5 Alasan Kenapa Harus Nonton “9 Summers 10 Autumns”

“Mau film Indonesia lebih baik? Ya, nonton ke bioskop!”

9 Summers 10 Autumns
Hari ini, Kamis, 25 April 2013, film “9 Summers 10 Autumns” (9S10A) tayang serentak di bioskop. Film ini diadaptasi dari novel laris dengan judul yang sama dari penulis Iwan Setyawan. Saya termasuk beruntung diundang lebih dulu menyaksikan film ini saat gala premier 21 April 2013. Gala premier ini mengudang decak kagum semua undangan. Tak ketinggalan saya yang pulang dengan berbagai catatan dalam benak. Ada 5 catatan besar yang akan saya bagi di sini.

1. Kembalinya Film Keluarga

Sejak film “Ibunda” (Film terbaik FFI 1986 yang meraih 9 Piala Citra ) besutan Teguh Karya, saya selalu rindu film layar lebar Indonesia dengan tema keluarga yang sangat dekat problem sehari-hari. Setelah banyak menonton film Indonesia dengan tema keluarga, kerinduan itu tertuntaskan di film 9S10A.

Memang ada perbedaan latar konflik di kedua film tersebut. Pada “Ibunda” konflik terlahir dari keluarga priyayi Jawa di tengah masyarakat urban, sedangkan 9S10A menghadirkan potret perjuangan keluarga di kota kecil. Kedua film ini sama-sama mengetengahkan konflik domestik keluarga Indonesia pada umumnya dengan sajian yang berbeda. Tapi secara keseluruhan, kedua film disaji dengan cermat.

Pada saat membaca novelnya, saya sedang ‘kelelahan’ membaca buku-buku motivasi yang hanya lahir dari pikiran penulisnya. Buku ini bukan sekadar memberi motivasi tetapi sekaligus inspirasi karena ada pembuktian. Saya yakin hal ini diperlukan oleh keluarga Indonesia. Apalagi saat ini tersedia versi film yang tentu lebih menghibur dan memuaskan hati dan pancaindra. Saatnya keluarga Indonesia menikmati kembalinya film keluarga Indonesia.

2. Sederhana yang Mewah

“ Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut mimpiku.”

ihsan

Banyak sekali pesan inpiratif dalam film ini. Saat gala premier, Mas Iwan Setyawan membacakan sebuah email dari Mahdi. Dia juga seorang anak sopir angkot yang sangat terinspirasi dengan novel 9S10A. Dalam email itu Mahdi bercerita bahwa dia sekarang berada di New York karena sebuah bea siswa. Tak cukup cerita itu, Mahdi mengirim foto di depan patung Liberty, lengkap dengan menggenggam buku 9S10A!

“Aku tidak takut hantu, aku hanya takut miskin.”

Betapa kemiskinan lebih menakutkan dari hantu yang mengusir mimpi seseorang. Film ini menghadirkan pula bahwa sebuah mimpi yang besar tidak cukup membawa masa depan kemana pun. Kerja keras adalah proses menuju mimpi yang sebenarnya. Dalam satu adegan, Iwan digambarkan menawarkan diri untuk sebuah proyek yang sudah ditolak-tolak oleh rekan kerjanya. Tadinya atasannya menolak kesediaan Iwan karena menurutnya Iwan sudah terlalu sering menerima proyek. Karena tidak ada pilihan lain, terpaksa proyek itu diberikan juga pada Iwan. Sikap inilah yang mengantar Iwan ke kursi direktur di New York.

Contoh kedua pesan sederhana di atas mungkin sering kita dengar. Dalam film ini, kedua pesan sederhana ini menjadi mewah karena ada kerja keras, motivasi yang baik, dan tentu pembuktian.

3. The Cast

the cast

“Gila! Gila! Gila!”

Kutipan di atas tidak akan ditemukan dalam film. Itu kutipan saya sendiri yang muncul sepanjang menonton film ini. Saya terpukau dengan para pemerannya. Di sini saya akan menyorot Alex Komang dan Dewi Irawan. Gila banget aktingnya!

