“Soekarno” – Dua Buah Cinta Segitiga, Bung!

 

“Pemimpin yang baik, selalu muncul di saat yang tak terduga..”

Itulah kalimat dari Soekarno (Ario Bayu) saat menenangkan Hatta (Lukman Sardi) beberapa hari sebelum proklamasi. Hatta saat itu sedang galau, jika Indonesia merdeka, apakah mereka mampu memimpin bangsa yang sebesar Indonesia. Mungkin kegalauan Hatta itu terjadi pula saat ini. Pemilu 2014 sudah di depan mata, siapa pemimpin kita nanti? Dalam konteks sekarang, saya ingin memelintir kalimat Soekarno tadi. Saatnya sih nggak perlu lagi diduga, Pemilu sudah pasti di 2014. Tapi, siapa pemimpin yang akan kita tonjok fotonya pake paku di bilik suara? Aih, berat..

Duah Buah Cinta Segitiga

Saya menemukan dua buah cinta segitiga dalam “Soekarno”. Yang pertama, “cinta” segitiga pergerakan kemerdekaan antara Soekarno-Hatta-Sjahrir (Tanta Ginting). Film ini memang mengangkat kisah utama di era menjelang proklamasi. Sudah pasti segitiga yang pertama berputar di ketiga tokoh pergerakan yang cinta Indonesia itu tadi.

Sjahrir kala itu lebih dulu tahu kalau Jepang sudah kalah dalam perang dunia ke-2. Oleh karena itu, dia ingin proklamasi segera dilakukan. Sementara, Soekarno sedang berada di tengah rencananya dalam bernegosiasi dengan Jepang. Doi sedang menunggu saat yang tepat agar proklamasi dilakukan tanpa pertumpahan darah. Hatta selalu menjadi penengah antara Soekarno yang penuh strategi dan Sjahrir yang penuh gejolak itu.

Hubungan unik itu lagi-lagi tersaji dalam percakapan Soekarno dan Hatta. Ketika Jepang benar-benar mengembalikan kedaulatan Indonesia, Soekarno curhat sama Hatta, “Sjahrir pasti akan menertawakanku.” Hatta dengan bijak menjawab, “Tidak, Bung! Sjahrir sebenarnya menghormati Bung. Dia mengakui tidak sepandai Bung yang mudah merebut hati rakyat.” Ahhh..so sweet!

Segitiga cinta yang kedua, berputar di mana lagi kalau bukan di antara Soekarno-Inggit Garnasih (Maudi Koesnaedy)-Fatmawati (Tika Bravani). Aduh, ini segitiga cinta pergerakan hati. Soekarno yang sedang mabuk kepayang pada Fatmawati didera dilema akut. Sebuah adegan ketika Soekarno dan Inggit mengunjungi ayah, Soekemi Sosrodihardjo (Sujiwo Tejo), dan ibunda Soekarno, Ida Ayu Nyoman Rai (Ayu Laksmi), cukup mewakili alasan kenapa Soekarno ingin menikah lagi.

“Kapan kamu akan memiliki putra?” demikian pertanyaan sang ibunda pada Soekarno dalam kunjungan itu. Pertanyaan ini seketika merobek kuping dan hati Inggit yang turut mendengarkannya. Karena cintanya, Soekarno nggak ingin menceraikan Inggit yang selalu mendukung perjuangannya. Inggit sendiri berkeras nggak ingin dimadu. Maka muncullah adegan pertengkaran di rumah pengasingan di Bengkulu yang tersaji aduhai menyayatnya.

Koes

Inilah nama kecil sang proklamator sebelum dikenal sebagai Soekarno. Tokoh besar ini bagai sumur yang airnya menyembur sepanjang bangsa ini ada. Sepak terjangnya dalam mewujudkan Indonesia yang merdeka nggak kalah serunya dengan romansa kehidupan cintanya. Ario Bayu memang nggak salah jika dipilih untuk memerankan tokoh ini. Untuk ukuran penonton yang hanya mengenal Soekarno lewat buku dan film dokumenter, postur dan aktingnya sangat meyakinkan.

