Tenggelamnya (Janji Setia Bersama) Kapal Van der Wijk

vlcsnap-2014-01-04-06h10m59s19

Jika cinta telah datang, sebuah janji yang tersulit pun akan menggetarkan bibir dengan mudah.

Kalau sebuah janji terucap dari seorang cowok, maka tentu ini nggak aneh karena bibir cowok tersusun dari sel-sel gombal. Lha ini, terucap dari seorang cewek seperti Hayati (Pevita Pearce)! Cowok mana yang nggak akan berantakan jiwanya? Apalagi, Hayati adalah kembang dari Batipuh yang jadi pemuncak tujuan segala sayap kumbang. Dan kumbang yang berantakan jiwanya itu adalah Zainuddin (Herjunot Ali).

“Engkaulah Zainuddin, yang akan menjadi suamiku kelak. Bila tidak di dunia, kaulah suamiku di akhirat.”

Jederrr!

 5 (lima) hal yang nggak asyik menurut saya dari film ini:

  1. Warna kebiruan pada frame dengan setting Batipuh. Saya nggak ngerti ini maksudnya apa. Yang pasti, mata saya nyaris kram karena nggak nyaman. Padahal, di sinilah momen “uwuwuw” ketika Zainuddin terperosok ke dalam kerling malu-malu Hayati.
  2. Seluruh adegan dengan setting Kapal Van der Wijck. Paling malesin saat penumpang “dadah-dadahan” ala Titanic. Saya nyaris tutup muka karena malu dengan hasil kerja yang nggak rapi itu. Padahal, saya cuma penonton, bukan yang bikin filmnya..
  3. Alasan tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang absurd. Tiba-tiba kapal langsung miring menumpahkan Hayati dan penumpang lainnya. Saya sih belum baca versi novelnya yang ditulis Buya Hamka ini. Tapi, lebay banget kan alasan tenggelamnya hanya karena ada Hayati yang hatinya sedang berat banget harus meninggalkan Zainuddin?
  4. Lagu latar yang terus diulang dan berisik. Kalaupun diulang, mbok ya versi instrumentalnya aja gitu.
  5. Gestur Muluk (Randy Danistha) yang bandel tapi masih kurang berangas. Tapi sebagai pendatang baru, Randy sudah okelah. Paling nggak asyik pada karakter Ida (saya nggak tahu siapa pemerannya), teman Hayati. Rasanya pemeran Ida ini sedang bermain sandiwara sekolah.

Nah, ini dia 5(lima) hal yang bikin saya nggak menyesal menonton film ini:

  1. Penampilan Herjunot Ali, Pevita Pearce dan Reza Rahadian yang ciamik. Reza tampil prima sebagai Aziz yang glamor dan parlente. Sementara untuk Herjunot dan Pevita, inilah penampilan terbaik mereka selama ini. Herjunot tampil konsisten dengan aksen Bugis yang kental. Kelihatan banget dia lompat kelas dari penampilannya di film ini. Khusus untuk Pevita, saya tidak menyangka dia akan sebagus ini penampilannya. Terlepas dari kekurangannya pada aksen yang kurang terjaga, Pevita sangat mengejutkan!
  2. Beberapa gambar diambil dengan sudut yang ‘niat’ banget untuk ukuran film lokal. Scene spektakuler banget ketika Aziz sedang ngebut dengan mobilnya. Diambil dari atas dan menyusur laju mobil di tengah padang. Rumah megah Zainuddin pun diekspos dengan apik, terutama ketika diambil dengan kamera jarak jauh.
  3. Setting Minangkabau di tahun 1930-an membuat dialog film ini sangat sastrawi bahasanya. Ini sesuatu yang beda. Semoga makin banyak novel klasik yang diangkat ke film supaya telinga penonton Indonesia makin terbiasa mendengar keindahan klasik bahasanya sendiri.
  4. Sekali lagi, saya memang belum membaca novelnya. Tadinya saya mengira ini cuma seputar cinta segitiga dan urusan kapal yang tenggelam. Ternyata, konflik cukup padat sepanjang cerita. Film jadi nggak membosankan.
  5. Film klasik dengan setting rumit seperti ini membuat pekerja film makin naik kelas dan penonton Indonesia makin pintar. Penonton Indonesia perlu film-film seperti ini. Salut atas hasil kerja sutradara Sunil Soraya dan timnya!

