestasi dari kesendirian?”  Dahsyat, kan?

Beberapa hal jika dieksplor lebih banyak, mungkin ide cerita akan berkembang biak lebih menarik. Contohnya, kenapa pertemuan harus di bulan ke-12, pukul 12 siang, dan tanggal 12? Kenapa harus di Trafalgar Square (di buku tertulis “sqare”) London?

Ide tentang kertas-kertas pesan yang muncul di setiap tanggal 12 sungguh sangat menarik. Kalau saja setelah pernikahan baru terkuak siapa penulisnya, rasanya cerita ini akan memiliki penutup yang aduhai.

9. “12 Hari Yang Lalu” ~ @rereazizah

Cerita ini dibuka dengan kondisi tokoh utama yang terbaring koma di rumah sakit. Tepat sekali penulis tidak perlu berpanjang-lebar menjelaskan kejadian kecelakaan penyebab koma. Selanjutnya, cerita mengalir rapi dengan kalimat-kalimat yang tersusun dengan baik.

Ada yang sedikit mengganggu. Tidak dilukis secara dramatis kondisi wajah sang tokoh utama akibat kecelakaan dan apa tanggapan orang sekitar yang terdengar saat koma. Eksplorasi pergulatan batin saat terbaring koma menjadi penting dilebihkan untuk mengangkat konflik di tengah cerita agar lebih dramatis.

Memasuki bagian penutup cerita, penulis mengeksekusinya dengan sempurna. Pembaca  dituntun menduga-duga dengan permainan kalimat yang cantik. Seperti diduga, bagian akhir meledak bersama benak pembaca. Bravo!

10. “Maaf, Cuma 12” ~ @rizkantique

Ini salah satu judul yang menggoda. Dari awal hingga pertengahan, cerita mengalir datar. Padahal, judul telah memancing tanya: Apa yang 12 itu? Kenapa hanya 12? Berapa seharusnya? Jawaban ini disimpan terlalu lama padahal rasa penasaran pembaca sudah tertangkap sejak awal.

Cerita ini menyuguhkan kalimat yang panjang-panjang. Beberapa malah membuat maknanya keteteran. Penyambungan kalimat masih kurang pas penyusunannya sehingga mengganggu alir cerita.

Cerdiknya, penulis menyimpan dua “bom” di ujung cerita. Yang pertama tentang “12”, dan yang kedua tentang tokoh Athira yang sebenarnya telah mati. Bom kedua ini terasa klise karena dieksekusi biasa saja. Seharusnya bom yang pertama hadir kembali untuk mengembalikan tema dan mempercantik konflik.

11. “Hujan di Hari ke-12” ~ @WahyuSN

Membaca judul ini, tadinya aku berpikir hanya akan menemukan cerita biasa tentang hujan yang selalu menjadi korban dramatisasi dan romantisasi penulis. Tapi ternyata bukan sekedar itu. Pemaparan cerita disajikan baik dengan diksi-diksi yang tepat.

Cerita ini tentang kerinduan seorang ibu pada anaknya yang meninggal 12 hari sebelumnya. Ide cerita memang sederhana tetapi dieksekusi dengan sempurna. Siapa bilang ide biasa saja dan sudah umum menjadi kurang menarik untuk diangkat lagi? Penulis membuktikan tema sederhana itu menjadi luar biasa dengan kalimat-kalimat yang rapi mengalir seperti hujan tanpa badai.

Yang sedikit mengganggu adalah sosok yang tiba-tiba muncul di kamar anaknya. Agak sulit menyuntikkan imajinasi bahwa sosok tinggi besar hingga memenuhi pintu itu adalah kemunculan mendiang anaknya.

12. “12 Nyawa” ~ @WangiMS

Mungkin ini kebetulan yang betul-betul mencengangkan. Cerita terakhir ini-seperti judulnya-memberikan nyawa ke-12, atau ‘nyawa’ pamungkas dari selusin cerita. Cerita terakhir ini juga sangat kental adonan fiksinya.

Cerita disusun rapi mengalir dalam 12 bingkai. Masing-masing membungkus paparan nyawa yang termatikan oleh situasi yang berbeda-beda. Bayangkan, dalam cerita ini pembaca dipermainkan, dipaksa menebak-nebak, siapa, makhluk apa, dan bagaimana bentuk sang tokoh utama. Sungguh cerdas!

Memang melelahkan jika benak dipermainkan di hampir seluruh bagian cerita. Untung saja ditutup dengan manis, dan mungkin benak pembaca akan menjerit: Aih!

******

Secara keseluruhan, masing-masing cerita menyuguhkan tingkat kematangan bercerita dan bermain kata yang berbeda. Tidak penting membuat rating mana yang terbaik karena ini bukan kontes. Secara keseluruhan pula, masing-masing penulis terlihat bersungguh-sungguh menjawab tantangan tema yang diberikan. Lihat saja bermunculan ide-ide yang menarik, di luar jangkauan imajinasi yang biasa.

Dari selusin cerita, yang paling mencuri perhatianku adalah:

  1. “12 Nyawa” ~ @WangiMS
  2. “12 Jari” ~ @doroii
  3. “12 Lelaki” ~ @lalapurwono
  4. “Hujan di Hari ke-12” ~ @WahyuSN

Tapi percayalah, setiap cerita memiliki takdirnya sendiri. Mungkin pembaca lain punya tanggapan dan pilihan favorit yang berbeda. Kalau penasaran, baca saja sendiri bukunya. Bisa pesan di nulisbuku.com, atau hubungi twitter @ninaniena dan @ninien, atau bisa juga ke penulis lainnya.

Terima kasih untuk Mbak @ninaniena, sahabatku, yang telah menghadiahkan buku ini selain sekotak brownies buatannya sendiri yang ciamik rasanya! 🙂

Jakarta, 26 Agustus 2011

Advertisements

4 thoughts on ““Dua Belas” ~ Antologi Cerpen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s