Flash Fiction – Ledak Tipuan

Ternyata sudah lama saya tidak menulis flash fiction (ff) atau cerita kilat. Kalau tidak salah, terakhir saya menulis untuk buku “Cemburu Itu Peluru” (CIP) tahun 2011. Padahal, gara-gara saya menulis ff di buku itu tulisan saya semakin luas dikenal orang. Gairah menulis saya muncul lagi setelah tertimbun bertahun-tahun. Sambil menyelesaikan novel, saya lebih banyak menulis cerpen dan puisi saat ini. Sesekali malah saya berselingkuh dengan artikel dan esai.

Proyek menulis antologi ff menerjemahkan fiksimini bersama Komunitas Fiksimini membuat saya kembali menyelami ff. Menyenangkan sekali kembali mengasah sesuatu yang nyaris tumpul. Menyenangkan karena disapa lagi kegembiraan lama. Saya lalu terpikir menulis di blog ini tentang kegembiraan itu. Lebih tepatnya, pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika saya memulai kalimat pertama. Berikut catatan menurut versi saya.

1. Apa sih kelebihannya ff? Kenapa harus menulis ff?

Kelebihan ff tentu pada kepadatan ceritanya. Seperti sebuah karya esai yang non fiksi, ff dimaksudkan untuk dibaca tanpa perlu banyak waktu. Esai ditulis untuk dibaca 1-2 jam lalu selesai alias sambil lalu. Nah, begitu pula dengan ff. Saya sendiri suka membaca ff saat waktu membaca sangat terbatas. Setiap promo buku CIP, saya selalu bilang buku itu untuk mengisi celah kesibukan. Misalnya sambil menunggu di bandara, atau menunggu pasangan kencan yang terlambat datang. Boleh juga sambil menunggu jodoh jika tahu ia akan datang dalam waktu yang dekat hehehe

FF tidak mengintimidasi pembaca. Kalau kita membaca novel yang seru, pasti kita akan tidak sabar menunggu hingga halaman akhir. Akhirnya kita bisa begadang sepanjang malam. FF, apalagi dalam antologi, bisa berhenti sesuka hati di waktu yang tersedia kapan saja. Ceritanya tuntas secepat kilat. Minimal, ada yang tuntas selain jodoh. Eh, jodoh lagi hehehe

FF cocok buat penulis pemula. Tidak perlu napas panjang untuk menuliskannya. Tapi hati-hati, gaya menulisnya suka merusak ketika kita sedang menulis yang lebih panjang seperti cerpen dan novel. Kita akan terjebak tidak sabar ‘meledak’ duluan sebelum cerita selesai. Cerita akan membosankan karena akan mengulur-ngulur karena sudah meledak orgasme duluan.

2. Bagaimana menerjemahkan sepotong fiksimini ke dalam ff?

Nah, ini yang menarik. Waktu menulis CIP, fiksimini yang diterjemahkan adalah karya saya sendiri. Saya dengan bebas mengatur volume ledakannya. Artinya, saya kadang membuat fiksimini dengan ledakan kecil dan menyembunyikan ledakan besar di ff-nya. Saya pun dengan gampang menerjemahkan karena fiksimininya karya sendiri.

Jika fiksimininya karya orang lain, inilah tantangan mautnya! Sepenggal fiksimini mengundang multiinterpretasi. Memang begitulah fiksimini yang seru, kesannya akan berbeda pada setiap pembaca. Kebebasan ini pula yang menantang sudut pandang seorang penulis ff. Saya sendiri nakal memelintir lagi kesan sebuah fiksimini ke dalam ff. Seru!

3. Sepanjang apa ff yang ideal?

Sepanjang yang saya tahu, tidak ada jumlah yang mutlak. Idealnya, jangan terlalu pendek dan jangan pula terlalu panjang. Dalam proyek yang saya maksudkan tadi, ukurannya 300-500 kata. Yang terpenting adalah menghadirkan cerita secara utuh: prolog, konflik dan epilog.

4. Apakah ada teknik khusus menulis ff?

Secara garis besar tidak ada. Tapi dari sekian ff yang saya baca, ada gaya-gaya tertentu yang jadi ciri khasnya. Sentuhan twist paling sering digunakan untuk memainkan imajinasi pembaca. Maklum, cerita sependek itu harus menghentak sebelum kata terakhir.

Karena lahannya sempit, diksi atau pemilihan kata, konflik, dan alur harus cermat. Tidak perlu boros kata dan mengurai-ngurai susana. Plotnya harus bergerak cepat ke inti konflik . Paragraf awal hanya perlu maksimal 5 kalimat. Gunakan kalimat-kalimat pendek. Patah-patahkan kalimat supaya penulis terpancing memilih diksi yang efisien dan efektif. Pendek tapi luwes kesannya. Rok mini dong hehehe

Permainan dialog biasanya menggerakkan konflik dengan cepat. Dialog bisa memudahkan lompatan dari satu suasana ke suasana lain tanpa perlu diurai tersendiri.

Pengalaman saya, mematah-matahkan kalimat itu seperti memilih sekeranjang jeruk di toko buah. Mana yang sekiranya manis dan kecut. Begitu juga dengan pemilihan kata, mana yang perlu atau tepat. Kadang sebuah kata bisa merangkum suasana dari paduan dua kata atau lebih. Racik sana-racik sini.

5. Bagaimana ff yang disukai?

Bagaimanapun, sebuah cerita ya harus bercerita. Suka atau tidak suka masalah selera sebenarnya. Tapi tulisan yang bercerita adalah hakikat utama sebuah karya fiksi. Saya menggemari cerita dengan twist yang cerdas menipu. Apalagi jika suasananya sudah tergambar jelas sehingga sudah menyergap duluan.

Ya begitulah reuni saya dengan ff. Saya belajar banyak lagi hanya karena ditantang menulis 1 ff. Saya tidak sabar menunggu buku antologi ff bersama rekan-rekan penulis di Komunitas Fiksimini. Pasti buku itu akan seru seperti membuka sebuah kotak, lalu berhamburan petasan-petasan kecil. Semoga ada jodoh yang terselip di situ lalu meledak di hati. Aih, jodoh lagi hehehe.

Advertisements

18 thoughts on “Flash Fiction – Ledak Tipuan

      1. astaga, maaf mod, komentarnya baru kebaca..
        nggak ada yang salah kok mod
        yang ada hanya perasaan layak dan nggak layak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s