Walau film ini utamanya tentang Soekarno, kehadiran Inggit Garnasih sangat mencuri perhatian. Saya makin mengenal sosok isteri keduanya ini. Bagi saya, eksplorasi pada sosok Inggit menguatkan karakter Soekarno itu sendiri. Kesabaran dan ketegaran hati seorang Inggit berhasil saya dapatkan di tangan akting ciamik Maudy Koesnaedy.

Simbol-simbol lain yang menguatkan sosok Koes juga tersaji apik. Adegan mic dengan suasana yang berpindah dari pidato HOS Tjokroaminoto (Roza) ke pidato Soekarno sangat brilian! Adegan ini bukan sekadar menyajikan lompatan waktu, tetapi menguatkan Soekarno sebagai “Singa Podium”. Adegan brilian lain, ketika Inggit dan Fatmawati memasangkan peci di kepala Soekarno. Walau kedua adegan ini terpisah scene, namun sama-sama menunjukkan simbol kharisma Soekarno di mata wanita-wanita yang menjadi isterinya itu.

Kemasan Berani

Terlepas dari polemik jalan sejarah yang ditampilkan dan pemilihan aktor utama film ini, Hanung Bramantyo, sang sutradara, layak diacungkan dua jempol. Bagi saya, nggak mudah menghadirkan tokoh sebesar Soekarno ke dalam sebuah film. Sebagai seorang tokoh, banyak orang akan merasa lebih kenal sosok Soekarno dibanding seorang Hanung. Sebagai sebuah sejarah, banyak orang akan mengaku lebih paham peristiwanya dibanding seorang Hanung. Tapi mengangkatnya ke dalam sebuah film bioskop? Hhhmm..

Hanung berhasil membelah kedua segitiga tadi ke dalam porsi yang pas. Bagi saya, Hanung mengemas film ini dengan berani. Bahkan sangat berani! Ada beberapa hal yang membuat saya mengerutkan kening. Contohnya, usul Soekarno untuk mengerahkan pelacur. Contoh lain, Soekarno difoto-foto di tengah romusha. Mungkin ini karena pengetahuan saya tentang sejarah yang masih minim. Semoga riset Hanung punya alasan kuat untuk menampilkan adegan-adegan tersebut.

Secara teknis, saya terganggu dengan beberapa hal. Pertama, scene seorang wanita yang menyematkan saputangan di saku Soekarno. Oh please, nggak harus se-lebay ini! Kedua, ketika scene masih menunjukkan para pelacur yang meronta-ronta diserbu serdadu Jepang, tiba-tiba muncul langgam Betawi yang riang dan scene berpindah ke suasana hiruk-pikuk kota Jakarta. Sebagai penonton, suasana hati saya yang sedang miris saat itu seketika drop. Yaelah banget, istilahnya.

Kembali ke Sejarah

Bagaimanapun, “Soekarno” tetaplah sebuah upaya untuk mengenalkan tokoh dan sejarah yang layak disimak. Harus diakui saat ini sedikit sekali produk seperti ini di layar lebar. Sutradara sekaliber Hanung Bramantyo pasti sudah berhitung cermat menengahi aspek film yang mencerahkan, menghibur, tanpa terkesan seperti sebuah film dokumenter yang membosankan.

Imbauan para penonton untuk berdiri di awal film demi lagu Indonesia Raya seperti sebuah suntikan mahal yang menggetarkan semangat dalam berbangsa. Apalagi saat krisis sosok pemimpin seperti saat ini. Kalau akhirnya film ini masih memunculkan polemik dan kontroversi, setidaknya film ini bisa jadi pelecut siapapun untuk kembali mengenal dan memahami sejarah. Ya, seperti pesan Bung Karno itu, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah..”

Advertisements

11 thoughts on ““Soekarno” – Dua Buah Cinta Segitiga, Bung!

  1. T_T selalu bangga jadi bangsa Indonesia punya proklamator seperti Bung Karno, saya belun nonton bang… (._.) kasihan banget kan…. huft!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s