Sudah lama saya tidak menikmati akting Alex Komang yang selalu luar biasa. Kata Mas Iwan Setyawan, kalau ingin kenal bapaknya (alm. Abdul Hasyim), ya itu di akting Alex Komang. Segala tentang Alex Komang di film ini sudah bercerita duluan sebelum sebuah kalimat diucapkan. Entah kenapa gestur-nya tertangkap begitu kuat penuh kesan. Mulai dari raut wajah, cara jalan, cara menyeret sendal, rasanya Alex Komang sudah berhasil membuat saya gila karena memperhatikan detailnya.

Kalau biasanya akting menangis membuat penonton ingin ikut menangis, dalam film ini perasaan saya justru “jatuh berantakan” pada adegan yang tidak ada airmata sama sekali, bahkan miskin dialog. Dalam satu adegan di dalam angkot, Pak Abdul Hasyim bertanya pada Iwan, “Jadi kamu mau kuliah ke Bogor?”. Saat Iwan mengangguk mengiyakan, Pak Abdul Hasyim seketika membanting setir menuju bengkel untuk menjual angkotnya. Momen memutar setir dengan ekpresi tanpa kata inilah yang mengaduk perasaan saya. Inilah perjuangan seorang Bapak!

Dewi Irawan menghentak dengan akting ketabahan seorang Ibu Ngatinah. Nah, di sini boleh menangis karena ada airmata (paling tidak, turut berkaca-kaca seperti saya). Dalam satu adegan, Ibu Ngatinah sedang menangis di dapur seorang diri. Kamera menyorot dari arah samping belakang. Ketika kamera berada tepat di sampingnya, saya bukan hanya menangkap tetesan di pipinya tapi bahkan menangkap percik airmatanya yang memancur. Ini kesedihan yang paling epik!

Oh iya, saya juga senyum-senyum sendiri melihat penampilan Dira Sugandhi. Biasanya saya melihat dia bernyanyi dengan dandanan ala diva. Di film ini memang porsi kemunculannya sedikit sekali. Tapi melihat Dira Sugandhi berdaster? Ya di film ini..

4. Film Tentang Kerja Keras dari Hasil Kerja Keras

premier
Saya berterima kasih sekali pada Angka Sinema yang memproduksi film ini. Sebagai karya perdana, saya yakin perusahaan ini akan turut terinspirasi menghadirkan film berwajah Indonesia yang bermutu. Roadshow yang dilakukan di beberapa kota perlu mendapat apresiasi tinggi karena mendekatkan film Indonesia kepada khalayak lebih banyak. Terlalu banyak sikap skeptis membuat film Indonesia menjadi terpuruk pada penontonnya sendiri.

Ifa Isfansyah, sutradara terbaik FFI 2011 lewat “Sang Penari”, berhasil mengemas keseluruhan film ini sehingga layak ditonton keluarga Indonesia. Film ini dilengkapi pula oleh sinematografi cantik hasil kerja Gandang Warah. Suasana pasar, pemandangan di kaki Gunung Panderman, dan lokasi rumah ditampilkan begitu berkesan.

Apresiasi lain layak ditujukan pada Elfa Zulha sebagai penata musik. Saya selalu cemburu pada film-film drama Hollywood dengan musik yang hampir selalu terasa pas ‘melipir’ pada setiap adegan. Latar musik pada adegan-adegan pembuka membuat film ini sejajar dengan musik pembuka film drama Hollywood.

5. Nostalgia

Film ini menghadirkan banyak nuansa nostalgia tahun 80-90an. Penonton angkatan ini pasti akan senyum-senyum sendiri pada adegan nonton di drive-in yang kocar-kacir ketika hujan. Dan film yang ditonton adalah “Catatan Si Boy” yang entah seri yang ke berapa. Busana Iwan juga pas dengan tren era “Si Boy’ dengan jins agak cembung di pinggang dan sempit di kaki.

Itu alasan versi saya. Sebenarnya masih banyak alasan lain, tapi cari sendiri aja ke bioskop. Jangan nonton sendiri, lebih enak rame-rame. Kenapa? Ya, nonton dulu aja.. 

