Lagu Pemecah Malam

Awalnya sebuah mention dengan tautan soundcloud masuk ke linimasa saya. Mention itu aku cuekin–mungkin lebih dari sejam—karena saya sedang diburu tenggat. Saat rehat sejenak, saya penasaran dengan kata-kata “poem by Oddie”. Loh, puisi saya? Tadinya saya kurang memerhatikan karena nama kedua akun yang ada di mention itu–@carlpass dan @risangdaru—belum pernah saling sapa di linimasa.

Dan saya pun membuka tautan itu… AMPUUUUUUUUUUUN! Lagunya manis berdarah madu! Saya langsung lupa dengan segala tenggat. Saya membayangkan malam dan tenggat adalah sepasang mangkuk bakso yang tiba-tiba krompyang di ubun-ubun. Pecah!

Lagu ini jahat sekali! Saya sampai mati angin. Nggak tahu mau lanjut nulis apa. Saya langsung norak pangkat lebay di twitter. Oh kawan, jangan stalking linimasa saya ya. JANGAN! Yaelahbro banget deh. Saya sempat mention ke @carlpass dan @risangdaru: “Lain kali kalau mau bikin lagu dari puisi saya, kodein dulu. Biar saya siap mental untuk norak.”

Saking noraknya, saya nggak memerhatikan beberapa hal:

Pertama; saya baru tahu kalau kedua penjahat ini adalah cewek-cewek. Saya baru tahu pas intro musik diisi suara. Kok suara cewek? Sambil terus dengerin, saya buka avatar mereka satu persatu yang buram-buram manja itu. Ohhhh.. dua-duanya cewek tho. Ya gimana dong menurut lo, nama akunnya kayak cowok-cowok anak gunung gitu..

Kedua; saya belum tahu siapa yang nyanyi, siapa yang gubah aransemennya, dan siapa yang gosrek-gosrek gitar? Akhirnya saya paksa Carla untuk menjawab email saya malam itu juga hehehe.. (setelah lagu ini saya dengar 23 kali!). Yang nyanyi dan main gitar adalah Carla. Mungkin @risangdaru yang khilaf ketemu puisi saya trus minta dinyanyiin Carla.

Ketiga; saya lupa, ini puisi saya yang mana, ya? Tapi saya sengaja mengikuti syair demi syair hingga pertengahan lagu. Aha! Saya mulai ingat. Eh, dusta deng.. Saya akhirnya nyerah juga buka blog saya sendiri. Ohhh yang ini tho…

Kembali ke lagu..

Bukan karena ini puisi saya sehingga saya lebay nggak bermartabat gini. Berikut alasannya: Suara dan gaya menyanyi @carlpass mengingatkan saya pada vokalis grup White Shoes & The Couples Company (Aprilia Apsari), yang saya suka banget! Nggak banyak kan vokalis/band dengan gaya menyanyi tahun 60-70an gitu. Oh Carla, you did GREAT!

Aransemen dan petikan gitarnya mengingatkan saya pada musik grup Payung Teduh, yang ampun dj saya juga suka banget! Penggalan kata dan permainan melodinya membuat puisi saya yang sederhana itu membadai syahdu. Ini bukan analisa maksa. Silakan disusur kata per kata sambil dengerin lagunya.

Rima “u” di ujung-ujung kalimatnya diekspos dengan baik. Bahkah di beberapa kalimat, ada yang sengaja ditahan, bahkan diperpanjang. Kesannya melodi itu seperti menggigit telinga, dan sengaja nggak dilepas dulu. Malah gigitan itu menggoyang-goyangkan telinga dengan manja sebelum dilepaskan.

Bagai buku cerita,
Ia membacakannya sendiri di hatikuuu..huhuuu..
…..
….
Bagai desah lagu
Ia mendendangkan bait-bait nada di hatikuuuu..huhuuu..

Penggalan yang menguatkan kesan. Nada ditahan dan dibunyikan sesuai katanya.

Kenangan itu telah tiba padaku
Bagai desahhhh[didesir-desahkan]..lagu
Ia mendendangkan bait-bait nada di hatiku

Penutup yang epik, GRAND! Kenapa? Kalimat dipotong dengan menyisakan satu kata ulang yang benar-benar merupakan kunci puisi ini. Saat peotongan itu, nada ditinggikan, Carla melengkingkan suaranya, lalu senyap, hilang seperti kata ‘hilang” itu sendiri. Tiba-tiba setelah hilang itu, kata pemuncak “berkali-kali” benar-benar seperti digelontorkan penuh penyesalan dari sebuah puncak. Jatuh, lalu meluncur hilang.

Kenangan itu selalu datang berlari-lari
Untuk kembali hiilaaaaaaang[nada tinggi]…[senyap]..[nada muncul meluncur turun] berkali-kaliiiii..

Belum ada serapi ini orang memusikalisasi puisi saya!

Tentang puisi..

Oh ini puisi 2011 yang pernah saya posting di sini. Puisi ini didedikasikan khusus untuk penyiar kece, Binda Umar. Ceritanya, dulu Binda masih siaran di MSTRI FM. Saya jadi tamu di edisi Valentine, setelah sebelumnya untuk promo buku. Selama 2 jam saya berpuisi-puisi unyu di udara Jakarta. Setelah itu saya janji bikinin puisi buat doi. Ini puisi spontan yang ditulis langsung dari BB setelah berbulan-bulan berikutnya. Eh, nggak tahunya ada yang diam-diam meminang puisi ini jadi lagu.

Jadi begitulah lagu ini telah memecah malam (tengah malam tadi sih) saya. Sampai saya menulis di blog ini mendekati pukul 3 pagi (didukung Telkom Flash yang ngebut), sudah 31 kali saya memutar ulang lagunya. BRUTAL!

Sekali lagi, terima kasih @carlpass dan @risangdaru! Saya tersanjung. Sungguh. Kapan-kapan nyanyi langsung di depan saya ya. Belum pernah lihat kan ada cowok berjenggot yang tiba-tiba tinggal jenggotnya aja karena badannya udah lumer?

Dengerin lagi, ahhh..

Advertisements

17 thoughts on “Lagu Pemecah Malam

  1. Benar-benar memecah malam, seolah menjadi pewarta era 60-an, saya membayangkan perihal tulisan-tulisan konflik dan pergerakan dengan mesin ketik, tembakau, dan segelas kopi. sial ! Keren sekali musikalisasinya,

  2. *eh…keputus*…. aku baru mampir di blognya Mas Oddie dan masih betah aja nikmatin lagu ini…putar lagi, lagi, dan lagi, masih enggan beranjak untuk menikmati tulisan Mas Oddie yg lain.

    1. Ahay, makasih udah mampir 🙂
      Aku juga udah ratusan kali dengar lagu ini.

      Udah lama blog ini nggak diisi.
      Lagi siap-siap pindah ke dot.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s