Dari lima dayung perahu, film ini layak dapat rating 3,5 dayung, deh! Bagaimana menurut kamu, Penumpang Perahu Kayu? Ayo, ke bioskop!

Advertisements

12 thoughts on “Tenggelamnya (Janji Setia Bersama) Kapal Van der Wijk

  1. 4 deh kalau saya.
    saya puas terlepas beberapa kekurangan yg terlihat.
    setidaknya ini film bener-benar niat dibuat ga kayak film lokal lainnya yg asal jadi.
    untuk scene kapal jangan berharap muluk, teknologi kita belum se-Wah Hollywood.

  2. Hi mas … Baca2 review nya kok jadi pengen ikutan comment.

    Bener banget, Pevita Pearce tampil sangat stunning dan tidak lebay. Natural banget. Reza … Well … no doubt lah. Herjunot, hmmm … facial expressionnya agak mengganggu. Saya sampe agak kurang konsen karena I really wanted to concentrate on the dialogues tapi jadi bubar konsen gara2 penonton akhirnya jadi ketawa-ketawa melihat mimik muka zainudin yg sedikit ‘over’.

    In terms of lagu, setuju banget mas. Agak berisik. Kurang classy untuk film yang bernuansa klasik gini. Menurut saya lho … Tapi ada temen yang sampe tergila2 sama OST nya. Sama one more thing, mungkin detail diperhatikan lebih teliti. Nampak barang-barang modern sliweran throughout the movie.

    Overall, worth to see kok. Dialog-dialog yang sastrawi, kalimat2 yang meluncur deras penuh makna. Mak nyess banget.

    Maaf kok jadi panjang 🙂

  3. Wah, seneng banget dapat komentpanj begini 🙂
    Setuju banget untuk OST.
    Lagunya secara terpisah sih memang oke, tapi kurang padu dengan nuansa klasik filmnya.
    Thanks banget udah “lelajangan” di perahuku 🙂

    1. So guys…hati2 terhadap ucapan dan perilaku mu yach. Terlebih saat itu bisa menyakiti hati seorang perempuan muda, yang akhirnya harus kembali ke rumah. Dengan menahan rindu dan cinta di dalam jiwa serta sedih yang tak terperikan.

      Saat kembalinya dengan sebuah kapal, ternyata bisa mengguncangkan seisi kapal saat tengah melaju di lautan. Hatinya yang pilu membuat kapal rupanya bisa kelebihan muatan. Kesedihan seorang perempuan ya…

      Hehehe…love it bang Oddie, cerdas isi perahunya.

  4. Saya kasi 4. Sgt suka. Bagi saya ini film klasik tradisional yg bagus n terasa. Knpa terasa yaa krn nuansa setting,dialog,bahasa logat mmg disesuaikan.saya ikut brasa ada di lingkungan minang saat mndengar dialog2nya. Bukan mngecilkan film dg latar adat trandisional lainnya..sprti hafalan delisa yg brsetting aceh..kcewa bangedd nnton’y. Saya brharap bs mndengar dialek2 aceh kental sprti yg biasa saya dengar ktika teman2 sekamar sya yg org aceh. Shrus’y pmbuat film lebih mmperhatikan.agar film mmg lebih terasa menyatu dg crita. Sprti yg di buat TKVDW..gud job !

  5. Hai Mbak Mey,.
    Terlepas dari kekurangannya, setuju sekali film-film seperti ini sangat menyegarkan.
    Seharusnya makin banyak ya biar saling kita saling kenal adat istiadat masing-masing.
    Terima kasih kunjungannya 🙂

  6. Film keren. Dialog keren. Soundtrack super keren. Dari novel yg luar biasa inspiratif. Di jaman itu sungguh imajinasi buya hamka luar biasa mengangkasa.
    Saya kasih 5!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s