Bagai Pinang Dibelah Aturan – Papua

Makan pinang adalah salah satu budaya masyarakat Papua. Banyak sekali ditemukan orang makan pinang ini. Pinang, sirih, dan kapur. Ketiga sekawan ini membuat mulut kemerahan. Kita tahu ini akan membuat gigi menjadi kuat dan gusi yang bersih. Pantas saja gigi orang Papua berseri-seri dan jarang berjendela alias ompong. Beberapa daerah di Papua masih dijumpai mereka akan menyuguhkan pinang untuk tamunya sebagai tanda hormat. Masalahnya, setelah makan pinang ini, ludahnya harus dibuang.

Banyak tanda larangan meludah dan makan pinang terutama di tempat-tempat umum. Saya mengambil gambar-gambar ini di Bandara Sentani dan depan Hotel Aston Jayapura. Larangan merokok justru tidak saya jumpai. Di Bandara Sentani malah saya menjumpai ada konter yang menyediakan kantong plastik gratis untuk membuang ludah dan ampas pinang. Kalau membuang ‘mantan’ dilarang juga nggak, ya? Kan sama-sama bikin merah. Kalau pinang bikin bibir dan ludah jadi merah, mantan kan bikin hati merah membara juga?

Advertisements

3 thoughts on “Bagai Pinang Dibelah Aturan – Papua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s