Gadis Rote di Pantai Pasir Panjang – Kupang

Sebenarnya kita telah bertemu di langit Sumbawa. Aku tahu, kau tidak mungkin menjemputku di bandara. Aku justru yang menjemputmu. Dalam benakku. Semua tiba-tiba saja. Pantai indah yang kulihat dari jendela pesawat itu mengingatkanku padamu. Semua keindahan yang terlihat menjadi kamu. … Continue reading Gadis Rote di Pantai Pasir Panjang – Kupang

Surat

Surat itu seperti mengangguk padaku. Membenarkan segala yang telah kupikirkan dari malam ke pagi dan dari pagi ke malam. “Selamat, bersiaplah untuk kebebasanmu”. Begitulah suara yang terdengar di pikiranku. Suara dari surat itu. Suatu sore di Juni yang kering, seperti ada pintu lain dalam hidupku terbuka lebar-lebar. Begitu lebarnya hingga bisa dilewati ribuan harapanku dengan lapang. “Ini baru awal”, surat itu mengingatkan. Apalah artinya menebak sebuah akhir jika kita tidak merayakan sebuah awal. Ya, surat itu akan mengawali petualangan-petualangan yang baru. Segala yang telah kunanti dan pintu itu akhirnya terbuka. Kepada surat itu aku berterima kasih dan berucap, “Jangan khawatir, … Continue reading Surat

Hujan, Jangan Datang ke Rumahku!

TENGGELAM. Kulihat ranjang, kursi dan lemari menyesal tidak bisa berenang. Kami sedikit lebih beruntung walau seperti monyet bergelantungan di dahan loteng.

Entah bagaimana caranya menolak hujan. Katanya, hujan adalah rejeki. Bukannya mau menolak berkah dari langit tapi hujan di rumahku sungguh memilukan. Kami tidak mengerti di mana rejekinya. Yang kami tahu adalah atap rumah yang menangis, tak kuasa menghalau air. Hujan seperti menertawakan rumah kami yang ringkih dan ompong bolong sana-sini.

Di dapur, di kamar dan di mana saja, hujan menyusur semua celah tanpa ampun. Ember, loyang bahkan cangkir sekepal balita kami sebar di mana-mana. Bayangkan riuhnya kami memanen air. Bayangkan paniknya kami menyelamatkan baju, buku dan kasur kumal. Bayangkan kami gigil lembap semalam suntuk. Masih sibuk dengan tingkah hujan di atap, ia kemudian menyamar jadi sungai kecil di lantai. Menggiring sendal-sendal kami ke pojok, menghanyutkan tilam dari ruang tengah ke pintu dapur.

Jika langit masih terus memeras airnya, sungai kecil berubah bandang. Ranjang, kursi dan lemari seperti menyesal tak bisa berenang. Tenggelam. Rumahku seperti akuarium dan kami seperti monyet yang melarikan diri ke atap menunggu berjam-jam sebagai manusia loteng sambil menunggu perahu karet dari kelurahan. Continue reading “Hujan, Jangan Datang ke Rumahku!”

Lelaki di Atap Malam

PERPISAHAN. Setelah mencium kaki Ibu, aku tersadar siapa lelaki yang menjemput Ibu malam ini.

Pukul 12 tengah malam. Segera Panji ke atap rumah. Seperti malam-malam sebelumnya, ia berjanji bertemu teman barunya. Seorang lelaki misterius yang muncul entah dari mana. Tak ada rasa takut. Lelaki inilah satu-satunya teman di hari-harinya yang kelam. Seseorang yang sabar mendengar ceritanya dan sesekali menghadiahi nasihat meneduhkan. Lelaki itu berjanji bertemu dengannya setiap malam di jam dan tempat yang sama, mendengar semua ceritanya asal Panji tidak bertanya tentang asal usul dirinya. Lelaki itu belum terlalu tua, mungkin sekitar tigapuluhan duga Panji. Ia tampan dengan senyum bercahaya di gelap malam. Malam ini pertemuan yang ketujuh. Continue reading “Lelaki di Atap Malam”

Ibuku Bekas Pelacur, Ibumu Bekas Apa?

SIAPA PEDULI? Pemilik telapak kaki surgaku itu ternyata bekas pelacur. Tapaknya bebas bertamu hingga ke Tanah Suci.

Ibuku bekas pelacur. Ya, pelacur! Wanita yang selalu kenyang hinaan pada siang hari tetapi selalu dicari untuk mengenyangkan lapar nafsu pria di malam hari. Ah, siapa peduli? Wanita itu tetap Ibuku. Aku juga tak peduli siapa Ayahku. Belasan tahun yang lalu Ibu telah bertobat. Kami berdua hidup bahagia dan berkecukupan. Toko sembako Ibu maju pesat. Aku tetap bersekolah dan bahkan Ibu telah pergi haji tahun lalu. Continue reading “Ibuku Bekas Pelacur, Ibumu Bekas Apa?”