Sepasang Sepatu Tua

 

Kompleks pertokoan itu seperti tidak menyisakan keramaian dari masa lalu. Beberapa bangunannya sudah berkeriput lumut. Dari selusin lebih, hanya setengahnya saja yang masih bertahan dalam perniagaan. Itu pun dicat kembali seadanya agar kemuraman sedikit tersembunyikan.

Di ujung barisannya, ada satu-satunya toko yang menjual sepatu. Pemiliknya seorang pemuda duapuluhlimatahunan. Ia generasi ketiga yang mengelola sekaligus menungguinya seorang diri. Toko itu menjual sepatu kulit khusus lelaki. Tidak banyak koleksi yang tersedia. Jangan harap menemukan model sepatu mutakhir di sini. Semuanya sepatu model lama, atau bisa dibilang kuno.

Pengunjung toko semakin sepi. Sudah beruntung ada sepasang yang laku dalam sehari. Dari sekian banyak sepatu yang belum laku, ada sepasang yang belum pernah laku semenjak toko itu berdiri. Sepasang sepatu bertali, berwarna cokelat tua. Bayangkan, usia sepatu itu telah melebihi usia pemilik toko yang sekarang!

 ***

 Sang pemilik toko selalu telaten membersihkan sepatu-sepatu di sela waktunya menunggui toko. Ia ingat betul pesan bapaknya, –yang berarti pula pesan bapak dari bapaknya. Kulit yang membungkus sepatu itu seperti bernyawa. Jangan sampai debu merusak denyutnya. Sepatu kulit punya misteri sendiri. Semakin tua usianya, semakin mewah pesonanya jika dirawat dengan baik.

Sudah seminggu belakangan ini, ada perasaan yang tak biasa setiap kali membersihkan sepatu cokelat yang tak laku-laku itu. Berhadapan dengan sepatu itu seperti berhadapan dengan kenangan yang terus bercakap-cakap dengan benaknya. Ingatannya kerap membubung pada mendiang bapak dan kakeknya, dua lelaki pendahulu yang mewariskan toko itu padanya, –yang tak sengaja pula mewariskan sepatu tak laku-laku itu.

Setiap menyentuh kulit sepatu itu, ia merasa bagai menyentuh tangan bapak dan kakeknya. Kedua tangan itu menurunkan ketelatenan pada tangannya. Ia menikmati ayunan sikat pengusir debu. Suara gesekannya membuat waktu berputar cepat, menariknya kembali ke masa lalu. Suara gesekan itu sama persis dengan yang ia dengar ketika tubuh mungilnya terpaku di depan kakeknya yang sedang menyikat sepatu. Suara yang sama pula terekam di telinga remajanya ketika sikat mengayun dari tangan bapaknya.

Pemuda itu menghabiskan waktunya lebih lama untuk sepasang sepatu tua itu. Sepatu yang lain hanya perlu disikat beberapa menit lalu beres. Tetapi pada sepatu cokelat itu ia tak sadar bisa menghabiskan waktu setengah jam lebih hanya untuk mematut-matutnya setelah disikat. Kenapa sepatu ini tidak laku-laku? Sepatu ini kan tidak cacat sedikit pun? Apa sepatu ini terlalu mahal harganya?       

***

Berhari-hari pemuda itu penasaran dengan si cokelat yang tak laku-laku itu. Rasa penasaran itu semakin menghantuinya. Darah pedagang sepatu yang mengalir tiga generasi di tubuhnya seolah menantangnya untuk berbuat sesuatu. Ia merasa bapak dan kakeknya akan bangga jika sepatu itu akhirnya terjual juga.

Maka dimulailah segala upaya untuk membuat sepatu itu laku. Ia berpikir untuk memberikan sedikit potongan harga untuk memancing minat pembeli. Di depan sepatu itu ia tuliskan secarik kertas bertuliskan diskon duapuluh persen. Ia berharap tanda itu akan menarik pengunjung di akhir pekan yang biasanya lebih ramai dari hari biasa. Tetapi setelah tiga kali akhir pekan, sepatu itu belum laku juga. Bahkan tanda diskon itu tidak terlirik sama sekali oleh pengunjung.

