Lingkar Pesona di Kaki Gunung Gamalama – Ternate

Ketika akan berangkat ke Ternate, yang terbayang di pikiran saya adalah sejarah perdagangan rempah (pala dan cengkeh), kesultanan Islam yang besar, kolonialisme (Portugis, Spanyol, dan VOC Belanda), barisan benteng, Gunung Gamalama, dan pantai penuh pulau. Ketika pertama kali terlihat Gunung Gamalama, saya bagai kesetanan memotretnya seolah tidak akan melihatnya lagi di hari berikutnya. Padahal, berkeliling ke sudut mana pun, saya akan dengan mudah mengintip gunung tersebut. Saya sama sekali tidak menyangka kota ini memang melingkar di sepanjang kaki Gunung Gamalama.

Saya memilih naik ojek dalam perjalanan dari bandara menuju hotel. Ini pilihan yang tepat untuk menikmati kota dengan santai. Dalam perjalanannya saya melewati Kedaton Ternate yang megah (terletak sedikit di atas bukit) dan alun-alun di depannya yang menghadap pantai. Hanya perlu 40 menit untuk mengelilingi Ternate, yang artinya mengelilingi kaki Gunung Gamalama. Berkeliling ini membawa saya ke menu panorama yang lengkap, kota, benteng, kedaton, pantai, hingga danau!

Danau Tolire Besar
Danau Tolire Kecil

Danau Tolire ada dua: Tolire Besar (seperti loyang besar) dan Tolire Kecil (seperti rawa-rawa). Orang lebih banyak ke Tolire Besar. Ini berhubungan dengan sebuah legenda. Konon kedua danau ini dulunya merupakan sebuah kampung yang masyarakatnya hidup sejahtera. Belakangan kampung ini dikutuk oleh penguasa alam semesta menjadi danau, karena salah seorang ayah di kampung itu menghamili anak gadisnya sendiri. Tolire Besar diyakini tempat si ayah, dan Tolire Kecil tempat si anak gadis. Tolire Kecil dikutuk menjadi tempat yang terpuruk sehingga tidak akan banyak didatangi orang.

Menyenangkan sekali berada di Tolire Besar ini. Ada anak-anak yang sebagian besar gadis-gadis cilik penjual batu. Satu set berisi 5 batu seharga dua ribu perak. Batu-batu itu dilempar sejauh mungkin ke tengah danau dan make a wish! Harapan saya sederhana: bisa kembali ke Ternate sekalian promo buku terbaru. Saya memborong batu dari setiap anak setelah itu. Setiap batu yang saya lempar, saya akan berteriak nama masing-masing anak itu. Sebaliknya, mereka saya minta melempar batu dengan meneriakkan nama saya. Cara berkenalan yang romantis, kan?

Di siang yang mendung, saya dibawa ke Pantai Sulamadaha. Salah satu pantai berpasir hitam favorit warga Ternate. Selain berenang dan rekreasi air (berperahu dan banana boating) di sini banyak kedai yang menjual kelapa muda dan pisang goreng mulu bebe (mulut bebek). Pisang goreng tanpa tepung ini diiris tipis-tipis, digoreng, dan dimakan dengan sambal!

Masih di siang yang mendung, saya selanjutnya dibawa ke Pantai Batu Angus. Ini adalah monumen alam dari hasil letusan Gunung Gamalama tahun 1673. Bongkahan batu-batu hitam merupakan lava pijar yang hangus (angus). Batu-batu yang berserakan itu membuat saya membayangkan betapa dahsyatnya letusan waktu itu. Kawasan ini dikelola pemerintah sebagai lokasi wisata. Semoga monumen alam ini adalah yang terakhir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s