Bulan Seribu Reuni

Kata Pak Ustad, Bulan Ramadan itu kemuliaannya setara dengan pahala seribu bulan. Di bulan ini ada malam Lailatul Qadar di mana sejarahnya Al-Quran diturunkan dengan segala kemuliaannya. Menurut saya, bulan ini layak pula disebut “Bulan Seribu Reuni” karena hampir setiap hari kegiatan reuni menjadi kemuliaan gaya hidup masa kini.

Reuni Manusia
Selalu ada alasan untuk segala bentuk reuni di Bulan Ramadan. Buka puasa bersama dan bakti sosial menjadi panggungnya. Mulai dari reuni sekolah segala tingkat, lingkungan pekerjaan, organisasi, pertongkrongan (duh, bahasanya), hingga teman kursus. Minggu pertama biasanya reuni dengan keluarga dulu. Semua berusaha pulang lebih awal supaya bisa berkumpul di rumah. Minggu kedua dan ketiga, grafik reuni ada pada skala richter yang tinggi. Seminggu terakhir, grafik reuni melambat namun memadat di mall. Reuni dengan mesin-mesin kasir. Belanja!

Reuni memang urusan silaturahim. Kadang urusan ini masih terbelah lagi pada urusan kedekatan yang lebih intim. Pasti sering mendengar percakapan-percakapan kreatif ini:
– Setelah reuni SMA: “Eh, kemarin kan reuni sekelas. Kapan reuni geng kita?”
– Setelah reuni anak marching band: “Anak-anak terompet mau reuni lagi tuh. Lu datang, ya!”
– Setelah reuni teman sekos: “Jangan lupa minggu depan bukber lagi. Kita-kita aja, anak lantai 2.”

Buset!

Reuni Kuliner
Bagi saya bulan puasa identik dengan teh manis aroma melati, kolak, dan madu. Sehari sebelum puasa, saya tergopoh-gopoh ke mini market membeli teh beraroma melati. Padahal saya masih punya stok teh yang masih penuh tapi aromanya standar. Sambil beli teh itu, saya mampir ke rak madu. Rasanya saya akan lemas tak berdaya kalau sehabis sahur nggak nenggak madu.

Buka puasa di hari pertama, saya keliling dari satu restoran ke restoran lain bukan karena mencocokkan menu dengan selera. Tapi hanya untuk bertanya: “Di sini ada kolak, nggak?”. Setiap hari saya jarang makan daging merah. Sahur pertama bulan puasa ini, tiba-tiba saya ingin rendang. Tengah malam saya keliling cari rumah makan padang yang masih buka di sekitar kompleks. Pokoknya malam itu harus ketemu! Mirip wanita hamil muda yang lagi ngidam-manja.

Reuni Hati

Oh tidaaak! Ini paling bikin meleleh. Ya, begitulah kalau hati telah membatu selama berbulan-bulan. Udah gitu, bukan batu pualam yang berkilauan pula. Tapi batu kali tempat orang buang hajat!

Kenapa meleleh? Ya, iyalah. Nggak sengaja nguping Mas Opick nyanyi “Tombo Ati” aja rasanya mata mau meleleh. Bisa salat di masjid aja rasanya tulang-tulang udah meleleh kege-eran. Timbul lagi niat mengaji seperti bulan-bulan puasa sebelumnya. Kalau selama ini satu novel bisa diembat baca semalam, khusus bulan ini hati selalu tergerak otomatis. Niat luhurnya mau mencicil-cicil baca Al-Quran sedikit-sedikit. Beberapa tahun terakhir cicilannya selalu mampet tengah jalan. Heran, kredit panci aja takut bener telat nyicil sebulan. Ah, manusia.. (sambil nunjuk hidung sendiri dengan panci).

Tapi itulah hati. Ada saat-saat tertentu akan tergerak bereuni sendiri dengan Dzat Sang Empunyanya. Dari semua reuni heboh di atas, semoga reuni hati ini akan konsisten ada terus. Jadi kepikiran, sesekali mau organisir reuni hati ini lebih nge-geng biar kece: reuni hati yang meleleh, reuni hati yang kembali, reuni hati yang luka, reuni hati yang poranda..

Selamat berpuasa, jangan lupa reuni dengan diri kita sendiri!

Advertisements

10 thoughts on “Bulan Seribu Reuni

  1. “Selamat berpuasa, jangan lupa reuni dengan diri kita sendiri!” \(_ _!)
    kenapa penutupnya kalimat beginian sih… aaaaagggrrrrhh…. [merenung] [galau]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s