Fajar yang Aduhai di Atas Danau Sentani – Jayapura

Boleh dikata ini salah satu perjalanan penuh emosional lainnya untuk saya. Bukan sekadar kota apa yang saya datangi tapi ini tentang pertama kali menginjak pulau Papua. Sekali lagi: PA-PU-WA! Siapa pun yang membaca tulisan ini, tolong diucapkan dengan bersuara dan dengan bukaan diafragma yang lebar. Begitulah pertama kali yang terucap oleh saya ketika mendarat dengan di tanah Papua 18 Mei 2012. Selama berkeliling Nusantara, inilah jazirah yang tersisa. Malu aja sudah sekian tahun berkeliling tetapi belum menginjak Papua sama sekali. Ini pula satu-satunya hutang yang mengganjal untuk bangga dibilang pengelana Nusantara.

Layaknya penerbangan menuju ujung timur, pukul 22.15 WIB pesawat bertolak dari CGK. Transit 30 menit untuk secangkir teh panas dan sepotong roti di Bandara Hasanudin, Makassar, pesawat yang sama bertolak lagi pukul 02.00 WITA ke Jayapura. Tidur adalah pilihan semua penumpang selama hampir 4 jam penerbangan. Saya terbangun 15 menit sebelum mendarat. Langit masih gelap tetapi tidak kelam lagi. Dari jendela saya tertegun mengamati persalinan hari yang dramatis.

Gelap berangsur terang. Mendekati pendaratan, alam Papua semakin jelas terlihat. Rimbun perkasa. Tidak heran jika pramugari mengumumkan kami akan mendarat di Bandara Sentani. Pesawat kian rendah menuju landasan bandara yang letaknya persis di tepi Danau Sentani. Hutan dan danau telah memukau saya untuk berpuisi. Saya menangkap fajar di atas Danau Sentani. Aduhainya sinting!

Hampir pukul 07.00 WIT pesawat mendarat mulus. Sisa hujan semalam menambah momen puitis bagi perasaan norak saya. Sejau mata memandang, lintasan dikelilingi alam yang memesona. Bukit-bukit yang masih hijau pekat terlihat kontras dengan awah putih bersih bebas polusi. Sekali lagi, ini sinting!

Sepagi ini bandara sudah sangat sibuk. Beberapa pesawat mendarat dengan selisih waktu yang berdekatan. Bandara ini luas sekali. Memang seharusnya demikian untuk pintu masuk ibukota propinsi yang kaya sumber alam. Sepanjang jalan dari bandara menuju pusat kota Jayapura, mata saya tak lelah mengintip Danau Sentani. Sepertiga perjalanan ke luar dari bandara memang mengitari danau ini. Sayang sekali di beberapa titik, keindahannya terpagari jejeran baligo raksasa para kandidat pilkada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s