Dari Kaboa Hingga Karto Lamus

Buku ini adalah antologi cerpen dan puisi hasil seleksi acara tahunan Fokus Sastra Universitas Pendidikan (UPI) Bandung di tahun 2014.

Diterbitkan oleh Penerbit ASASUPI, 2014, buku ini bisa dipesan di 085795245464 atau di penerbitasas@gmail.com.

Senang banget cerpenku “Lelaki Kutang” terpilih dalam buku ini. Penasaran lelaki seperti apa yang dimaksud cerpenku? Silakan baca ceritanya di bawah. Lengkap!

Lelaki Kutang

“MAS, kutangnya mana?”
Mira menagih. Padahal, belum sepuluh menit Karman tiba di rumah. Penatnya belum sedikit pun luruh dari pinggang. Isi tas jinjingnya pun belum sempat ia muntahkan. Kutang yang dimaksud bukanlah pesanan Mira, istrinya. Bukan oleh-oleh dari perjalanannya selama dua hari keluar kota. Terlebih lagi jika ada yang mengira kutang itu milik Karman.

Kutang itu sebenar-benarnya adalah milik Mira. Kutang yang kerap menyangga dadanya ketika ke pasar, pengajian, dan ke mana saja. Mira cuma berpunya tiga helai kutang. Satu kutang sudah porak-poranda sejak setahun lalu. Itu terjadi saat ia menyusui anak semata wayang mereka. Talinya sudah tidak orisinal lagi. Ada sambungan dari bekas tali kutang yang sudah lebih dulu tamat riwayatnya.

Dua lagi masih lumayan kencang di dada Mira, walau tidak baru. Sepasang inilah yang digilir Mira saat bepergian ke luar rumah. Termasuk digilir Karman saat bertugas keluar kota. Sebab itu, kutang menjadi hal pertama yang selalu ditagih Mira ketika Karman pulang. Bukan oleh-oleh. Itu karena ia harus segera mencucinya. Kutang itu harus siaga menunggu giliran.

Sebenarnya, Karman jarang bepergian. Seorang guru sepertinya hanya akan bepergian jika ada pelatihan di kota. Itu pun paling lama tiga hari dua malam. Karman sendiri tidak suka bepergian. Ia tidak terbiasa meninggalkan istri dan anaknya. Celakanya, setiap terjadi penyesuaian kurikulum, jadwal Karman sering melebihi ketatnya jadwal bepergian kepala desanya sendiri.

Sekolah dasar satu-satunya di desa Karman cuma tersedia tiga orang guru. Itu pun sang kepala sekolah sudah masuk hitungan. Jadilah setiap guru terpaksa merangkap berbagai mata pelajaran. Seperti bulan ini, dua minggu lalu Karman pergi untuk pelatihan pelajaran Bahasa Indonesia, dua minggu lagi ia akan bersiap pergi untuk Matematika.

Ke mana pun perginya Karman, ia selalu membawa kutang istrinya. Entah itu kegilaan apa. Kutang menjadi perkakas wajib-bawa di setiap bepergiannya. Ia akan lebih panik jika lupa membawa kutang istrinya dibanding lupa membawa celana dalamnya sendiri.

Mencium kutang saat terpisah jauh, membuat Karman merasa nyaman, merasa dekat istrinya. Ia seperti membaui seluruh tubuh istrinya bertubi-tubi. Ia menggilai aroma susu Mira yang masih lekat. Mungkin jiwa bayi masih terperangkap di dalam tubuhnya. Karman sulit menjelaskan pada Mira sebab-musabab kebiasaannya itu. Mungkin itu akan dianggap aneh bahkan gila jika diketahui orang.

Mira sendiri awalnya menganggap itu hanya keusilan Karman. Lambat laun, ia menjadi terbiasa. Setiap Karman akan bepergian, ia tak lupa menyelipkan salah satu kutangnya di tas Karman. Begitu pula Karman, ia tak akan lupa memeriksanya sebelum pamit pergi.

Betapa senang dan harunya Mira pada kebiasaan suaminya itu. Senang hati karena Karman akan selalu ingat padanya. Haru perasaannya karena seolah ia turut dalam perjalanan Karman, walau hanya terwakili oleh sehelai kutangnya.

“Kenapa harus kutangku sih, Mas?” tanya Mira pada kali pertama Karman akan bepergian.
“Ya masak celana dalammu, dik? Terlalu asem, nanti bukannya ingat kamu malah aku akan mimpi buruk.”
“Massss..!”

Pasangan muda itu terbahak.

***

Lanjut ke halaman 2 …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s