Jendela-Jendela Aba

Inilah salah satu cerpen terbaik yang pernah kutulis. “Jendela-Jendela Aba” kemudian menjadi judul buku antologi cerpen karena menjadi jawara di lomba cerpen tahunan yang diselenggarakan oleh RetakanKata di tahun 2013.

Cerpen ini kutulis di tahun 2012, ketika ‘mengungsi’ ke Bandung selama sebulan. Setiap hari, aku menulis di depan jendela besar di lantai dua. Saat itu di Bandung sedang musim hujan. Di saat itu pula, kerinduan pada ayahku sedang kental-kentalnya. Maka lahirlah cerita di depan jendela dengan sisa-sisa hujan dan kerinduan pada ayahku: “Jendela-Jendela Aba”.

Setiap tahun, bertambah jendela di rumah Aba. Tahun lalu dua,  sekarang bertambah tiga. Setiap kami menanyakan alasannya, Aba hanya akan terkekeh. Akhirnya kebiasaan Aba itu menjadi hiburan setiap kami mengunjunginya. Kami berlomba menjadi yang pertama menemukan jendela baru Aba.
……..

Suara-suara Aba dari percakapan malam itu berulang terdengar. Semakin berulang, dan terus berulang dengan lirih. Aku gelisah dalam mimpi, terlindas pikiranku sendiri.

Aku sontak terbangun, segera berlari ke ruang tamu. Terengah-engah seperti dikejar mimpiku sendiri. Dalam temaram subuh, kudapati Aba. Ia duduk mematung sambil memandang lukisan itu. Aku tidak sanggup membayangkan jika kembali pulang hanya menikmati jendela terakhir.
Tanpa Aba.

Kenapa Aba membuat jendela-jendela itu? Apa yang terjadi ketika rumah Aba dipenuhi jendela-jendela?

Buku ini diterbitkan oleh Java Media Network, 2013.
Silakan pesan di:
www.ratakankata.com

Advertisements

One thought on “Jendela-Jendela Aba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s