Catatan Untuk Paman

Telah kusantap ia, semasih tergoncang di gerbong empat, pada subuh yang ngilu.
Kemudian hari berputar secepat badai, kertas-kertas memeras peluh.
Ketika kukatakan tenggat adalah ajal, kejar-mengejar antara kepala dan kaki.
Pukul delapan malam aku ambruk di semangkok soto.
Lalu ambruk lagi padanya, beronceng kata yang tadi subuh telah kusantap.
Lalu aku senang di antara lemas yang meremas tubuh.
Lalu aku bertambah senang lagi, karena ia ditujukan padaku.
Entah untuk mengganti sesiapa,
Malam ini kunobatkan diriku sebagai paman.

***
Kafe Betawi, 28 November 2011.

Advertisements

3 thoughts on “Catatan Untuk Paman

  1. wow.. ini cerita bagus sekali, om. Jadi ada masukan! Terimakasih om. Padahal selama ini aku kesulitan mendapatkan ide, dan sekalinya dapat, susah sekali menampungnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s