Mentari Menari di El-Tari Kupang

Sejak tahun 2006, Kupang sudah memanggil jejakku. Perlu 6 tahun untuk menunggu, dan lewat El-Tari, Kupang menyambutku di April siang yang benderang. Terbang pukul 6.00 pagi dari Jakarta, lalu tiba pukul 7.45 di Surabaya untuk transit selama kurang lebih 2 jam. Kuhabiskan masa transit dengan sarapan dan berkeliling bandara untuk mengusir kantuk. Pukul 10.00 lepas landas lagi dengan pesawat yang sama.

Sepanjang 2 jam perjalanan, pesawat melintasi Bali, Lombok, pesisir utara pantai Sumbawa lalu turun ke timur menuju Pulau Timor. Di siang yang cerah itu seluruh gugus pantai terlihat dengan jelas. Sebuah pemandangan yang memukau pandang dari kursiku yang tepat di sisi jendela. Seolah pesawat terbang rendah dengan sengaja. Garis pantai berpasir putih dengan air laut kemilau hijau-biru terlihat dengan jelas. Kantukku hilang seketika.

Sebentar saja melamun, segera kubuka laptop dan menulis sebuah cerita. Semuanya spontan dan membius. Kubayangkan perjalanan itu adalah perjalanan cinta. Seorang gadis Rote sedang menunggu kedatanganku. Menunggu untuk sebuah keputusan yang tak seindah pantai di gugusan Pulau Sumbawa. Aku terus menulis, pesawat terus menembus awan.

Tersadar diumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat. Aku terlalu asik menumpahkan cerita. Pukul 13.00, pesawat mendarat mulus, dan aku sudah punya cerita sebelum kakiku menyentuh tanah Kupang. Mentari menari cerah di langit Kupang.

Tiga hari di Kupang, aku kembali lagi ke El-Tari untuk pulang. Seperti biasa, sengaja aku datang lebih awal ke bandara. Setelah check-in aku berkeliling di sekitar bandara. Berada di bandara ini seperti ada negeri yang jauh di Samudera Pasifik. Pengeras suara silih berganti mengumumkan kedatangan dan keberangkatan ke kota-kota yang terasa asing di kuping.

Di luar, kuamati orang lalu-lalang lalu menuju pagar pembatas di samping kiri bandara. Kudekati sekelompok orang yang ternyata adalah rombongan keluarga yang mengantar salah seorang kerabatnya. Seseorang dari mereka kemudian dengan ramah menyapaku. Mungkin karena wajahku terlihat asing dan ketahuan menangkap gerak-gerik mereka dengan kamera. Namanya Bapak Linus, seorang tukang ojek motor di terminal. Kami berbincang sambil duduk di rerumputan. Persis seperti sedang berwisata di bandara.

“Anak lelakiku akan ke Surabaya. Kami bangga, dia seorang petinju yang hebat,” jawabnya ketika kutanya siapa yang mereka antar.Menurut Bapa Linus (orang Kupang menyebut Bapak dengan ‘Bapa’, tanpa huruf K) tinju adalah olahraga yang paling bermartabat untuk laki-laki di Kupang.

“Kenapa ke Surabaya? Anak Bapa akan kerja di sana?” tanyaku.

“Di Kupang ini sudah tidak ada lagi lawan yang sepadan untuknya makanya anakku ke Surabaya. Selain itu, dia bisa cari kerja di sana. Kalau pun tidak mendapat pekerjaan, tak mengapa. Dengan bertinju pun kami sudah bangga padanya.”

Perbincangan singkat itu kemudian berakhir dengan panggilan ke ruang tunggu. Pertemuan yang menghangatkan pikiran. Bahwa, sebuah impian yang sederhana untuk orang lain akan menjadi mewah untuk orang lain. Seperti impian seorang Bapa Linus untuk anaknya. Bagi orang lain, bertinju hanyalah sebuah olah raga. Bagi Bapa Linus, bertinju adalah segala kemewahan impian untuk anak lelakinya.

Mentari di langit El-Tari sekali lagi menari untukku. Kepulanganku membawa oleh-oleh yang mewah dari perbincangan singkat itu. Aku ingin kembali lagi ke tanah ini. Sebuah impian yang sederhana, bukan? Semoga mentari di langit Kupang memewahkannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s