Sebagai bonus tulisan ini, saya teringat pernah menuliskan puisi ini untuk almarhum Bapak Abdul Hasyim. Suatu hari Mas Iwan Setyawan membacakan sebuah puisi untuk bapaknya tersebut. Ternyata puisi itu bersahut-sahutan. Dari ibu Mas Iwan ke bapaknya, lalu dari angkot ke bapaknya. Tidak sampai di situ, ada lagi yang turut bersahutan puisi sebagai tribute untuk almarhum Bapak Abdul Rasyid. Saya pun gak mau ketinggalan urun-puisi dengan ritme yang sama dengan puisi-puisi itu. Ketika saya kirim ke Mas Iwan, balasannya begini: “Oddieeeee, kamu tega ya bikin aku remuk!”

9S10A Oddie WP

Surat Dari Sahabat Anak Lanangmu

Aku seakan telah mengenalmu
Kuyakin kau masih berdenyut, lewat anak lanangmu

Aku ingin mengunjungi rumahmu
Walau kau tak mungkin menyambutku
Kuyakin kenanganmu akan memelukku

Aku ingin memandang wajah ibuk
Seperti kau yang rindu senyumannya
Aku ingin memeluk ibuk
Seperti kau yang rindu kehangatannya

Sudilah engkau merestui kedatanganku
Cintamu telah memanggilku. Ada, dan tiada.
Harummu merasukiku. Ada, dan tiada.

Sekali hidup ini. Cinta itu harum selamanya.

***
Cikeas, Januari 2013

Catatan: Foto-foto di blog ini karya Suryo Brahmantyo.

Advertisements

12 thoughts on “5 Alasan Kenapa Harus Nonton “9 Summers 10 Autumns”

  1. “Kalau biasanya akting menangis membuat penonton ingin ikut menangis, dalam film ini perasaan saya justru “jatuh berantakan” pada adegan yang tidak ada airmata sama sekali, bahkan miskin dialog. Dalam satu adegan di dalam angkot, Pak Abdul Hasyim bertanya pada Iwan, “Jadi kamu mau kuliah ke Bogor?”. Saat Iwan mengangguk mengiyakan, Pak Abdul Hasyim seketika membanting setir menuju bengkel untuk menjual angkotnya. Momen memutar setir dengan ekpresi tanpa kata inilah yang mengaduk perasaan saya. Inilah perjuangan seorang Bapak!”

    Kok sama ya :’)

    1. Untung kita gak duduk sebelahan ya, Kak Ochoy.
      Kan aneh, adegannya angkot ngebut, kok ada dua pemuda tampan yg matanya berkaca-kaca 🙂

      Salam,
      @Oddie__

  2. Waktu baca bagian ini: “Dalam satu adegan di dalam angkot, Pak Abdul Hasyim bertanya pada Iwan, “Jadi kamu mau kuliah ke Bogor?”. Saat Iwan mengangguk mengiyakan, Pak Abdul Hasyim seketika membanting setir menuju bengkel untuk menjual angkotnya. Momen memutar setir dengan ekpresi tanpa kata inilah yang mengaduk perasaan saya. Inilah perjuangan seorang Bapak!”

    Taaar, pecah tangis saya 😦
    Pingin nonton filmnya, tapi di sini belum ada bioskop 😐

    1. Duh, baca komen kamu aku jadi ‘remuk’ lagi. Emang scene itu nempel banget. Jadi ingat suka bandel sama bapakku huhuhu..

      Trus, pengen nangis lagi tau di tempat kamu belum ada bioskop. Sabar ya, baca bukunya dulu 😦

  3. Salam kenal, jujur saja saya belum baca bukunya.
    meski saya berasal dari kota yang dekeet banget sama kota tempat Mas Iwan lahir, saya di Malang. Bahkan nama kamipun mirip, saya Ihwan. Saya juga menulis buku, cuman nasib saya belum semujur Mas Iwan 🙂
    Baca blog ini saya jadi pengin liat filmnya, apalagi settingnya di Batu, disebut2 nama Panderman juga, gunung fave para pendaki dan anak2 pecinta alam. Makasih Mas atas infonya.

    1. Salam kenal, Mas Ihwan.

      Wah, penulis juga ternyata 🙂
      Saya iri dengan Mas Ihwan yang tinggal di Malang. Saya membayangkan bisa menulis sambil menikmati julangnya Panderman dan menjejak ke puncaknya (jika mampu hehehe..)

      Terima kasih sudah berkunjung.
      Mari menulis, kejar suksesnya Mas Iwan Setyawan! Hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s