Pemuda itu lalu berpikir ada yang salah dalam memajang sepatu itu. Semenjak toko itu menjadi miliknya, si cokelat tua itu sudah ada di rak pojok paling bawah. Ah, bagaimana akan laku jika sulit terlihat seperti itu? Begitu pikirnya. Lalu terbesit ide cemerlang untuk memindahkannya ke etalase depan.

Semenjak toko itu berdiri, etalase depan selalu diperuntukkan untuk sepatu model terbaru. Kalaupun bukan yang terbaru, tempat itu hanya layak untuk sepatu mahal dengan kualitas kulit yang terbaik. Namun kali ini akan tercatat sejarah lain dari toko itu. Si cokelat tua itu bertahta di etalase, diapit dua pasang sepatu lain yang lebih baru modelnya.

Pemuda itu mematut-matut dari luar toko. Si cokelat tua terlihat lebih menawan di balik pantulan kaca etalase. Sepatu itu pasti akan menarik perhatian orang seperti dirinya saat itu. Dengan tanda diskon, nalurinya berkata bahwa sepatu itu akan laku terjual tidak lebih dari sepekan.

Benar saja, baru sehari bertahta di etalase, si cokelat tua telah memancing lirik banyak pejalan kaki. Pemuda itu tak henti tersenyum dari balik meja kasir. Ia tak sabar menanti kejutan atas keputusannya. Nalurinya kembali berbicara, sepertinya sepatu itu akan laku hanya dalam hitungan hari, lebih cepat dari dugaan awalnya.

***

Di hari kedua sejak si cokelat berada di etalase, perasaan pemuda pemilik toko itu berkecamuk lain. Pagi di saat ia sedang membersihkan kaca luar etalase, entah kenapa pandangannya tak henti tertuju pada si cokelat tua.

Pertama, ia merasa tidak perlu lagi memberikan diskon. Si cokelat tua itu justru terlihat lebih memukau dibanding dua pasang sepatu di kiri-kanannya. Kulitnya terlihat lebih cemerlang. Nyawa yang memantul dari kulit dan keantikan modelnya tidak membuat matanya mengelabui naluri dagangnya.

Kedua, perasaannya kembali dirusak oleh kenangan akan bapak dan kakeknya. Si cokelat tua itu seperti menyimpan sejarah keluarganya sebagai keluarga pedagang sepatu. Perasaannya menjadi berlebihan tetapi ia tak kuasa menepisnya.

Pemuda itu lalu tergopoh-gopoh kembali masuk ke dalam toko. Segera ia menuliskan sesuatu di secarik kertas. Tanpa menunggu lama, kertas itu telah menggantikan tanda diskon di samping si cokelat tua.

Hingga menjelang toko ditutup hari itu, tak henti pengunjung keluar masuk tokonya. Begitu pula di hari ketiga, keempat, dan seterusnya selama sepekan. Tokonya semakin ramai berawal dari si cokelat tua dan secarik kertas di etalase itu.

Orang-orang yang lewat menjadi penasaran membelokkan langkahnya ke dalam toko. Beberapa hanya melihat-lihat, tetapi beberapa pula membeli. Namun si cokelat,–sepasang sepatu tua itu, tetap saja bertahta di etalase walau selalu dihujani pertanyaan pengunjung; kenapa “tidak dijual??”.

Advertisements

15 thoughts on “Sepasang Sepatu Tua

  1. Jadi teringat pada sepatu tuaku berwarna hitam. Mencoba untuk mendapatkan sepatu murah karena uang yang dimiliki tak seberapa. Akhirnya pesan sendiri di sebuah lokasi pembuatan sepatu yang berdekatan dengan kampus di Jakarta Selatan. Sepatu yang mengiringi langkah dalam mengarungi kerasnya kehidupan kota. Sepatu yang menjadi saksi akan kehidupan yang pernah dijalani dahulu…Sepatu tuaku, dia yang tak pernah lelah menemani walau terus diinjak dalam panas di atas aspal jalanan ibukota.

    Apik tenan webnya guru menulisku…

    1. Hehehe makasih kak esti
      Sengaja tombol like-nya dibuang.
      I don’t need the “like”.
      I really want to know “what” and “why”, if you like..

      Salam,
      @Oddie__

    1. Wah, Mbak Nadia kudu masuk MURI. Baru kali ini ada yang baca blog saya sampe nangis. Ini rekor!

      *blogger lebay*

      Makasih atas kunjungan dan tetes air matanya..

      Salam,
      @Oddie__

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s